Peringkat Iman

PERINGKAT IMAN

.

FALSAFAH sekulerisme yang diamalkan hari ini telah membedakan manusia menurut kelas-kelas tertentu, menurut kedudukan pangkat dan harta kekayaan. Siapa saja yang kaya dan tinggi pangkatnya dianggap mulia dan terhormat serta layak diberi sanjungan. Sebaliknya siapa saja yang miskin dan rendah pangkatnya langsung dianggap hina, tidak berguna dan dapat dikesampingkan.

Itulah sistem yang sedang kita laksanakan dan usahakan bersama sekarang ini. Hasilnya, melalui pengalaman bersama, kita telah membuat kesimpulan bahwa meletakkan manusia sebagai hina atau mulia atas dasar miskin atau kaya adalah tidak sepatutnya, tidak adil dan tidak dapat diterima oleh akal. Sebabnya:

  1. Hal itu akan mewujudkan jurang yang memisahkan orang miskin dan tidak berpangkat dengan orang kaya dan berpangkat. Jurang itu juga melahirkan rasa tidak hormat-menghormati dan tidak percaya-mempercayai antara kedua golongan. Bahkan sifat hasad dengki dan dendam kesumat akan tumbuh subur di dalam jiwa kedua pihak. Akibatnya, sebagaimana yang kita saksikan hari ini, berbagai kasus kejahatan memenuhi kehidupan masyarakat.
  2. Apabila uang, pangkat dan kedudukan yang diperebutkan, maka budi luhur dan akhlak mulia akan diabaikan. Hasilnya kehidupan manusia menjadi liar dan kejam, seperti hewan-hewan yang tidak berakal.
  3. Tamadun (peradaban) yang didasarkan pada uang dan kedudukan pangkat hanya melahirkan manusia yang pasif, penakut dan suka berangan-angan. Bukan saja jiwa dan pikiran mereka tidak merdeka, bahkan mereka cukup lemah untuk mempertahankan kedaulatan prinsip, budaya bangsa dan agama.

Apa kata Islam dalam menghadapi persoalan itu dan mampukah Islam menyelesaikan masalah yang disebutkan di atas?

Firman Allah:

Terjemahan: Sesungguhnya semulia-mulia manusia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu.
(Al Hujurat: 13)

Sabda Rasulullah SAW:

Terjemahan: “Sesungguhnya Rasulullah berkata kepada Abu Zar: Lihatlah! Sesungguhnya engkau tidak dinilai kemulian karena kulit merah dan tidak juga karena hitam sebaliknya mulianya kamu dengan sebab takwa.”
Sabda Rasulullah SAW lagi:

Terjemahan: Orang mukmin itu bersaudara tidak ada kelebihan seseorang dari seseorang yang lain melainkan takwa.
(Riwayat At Tabrani)

Sabdanya lagi:

Terjemahan: Kamu semua dari keturunan Nabi Adam, dan Adam itu diciptakan dari tanah, tidak ada kelebihan orang Arab dari orang ‘ajam (selain Arab) kecuali dengan sifat takwa.
Menurut Islam, mulia atau hinanya manusia itu dikategorikan menurut taraf iman masing-masing. Siapa yang tinggi imannya dialah yang paling mulia dalam pandangan Islam. Siapa yang rendah imannya maka rendah kedudukannya dalam pandangan Islam. Dan siapa yang tidak memiliki iman sama sekali maka dialah manusia yang paling hina menurut Islam.

Pembagian yang didasarkan pada derajat keimanan adalah cara pembagian yang paling tepat dan adil. Banyak sebab mengapa saya berkata demikian. Di antaranya adalah:

  1. Iman adalah musuh bebuyutan nafsu dan syaitan. Karena itu iman tidak mungkin bekerja sama dengan nafsu dan syaitan. Segala sifat-sifat mazmumah seperti dengki, dendam, pemarah dan lain-lain akan terhapus bila iman bertakhta di hati. Jadi apabila kemuliaan manusia diukur dengan ketinggian iman, bukan dengan pangkat dan harta, penyakit dengki, dendam dan lain-lain itu tidak akan menyebar dalam masyarakat. Bila yang diperebutkan adalah iman, manusia tidak akan bercakaran lagi. Bila yang dipertandingkan adalah iman, manusia tidak akan merampok lagi. Kasus kejahatan yang banyak terjadi sekarang berasal dari dengki dan dendam kesumat yang dinyalakan oleh syaitan, untuk membantu nafsu gila pangkat dan harta yang diperebutkan masyarakat sekarang ini.
  2. Orang yang kuat imannya adalah orang yang baik akhlaknya. Apabila orang-orang seperti itu diberi penghormatan sebagai orang yang termulia dalam masyarakat, secara tidak langsung seluruh anggota-anggota masyarakat akan terdidik untuk menerima dan mengamalkan kehidupan beragama dan berakhlak mulia.
  3. Penyatuan umat dalam arti yang sebenarnya adalah bersatunya mereka yang mempunyai pemahaman, keyakinan dan cita-cita yang sama. Bila Islam mengkategorikan manusia menurut nilai iman, maknanya Islam ingin mengumpulkan dan menyatukan orang-orang yang beriman dalam satu kesatuan. Apabila hal itu terlaksana, maka akan banyak kepentingan-kepentingan masyarakat Islam yang dapat ditegakkan.

