Isu Terkini di Bidang ICT

SILAHKAN DITANGGAPI !  Klik ‘Leave a comment’

FPG: Penjajahan Singapura Atas TI Indonesia Menyakitkan

23 Agustus 2010 ANTARA

http://id.news.yahoo.com/antr/20100823/tpl-fpg-penjajahan-singapura-atas-ti-ind-cc08abe.html

Jakarta (ANTARA) – Anggota Fraksi Partai Golkar di Komisi I DPR RI, Fayakhun Andriadi, mengatakan penjajahan pihak Singapura atas teknologi informasi (TI) Indonesia benar-benar sangat menyakitkan.

“Jelas sekali, kedaulatan kita pada ranah `cyber` atau TI secara keseluruhan benar-benar porak-poranda, dan ini butuh atensi serius sejumlah kementerian serta perguruan tinggi,” katanya kepada ANTARA, di Jakarta, Minggu (22/8) malam.

Situasi ini, menurut dia, semakin diperparah oleh penguasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atas satelit yang sekrang berada di bawah perusahaan Indosat.

“Dan, kita tahu bersama, siapa pemilih mayoritas (sahamnya) Indosat itu kan? Bukan lagi negara kita toh? Saham mayoritasnya kini milik negara lain,” ungkapnya.

Padahal, demikian Fayakhun Andriadi, hak orbit satelit merupakan milik suatu negara, bukan `corporate`.

“Ini bahaya dan sangat serius dampaknya bagi kita, masa depan bangsa. Celaka kita jika semua urusan TI dikendalikan dari luar (Singapura) karena mereka yang menguasai saham perusahaan yang mengoperasikan satelit yang dibikin atas nama negara kita itu,” katanya menandaskan.

Buat Internet Sendiri

Untuk mengatasi begitu lemahnya RI dalam penguasaan TI, dan malah terkesan didikte pihak asing, Fayakhun Andriadi bersama fraksinya menawarkan pembuatan “internet exchange” sendiri.

“Internet exchange yang tidak melewati negera persemakmuran, yakni di Utara dengan Singapura, dan Selatan dengan Australia, lalu ke timur Laut ke Taiwan, dan ke Barat Laut dengan India,” katanya.

Dengan begitu, menurut dia, satu informasi rahasia yang utuh, dapat dipecah ke empat jurusan.

“Dalam hal ini, pemerintah RI mestinya menegakkan kedaulatan `cyber` di wilayah republik,” tegas Fayakhun Andriadi lagi.

Sebab, kenyataannya sekarang, dia menilai Republik Indonesia sebagai Negara Berdaulat, ternyata harus tunduk kepada pihak lain dalam kedaulatan di bidang `cyber` atau teknologi informasi (TI).

“Saya sependepat, bahwa saat ini RI sebagai Negara Berdaulat, ternyata tidak berdaulat di ranah `cyber` yang digunakan oleh anak bangsa sendiri,” katanya.

Ia mengatkan itu merespons pernyataan seorang pakar IT alumni sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia pada sebuah diskusi terbatas di Jakarta, akhir pekan lalu, yang mengungkapkan, RI benar-benar semakin didikte Singapura dan Malaysia dalam hal telekomunikasi di samping perbankan.

Sebagaimana berkembang dalam diskusi terbatas itu, khusus dalam soal IT, Indonesia hanya jadi ladang empuk mengais dolar dan ringgit oleh dua negeri jiran tersebut.

Ini karena semua operator seluler dan internet berbasis di dua negeri jiran ini.

Akibatnya, tiap “voucher” pulsa apa saja, juga setiap kali satu WNI buka internet (browse), langsung kena “charge” yang terhisap otomatis ke sana.

“Artinya, mereka gemuk oleh kebodohan kita. Satu hal lagi, dengan keadaan seperti sekarang, maka informasi apa pun termasuk Rahasia Negara (RHN) jadi telanjang di mata negeri `peanut` Singapura,” ujar Benni TBN, pakar IT yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi tersebut.

Golkar Desak Menkominfo

Dalam kaitan itulah, demikian Fayakhun Andriadi, Fraksi Partai Golkar (FPG) mendesak Menteri Negara Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) agar mampu berdaya upaya menegakkan kedaulatan bangsa Indonesia di ranah “cyber” milik bangsa sendiri.

