Keindahan Dan Kecantikan Seorang Wanita

Keindahan Dan Kecantikan Seorang Wanita

Malu pada seorang wanita itu sebenarnya di situlah letaknya keindahan dan kecantikannya
Sopan santun, berakhlak mulia, maruahnya dijaga karana ia adalah harga dirinya
Pandai bergaul tapi tidak bebas dan terbebas

Pakaiannya rapi tapi tidak menampakkan terlalu mewah atau menunjuk-nunjuk dan tidak pula terlalu rendah mutunya kecuali tidak ada
Berbudi bahasa, peramah dan mesra, tapi tidak mengada-ngada
Auratnya dijaga tidak dibukakan kepada yang bukan muhramnya
Matanya selalu ditundukkan terutama kepada laki-laki ajnabi kecuali perlu saja
Bahasa bersahaja, mengikut fitrah asal mulanya, tidak dibuat-buat atau mengada-ngada
Percakapannya dijaga, tidak menyindir-nyindir atau mengata-ngata orang atau memuji-muji diri dan keturunannya
Suaminya dihormati dan ditaatinya, keluarga suaminya dimuliakannya
Berkasih sayang dan berlemah lembut dengan anak-anaknya tetapi tidak terlalu dimanja dan dimewah-mewahkan
Rajin bekerja dan merapikan rumahtangga budaya hidupnya
Beribadah dengan Tuhan tidak diabaikan bahkan istiqamah ibadahnya
Tetangga dan kehormatan tetangga sangat dijaga, macam menjaga keluarganya
Ketika berjalan jauh bersama muhramnya atau bersama 3 orang wanita yang dapat dipercaya
Tidak tamak, tidak bakhil, senantiasa baik sangka  dengan suaminya
Apatah lagi cemburu dan prejudis dengan suaminya tidak ada di benak kepalanya
Jika suaminya susah, sanggup bersama-sama susah dengan suaminya
Tidak suka meminta-minta dengan suaminya kecuali  sangat perlu saja
Tidak suka bertanya-tanya suaminya ketika pulang, “Abang ke mana? Dari mana?
Buat apa di sana? Mengapa lambat pulang?”
Suaminya balik disambut dan dilayan dengan baik
Di waktu itu dia tahu dan faham apa keperluan suaminya
Hingga sikapnya itu suaminya senang, tenang, terhibur dan lapang fikirannya
Tidak meninggikan suara dengan suaminya, kalau dia bersalah cepat meminta maaf dengan suaminya
Kesalahan dan kekeliruan suaminya dilupa-lupakan saja
Tidak mengungkit-ungkit suaminya, sekalipun di waktu dia tidak senang dengan suaminya
Itulah kecantikan dan keindahan seorang wanita
Manalah hendak kita cari wanita semacam ini sekarang?

13.3.2004 – 2

Sajak Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad Attamimi

Pos ini dipublikasikan di Motivasi. Tandai permalink.

4 Balasan ke Keindahan Dan Kecantikan Seorang Wanita

  1. TRI WAHYU KUNINGSIH berkata:

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Wanita yang seperti itu ada tapi memang sulit dicari….anggap saja 1 : 1000000 orang.
    Kebanyakan para wanita salah dalam mengartikan “emansipasi wanita”. Mereka menganggap emansipasi wanita berarti ajang untuk mengalahkan para pria dalam hal apapun.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

  2. Sangga Pramana Wicaksana berkata:

    Assalamualaikum, Wr.Wb

    terima kasih pak masukan bagi para pria muslim yang mencari wanita Muslimah . .
    hehe

  3. Novi Effiana Putri berkata:

    Assalamu ‘alaikum wr.wb

    Saya sangat terenyuh ketika membaca tulisan ini,.

    Wanita memiliki keindahan dan kecantikan yang sepetri Pak sumirin tulis…. tetapi saya sangat sedih melihat apa yang ada di sekitar saya, ketika banyak wanita – wanita yang tidak bisa menjaga keindahan dan kecantikannya itu. Seperti akrab dengan dengan kehidupan malam, pergaulan bebas, mengumbar aurat, durhaka pada orang tua dan suami demi mencari kesenangan sendiri…
    Padahal didalam Al-qur’an tertulis ayat – ayat yang indah tentang wanita…..
    Apalagi wanita yang mengambil pasangan orang lain….

    Astagfirullah….
    dunia memang semakin tua dan goyah……

    Sebagai seorang wanita sayapun tidak sempurna dan sering kali melakukan dosa yang tidak terhitung…. Dan saya berharap, saya bisa jadi seorang wanita yang bisa membahagiakan dan membanggakan orang tua saya,. bernakti pada suami dan menjadi ibu yang baik bagi anak – anak saya kelak, dan wanita karier yang bertanggung jawab pada pekerjaan,..
    Jujur, pasti sangat sulit…. tetapi saya akan berusaha semaksimal mungkin… amien

    Wassalamu ‘alaikum wr.wb

  4. uut aguns septiarto berkata:

    Assalamu’alaikum,

    Sesungguhnya wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan pengaruh yang besar dalam kehidupan setiap muslim. Dia akan menjadi madrasah pertama dalam membangun masyarakat yang shalih, tatkala dia berjalan di atas petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Karena berpegang dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari kesesatan dalam segala hal. Sungguh telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an betapa pentingnya peran wanita, baik sebagai ibu, istri, saudara perempuan, mapun sebagai anak. Demikian pula yang berkenaan dengan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. Adanya hal-hal tersebut juga telah dijelaskan dalam sunnah Rasul.
    Peran wanita dikatakan penting karena banyak beban-beban berat yang harus dihadapinya, bahkan beban-beban yang semestinya dipikul oleh pria. Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi kita untuk berterima kasih kepada ibu, berbakti kepadanya, dan santun dalam bersikap kepadanya. Kedudukan ibu terhadap anak-anaknya lebih didahulukan daripada kedudukan ayah. Ini disebutkan dalam firman Allah,
    “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.” (QS. Luqman: 14)
    Begitu pula dalam firman-Nya, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
    Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari, Kitab al-Adab no. 5971 juga Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah no. 2548)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s