Memang, lain orang lain taraf imannya. Artinya taraf iman seseorang tidak akan sama dengan taraf iman yang dicapai oleh orang lain. Karena itu, Islam membagi iman menjadi lima tingkatan. Artinya seorang yang Islam mesti termasuk dalam salah satu tingkatan ini:

  1. Iman Taqlid
  2. Iman llmu
  3. Iman ‘Ayan
  4. Iman Hak
  5. Iman Hakikat

Supaya mudah untuk kita ketahui di peringkat iman manakah kita berada, akan saya terangkan maksud dan sifat tiap-tiap jenis iman itu menurut teori ilmiah dalam Islam.

1. IMAN TAQLID

Iman taqlid adalah iman ikut-ikutan. Artinya orang yang memiliki iman taqlid, adalah orang yang beriman dengan semua rukun iman karena mengikuti orang lain. Apa yang dikatakan orang, dia pun berkata begitu.

Pegangan Islamnya tidak kuat, prinsip Islamnya tidak kukuh. Dia tidak memiliki alasan yang kuat mengapa dia beriman. Kalau ditanya, “Apa bukti wujudnya Allah?” Dia hanya mampu menjawab, “Saya mendengar semua orang mengatakan Allah itu ada, maka saya pun mengatakan bahwa Allah itu ada !”

Begitulah taraf keyakinan orang yang memiliki iman taqlid. Dia tidak ada hujah untuk membuktikan keyakinannya, tidak ada dalil untuk menerangkan apa yang diyakininya.

Siapa orang-orang yang memiliki iman taqlid itu? Kita mungkin memperkirakan segelintir orang-orang bodoh, dungu, yang tidak sekolah dan yang tidak ada kedudukan apa-apa dalam masyarakat. Bukan begitu! Sebenarnya mayoritas umat Islam hari ini, baik berpangkat atau tidak, miskin atau kaya, bodoh atau bijak adalah orang-orang yang beriman taqlid. Seperti halnya agama Islam yang mereka anut itu karena kebetulan mereka dilahirkan oleh ibu bapak yang beragama Islam. Karena itu iman yang ada juga karena terdorong dan terpaksa oleh kebiasaan dan keadaan sejak lahir. Contohnya, bila kita tanya mereka :

“Apa dalil Allah itu bersifat sama’ (mendengar)?”
“Apa dalil Malaikat itu ada?”
“Apa dalil Muhammad itu Rasulullah?”
“Apa dalil Al Quran itu Kitabullah?”
“Apa dalil Qada dan Qadar itu dari Allah?”

Mereka hanya akan memberi jawaban dalam bentuk senyuman. Karena mereka sebenarnya tidak tahu. Mereka tidak pernah memikirkan dan mempelajarinya! Kalaupun belajar, hanya dilakukan sambil lalu saja, waktu terdesak saja dan tidak untuk dihayati. Waktu, tenaga dan uang mereka habiskan untuk mengkaji ilmu-ilmu lain. Mereka lebih tahu tentang anatomi seekor kuman yang sangat kecil daripada mengetahui tentang Allah yang Maha Besar. Mereka lebih pandai tentang bentuk bumi yang sulit dan rumit daripada suasana Kiamat yang dahsyat. Mereka lebih yakin pada teori-teori ilmu pengetahuan daripada janji-janji Allah yang tercantum dalam Al Quranul Karim.

Akibatnya, mayoritas umat Islam hari ini tidak sayang pada Islam. Tidak cinta pada Allah dan tidak taat pada hukum-hukum-Nya. Malah secara membabi-buta menentang dan memusuhi agama mereka sendiri.