“Ranah `cyber` yang dimaksud, tidak hanya meliputi `voice`, namun juga data dan data khusus. Jika tidak, tidak ada Rahasia Negara (RHN) yang tidak `telanjang` keluar,” ujarnya.

Sebelumnya, rekannya sesama anggota FPG, Paskalis Kossay, secara terpisah mengkhawatirkan adanya dugaan RHN itu bocor ke luar via Singapura.

“Kita memang sudah ketinggalan dalam hal kemajuan dan penguasaan teknologi untuk berbagai aspek, utamanya di sektor teknologi informasi (TI),” kata anggota Komisi I DPR RI(Bidang Luar Negeri, Pertahanan Keamanan, Intelijen, Komunikasi, dan Informatika) ini.

Kekhawatiran itu, lanjut dia, terus memuncak, apalagi banyak operator seluler dan internet di Tanah Air memang dikendalikan dari dua negara itu.

Berbicara melalui hubungan telepon dari Jayapura (sedang menjalankan masa reses dengan mengunjungi konstituen di daerah pemilihan), mantan Wakil Ketua DPRD Papua ini juga mengakui banyak pihak yang sepertinya belum menyadari urgennya menguasai TI, terutama terkait dengan urusan RHN maupun bisnis bernilai miliaran dolar.

“Saya kaget juga dengan info dari sebuah diskusi di Jakarta, bahwa seorang pakar IT yang alumni sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia mengungkapkan, bahwa RI benar-benar semakin didikte Singapura dan Malaysia dalam hal telekomunikasi di samping perbankan,” ungkapnya.

Singapura Kendalikan Jaringan

Sementara itu, dalam diskusi terbatas akhir pekan lalu, Benny TBN juga mengungkapkan, saat ini nyatanya lalu lintas jaring optik kita dikendalikan oleh “traffic administrator” di Singapura.

“Karenanya semua jaringan internet dan seluler harus ditarik atau `dipaksa` melewati `persimpulan utama` di kota itu. Apalagi `RHN` yang tak mereka tahu? Sialnya lagi, satelit Indosat (dulu Palapa) jadi mayoritas milik Temasek (sebuah BUMN Singapura),” ungkapnya lagi.

Akibatnya, lanjutnya, selain kita jadi seperti `telanjang` dalam informasi apa pun, juga RI cuma berfungsi sebagai pelanggan seluler.

“Posisi ini jauh di bawah fungsi distributor seluler. Jadi, kita cuma `outlet`, tukang jual produk IT mereka. Dan yang jelas, banyak perusahaan `provider` kita cuma nama `doang` perusahaannya itu milik RI dengan mayoritas saham dikuasai mereka,” ujarnya.

Merespons situasi serius ini, Paskalis Kossay mendesak para pihak berkompeten untuk segera melakukan tindakan konkret.

“Kita jangan cuma sibuk urus video porno dan konten TI, lalu tidak berjuang agar semua operator berbasis di sini. Mohon ini digumuli dan jadi atensi serius,” katanya menegaskan.

Ia mengatakan argumentasi para pakar TI itu terkesan bukan main-main, dan tidak berangkat dari argumentasi emosional, tetapi sangat rasional.

“Demi martabat dan kedaulatan NKRI, perlu segera tindakan konkret dan perbaikan ke depan secara bersama. Kami di Komisi I DPR RI tentu akan melaksanakan fungsi kewenangan kami sesuai aturan konstitusi,” katanya menandaskan.

Salah satunya, menurut Paskalis Kossay, akan mengagendakan rapat dengan menghadirkan para pakar TI untuk mendapatkan info teranyar serta “academics” sekaligus merumuskan langkah-langkah konkret terbaik bagi kepentingan negara.

Download pada 23 Agustus 2010 dari : ANTARA

http://id.news.yahoo.com/antr/20100823/tpl-fpg-penjajahan-singapura-atas-ti-ind-cc08abe.html

Pos ini dipublikasikan di 02. SISTEM INFORMASI MANAJEMEN. Tandai permalink.

8 Balasan ke Isu Terkini di Bidang ICT

  1. Hutomo berkata:

    menurut pendapat saya bila keadaannya memang seperti itu,adalah sunggguh menyakitkan bagi bangsa indonesia,bangsa kita hanya sebagai sapi perahan oleh negara lain.Ternyata selama ini tanpa kita sadari budaya konsumerisme dlm bidang IT misalnya penggunakan HP sekian persen dari harga pulsa kita disedot ke Singapura…Semua ini tidak akan terjadi bila pemerintah kita transparan dalam setiap kebijaksanaan penjualan saham ke pihak ketiga,kenapa kebijaksanaan itu tidak ditawarkan atau diusulkan terlebih dahulu kepada rakyat indonesia dalam hal ini DPR..apa mmg sudah dimintakan pertimbangan DPR belum?Kita tdk tahu…Negara kita semakin dipermainkan oleh negara2 yg notabene-nya negara tetangga/serumpun..batas perairan laut negara kita sudah diacak2,diinjak2 oleh negara lain,bahkan rahasia negara indonesia terancam bocor dan kita hanya DIAM…Moment penjajahan IT oleh negara singapura dan malaysia hrs dijadikan titik balik perlawanan kita thd para penjajah ekonomi..dalam hal ini Menkominfo dengan bantuan semua ahli2 IT Indonesia harus menemukan formula yg baik untuk mengantisipasi hal itu sehingga kedaulatan IT Indonesia dapat ditegakkan…

  2. Arrezqi berkata:

    menurut saya semakin kesini indonesia lama kelamaan akan menjadi kuli di negeri sendiri. sebagaimana contohnya dalam hal IT kita menjadi outlet / konsumen bukannya produsen padahal satelit itu milik kita. jangan sampai hal ini di biarkan saja, harus ada tindakan yang nyata dan tegas. terutama bagi para pemimpin bangsa, jangan hanya mempunyai gaji besar, fasilitas mewah namun kinerja baik hanya kamuflase saja, hasilnya adalah hanya gaji bukan keuntungan. jika gaji maka di dapat dari hasil bekerja tapi keuntungan berasal dari hasil untung dalam melakukan / membuat sesuatu yang lebih baik. kultur ini harus di ubah, jangan hanya ingin hidup saja tapi bertahan hidup, jangan kalah dan harus menjadi yang TERBAIK.

  3. Handoko berkata:

    Menyikapi masalah ini, ada bebarapa hal yang perlu di tinjau. Antara lain :

    1. Evaluasi
    Dari sisi bisnis dan persaingan Global yang mengemuka saat ini, apa yang dilakukan oleh Singapura dan Malaysia itu benar. Karena dengan kapitalisme yang menguasai sistem perekonomian dunia, yang kuat akan memakan yang lemah.Yang lemah akan didikte oleh yang kuat,dengan berbagai kepentingan dan berbagai alasan.Meski dari Etika Bisnis, menurut Ibu Wur beberapa saat yang lalu model seperti ini sangat tidak sesuai dengan Syariah Islam dalam berbisnis.
    Apa yang terjadi saat ini tidak semata=mata kesalahan Singapura atau Malaysia semata. Terjadinya penjualan satelit itu karena ada proses jual beli. Ada penjual dan pembeli. Supply dan Demand serta Market berikut transaksi juga harga menurut Ibu Trenggonowati.
    Indonesia yang diwakili elite politik dan pemerintahan jelas terlibat sangat besar dalam hal penjualan satelit ini. Tidak mungkin tiba-tiba satelit ini berpindah kepemilikan melalui penguasaan saham yang mayoritas tanpa sebuah proses.
    Inilah yang terjadi dan menjadi bahan evaluasi kita dengan tidak menyalahkan orang lain semata-mata.