Sifat orang-orang yang beriman taqlid terhadap agama Islam seperti sifat daun pisang kering yang bergerak mengikut arah pergerakan angin. Kalau angin kuat ke utara, mereka bergerak ke utara, sebaliknya kalau angin bertiup ke selatan, mereka bergerak ke selatan. Kalau musim berjoget, berjoget jugalah mereka. Kalau musim maulid, bermaulid jugalah mereka. Dan kalau musim dakwah, berdakwah jugalah mereka. Bukannya mereka tidak tahu bahwa Islam tidak suka pada sikap seperti itu, tetapi iman yang ada tidak mampu membendung keinginan nafsu yang liar itu. Mereka juga tidak sanggup menghadapi ujian hidup.

Sangat perlu disadari bahwa kalau keadaan seperti itu dibiarkan terus menerus, umat Islam akan menjadi rendah dan hina di mata musuh. Sehingga akan mudah untuk diperjualbelikan, digunakan sebagai alat untuk menjayakan sistem hidup dan ideologi musuh Islam.

Mengikut qaul(dalil) yang paling jelas, iman taqlid itu tidak sah. Tetapi ada satu qaul yang memberikan kelonggaran dengan mengatakan bagi seseorang yang sangat bodoh, yang kalaupun belajar memang tidak akan bisa, maka wajarlah jika beriman taqlid. Jadi dalam keadaan seperti itu iman taqlid adalah sah. Tetapi bagi orang-orang yang pintar, cerdik dan mampu berpikir, hanya saja tidak belajar agama sehingga beriman taqlid, maka tidak sah lah imannya. Artinya Allah tidak mengakui dia sebagai orang yang beriman.

Apabila iman tidak diterima, maka seluruh amalannya juga tidak akan diterima. Shalat, puasa, zakat, haji, jihad, zikir, wirid dan ibadah-ibadah lain walau sebanyak dan sebesar apa pun, tidak akan dinilai oleh Allah. Kalau orang itu meninggal dalam keadaan taqlid dan tidak berniat menuntut ilmu untuk menambah iman, maka ia meninggal sebagai orang kafir. Tempatnya dalam Neraka, kekal abadi selama-lamanya.

2. IMAN ILMU

Iman ilmu adalah iman yang berdasarkan ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu keimanan yang digariskan dalam agama Islam. Ilmu-ilmu lain walau sebanyak apa pun tidak dapat menghasilkan iman ilmu. Jadi seorang yang beriman ilmu itu adalah orang yang telah mempelajari secara resmi tentang Allah, malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, hari Kiamat dan lain-lain yang diwajibkan. Apabila ilmunya itu betul-betul dipahami  dan sungguh-sungguh diyakini, ia menjadi seorang yang mencapai taraf iman ilmu.

Batas paling minimal yang perlu dipelajari oleh seseorang sehingga menempatkan ia di taraf iman ilmu adalah:

  • 20 sifat yang wajib bagi Allah SWT dengan dalil-dalil aqli (akal) dan naqli (Al Quran) secara ijmali (secara ringkas, tanpa uraian yang terperinci).
  • 20 sifat yang mustahil bagi Allah dengan dalil-dalil aqli dan naqli secara ijmali.
  • 1 sifat yang mubah bagi Allah dengan dalil-dalil aqli dan naqli secara ijmali.
  • 4 sifat yang wajib bagi Rasul, 4 sifat yang mustahil bagi Rasul dan satu sifat yang mubah bagi Rasul dengan dalil-dalil aqli dan naqli secara ijmali.

Di dalam 50 sifat (41 sifat ketuhanan dan 9 sifat kerasulan) yang tersebut di atas tersimpul kesimpulan iman–’Aqaaidul Iman. Kalimat syahadah yang menjadi syarat Islam dan imannya seseorang itu didasarkan pada empat hal penting yang telah disebutkan di atas.

Di dalam dua kalimat syahadat itulah terdapat kesimpulan iman. Apabila seorang mengucapkan kalimat itu dengan ilmu dan kepahaman seperti yang dimaksudkan di atas, maka imannya menjadi iman ilmu.

Orang yang beriman ilmu, keyakinannya berasas dan berakar kuat pada pikirannya. Iktiqad orang beriman ilmu disertai dalil yang kuat serta pegangan yang kukuh. Karena itu mereka tidak mudah dihanyutkan oleh idealisme lain. Mereka bukan saja tidak tunduk pada ide-ide yang anti-ketuhanan, tetapi juga mampu menentang ide-ide itu dengan hujah-hujah yang menjadi keyakinan mereka selama ini. Pikiran mereka tidak akan menerima keraguan apapun dan rasa was-was yang ditimbulkan oleh pihak manapun. Mereka benar-benar berada dalam pikiran tauhid yang mantap dan unggul.