    2, Tindakan perbaikan ( Corective Action )
    Sebagai Mahasiswa S2, yang secara akademik penalarannya lebih baik dibanding dengan yang lain, sebaiknya melakukan sebuah tindakan sesuai dengan bidangnya serta kemampuan individu masing -masing.
    Tidakan itu bisa berupa tindakan langsung, seperti mendukung elite Politik dari Golkar Fayakhun Andriadi dengan menciptakan ” internet exchange “, atau menciptakan sebuah sistem yang bisa memback up pertelekomunikasian bangsa kita. Hal ini bisa dilakukan secara individu maupun kelompok.
    Tindakan secara tidak langsung adalah mempengaruhi para elite politik, dari Legislatif ( DPR ) dan Eksekutif ( Pemerintah ) agar meninjau ulang sistem penguasaan saham terhadap hal-hal yang berpengaruh terhadap kerahasiaan serta kekuatan bangsa kita. Bisa melalui tulisan di berbagai media, mengadakan sebuah diskusi, seminar, atau jika perlu memobilisasi masa untuk turun ke jalan. Tujuannya adalah menyadarkan elite bangsa ini.

    3.Langkah ke depan
    Bagaimanapun juga Sumber Daya Manusia sangat berpengaruh terhadap peradaban sebuah bangsa.Sumber Daya Alam tidak semata-mata akan bisa memakmurkan rakyatnya jika tidak dikelola dengan benar. Kedua negara itu Sumber Daya Alamnya masih dibawah kita. Tetapi Sumber Daya Manusianya jauh melampaui kita. Oleh karena itu harus rajin membaca, belajar,berusaha serta mengajak yang lain untuk berbuat sesuatu mengejar ketertinggalan bangsa ini.
    Kita terlalu lama dinina bobokkan oleh ” tongkat kayu dan batu jadi tanaman…( Koes Plus )…” sehingga kita lupa..

  4. Asep Rusmana berkata:

    Sangat menyedihkan dan sekaligus membahayakan negara apabila kondisinya benar seperti itu, disamping dari segi bisnis yang merupakan lahan penghasilan yang memuaskan buat mereka, juga karna ‘RHN’ yang harusnya tertutup rapat dapat terbuka lebar dan sangat jelas dinegara lain karna kekurangan kita dalam Bidang IT..
    dan mungkin ini pula salah satu alasan kita kalah dalam diplomasi pada saat perdebatan untuk Pulau sipadan & ligitan karena mereka sudah mengerti lebih awal strategi strategi yang kita terapkan..Semoga kasus ini tidak terjadi pada Pulau Bintan yang akhir akhir ini sedang memanas..
    Saya mengharapkan Pemerintah dalam hal ini diwakili Menkominfo supaya lebih kritis dan tanggap dalam menyikapi masalah ini..dan dapat mengajak seluruh ahli IT yang ada di negeri ini untuk memperbaiki IT RI dan bisa terlepas dari ketergantungan negara tetangga.

  5. desy arijani berkata:

    Sebenarnya Indonesia banyak memiliki tenaga ahli di bidang teknologi informasi (TI). Namun lagi-lagi masalah budaya, dimana kita selalu sudah dan mudah merasa puas apabila berada pada posisi selaku pengguna, bukan selaku pencipta/pemrakarsa. Termasuk perusahaan yang bergerak dibisnis TI ini sudah merasa cukup puas jika mendapat keuntungan / laba dari sektor ini tanpa berpikir tentang harga diri bangsa yang tergadai. Mestinya ini menjadi tanggung jawab pemerintah khususnya Depkominfo, dimana pemerintah berperan penting selaku pengambil kebijakan/keputusan sehingga kita bisa menjadi tuan rumah diwilayah kita sendiri dan demi menjaga martabat serta kedaulatan NKRI. Hal yang mungkin bisa dilakukan Pemerintah kedepan antara lain : alih teknologi dan penguasaan teknologi, dimana peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia terhadap penguasaan TI harus lebih diperhatikan, peningkatan penghargaan pemerintah terhadap SDM dibidang TI ( mengapa mereka malah lebih senang bekerja di luar negeri mungkin karena merasa kurang dihargai di negeri sendiri), dan yang penting memperbaiki sikap/ perilaku untuk tidak hanya puas sebagai pengguna saja, tetapi menjadi tuan di wilayah kita sendiri.

  6. agung prihantoro berkata:

    Indonesia seharusnya bisa menjadi negara yang maju dalam bidang IT, terbukti sudah banyak pakar-pakar IT di Indonesia. Kita bisa belajar untuk mengembangkan teknologi IT, juga bisa mencoba untuk membuat produk-produk IT. Namun, kenyatannya masih kalah dengan Singapura. Hal ini tebukti, banyak produk-produk IT Singapura yang beredar di Indonesia. Mari kita tingkatkan semangat kemandirian dan mampu bersaing dengan bangsa yang lain dalam bidang IT. masih ingat dalam ingatan kita, saham Indosat di beli oleh Singapura, terus banyak lagi saham perusahaan-perusahaan lainnya yang di beli pihak asing. Memang saat ini kita juga lagi bersitegang dengan Malaysia, di mana mereka sudah melakukan banyak pelanggaran ke wilayah kita. Hal ini membuktikan teknologi IT kita belum mampu mendeteksi secara maksimal. Banyak lagi penyusupan yang mereka lakukan ke Indonesia, sungguh menyedihkan sekali, di Indonesia sekaramg kebanjiran produk-produk IT dari luar negeri. Sudah saatnya kita buktikn bisa nmembuat produk-produk IT sendiri. Bahkan pihak DPR menginginkan agar duta besar kita di tarik saja dari Malaysia. Ini sebagai wujud bahwa kita tegas terhadap pihak asing yang berani kepada Indonesia. Sudah saatnya kualitas SDM kita di benahi, karena korupsi sudah membudaya di negeri ini. Ironis memang, makanya teknologi IT kita tertinggal jauh dengan Singapura dan negara-negara lainnya. Seharusya kita bisa membuat anggaran untuk mengembangkan IT kita. Banyak SDM Indonesia yang bekerja di luar negeri tapi cuma sebagai buruh atau pembantu. Hal ini membuktikan bahwa kualitas SDM kita rendah. Untuk menjadi negara yang maju kualitas SDM harus di benahi, moralitas SDM perlu di awasi agar tidak korupsi atau kurang disiplin dalam kinerja mereka. Jika semuanya baik, bangsa ini akan bisa bersaing dengan bangsa yang lain. Kita akan di hargai oleh negara lain. Mulai sekarang kita budayakan sikap disiplin, bekerja keras serta sikap mandiri dan yang terpenting KUALITAS dan MORALITAS SDM. Insyaallah kita bisa maju dan menjadi negara yang berdaulat penuh…

  7. Farida Barik berkata:

    Menggarisbawahi pernyataan anggota DPR RI, bahwa perlu segera dibangun kerjasama yang baik antara pakar TI dan pihak2 yang berkompeten.
    Juga harus segera dirumuskan “Langkah-langkah yang konkret” dalam penanganan masalah TI. Diantaranya mungkin bisa dengan ketersediaan anggaran yang cukup untuk kementerian kominfo dalam penanganan masalah TI. Juga para ahli/pakar2 TI, selayaknya diberi imbalan dan jasa yang lebih atas keahlian mereka. Dana/anggaran memang bukan segalanya untuk sebuah kemajuan. SDM yang handal juga sangat diperlukan untuk terwujud dan berkembangnya sebuah realisasi gagasan. Namun, akan sangat ironis seandainya kominfo berdalih tidak cukup anggaran untuk realisasi pengembangan TI.
    Dengan adanya perhatian pihak yang berkompeten, diharapkan, para anak bangsa yang menguasai TI, tidak sekedar mengais rejeki menjadi tenaga di dan untuk negara lain, melainkan mereka juga merasa terpanggil untuk menjadikan negaranya menjadi lebih baik dan terbaik.

  8. nurhayati berkata:

    Kalau menurut pendapat saya Indonesia adalah negara yang besar dan jumlah penduduknyapun banyak,jadi ini merupakan suatu kesalahan dan mengapa penguasaan saham mayoritas bisa jatuh ketangan Singapur. Apakah pada waktu itu tidak terfikirkan kalau nantinya penguasaan “cyber” atau teknologi informasi (TI) bisa mempengaruhi kedulatan Negara Indonesia. Dan negara Indonesia nantinya akan hanya sebagai outlet saja dari produk-produk TI dan keuntungan terbesar akan diambil semua oleh Singapur dan Indonesia lama kelamaan akan menjadi kuli dinegaranya sendiri, dengan adanya itu maka kita harus bangkit karena Indonesia mempunyai banyak pakar-pakar TI yang handal dan merekalah yang harus kita dukung dari berbagai lembaga dan Eksekutif serta para elit politik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s