Siapakah orang-orang itu? Supaya adil, saya katakan bahwa  kebanyakan mereka terdiri dari pelajar dan mantan pelajar sekolah-sekolah yang memberi keutamaan pada ilmu agama dan ketuhanan. Sekolah-sekolah yang didirikan khusus untuk mendalami pengajian agama dan ketuhanan, yang bersumber pada Al Quran dan Sunnah. Hanya golongan itu yang dapat mendalami agama secara teratur dan lengkap. Itu pun tidak semua dari mereka dapat menerapkan keyakinannya dalam beragama. Banyak yang lalai kemudian dihanyutkan oleh arus sekulerisme yang kuat menantang!

Barang siapa yang beriman ilmu, imannya hanya berada dalam pikiran, tidak berada dalam hati. Semua yang diyakini masih dalam bentuk pengetahuan, bukan dalam bentuk penjiwaan. Dia hanya memiliki pikiran Islamiah, bukan jiwa Islamiah. Dia belum betul-betul mengenal Allah, baru sekedar mengetahui adanya Allah (mengetahui dengan akal, mengenal dengan hati). Karena itu dia tidak merasakan adanya Allah dan tidak takut pada Allah. Hatinya tidak memiliki hubungan dengan Allah, tidak terpaut pada Allah,  tidak merasakan kebesaran Allah.  Karena itu ia tidak sayang dan tidak rindu pada Allah. Kalaupun ingat kepada Allah, hanyalah sewaktu-waktu, di saat-saat tertentu dan dipaksakan.

Pendek kata, mereka masih berani mendurhakai Allah. Banyak suruhan Allah yang tidak dikerjakan di lain fihak banyak larangan Allah yang dibuat. Mereka masih memiliki keinginan membuat dosa. Apakah mereka tidak sadar? Mereka sadar! Segala kedurhakaan itu mereka lakukan dalam keadaan sadar. Mereka tahu mereka berdosa. Tetapi kenapa dilakukan juga? Sebab kekuatan iman ilmu yang mereka miliki tidak mampu melawan nafsu dan syaitan yang menjadi raja di hati mereka. Iman yang ada tidak sekuat nafsu yang membabi buta. Karena itu mereka selalu terkulai dalam kelemahan dan dosa.

Mari kita lihat beberapa bukti yang menunjukkan orang-orang yang beriman ilmu tidak mampu melawan nafsu:

  1. Ahli-ahli agama yang bergelar mufti, kyai, imam, guru, ustaz, ustazah dan lain-lain kebanyakan terlibat dalam riba. Walaupun mereka tidak mendirikan sistem riba, tetapi mereka memberi bantuan moral dan material kepada sistem riba, yang didirikan dan diperjuangkan oleh kapitalis. Bila kita ikuti ceramah-ceramah mereka, mereka pasti mengutuk pemberi dan penerima riba. Tetapi dalam pelaksanaan hidup mereka, nama mereka ikut terdaftar sebagai pemberi riba. Kenapa hal itu terjadi? Nafsu dan syaitan mengajak mereka mengambil keuntungan dan kemudahan duniawi yang terdapat dalam sistem riba. Walaupun mereka tahu pekerjaan itu salah, tetapi kekuatan pengetahuan tentu tidak sehebat kekuatan kemauan. Karena itu secara sadar mereka durhaka pada Allah.
  2. Golongan yang sama juga, yaitu golongan yang pengajian tauhidnya begitu tinggi. Karena pengetahuan yang tinggi, mereka cukup berani mengkritik dasar dan sistem pelajaran sekuler yang dilaksanakan di sekolah, akademi serta universitas  dalam dan luar negeri, yang katanya tidak Islami.

    Akan tetapi ketika menyekolahkan anak, mereka menyekolahkan ke sekolah-sekolah yang katanya mereka benci itu. Dari sekolah rendah, hingga menengah terus ke universitas dalam atau luar negeri, mereka berlomba-lomba bersama orang lain, membantu dan menjayakan sistem sekuler. Anak mereka tidak diajar dengan Al Quran dan Hadits, juga tentang Iman dan Islam. Anak mereka ikut terdidik dengan kehidupan materialistis dan akhlak yang liar. Bukannya mereka tidak sadar tetapi mereka membiarkan dan merelakan. Maknanya mereka sengaja melupakan kehendak Islam. Sebabnya tidak lain, yaitu karena nafsu dan syaitan yang menginginkan kekayaan dan jabatan, hingga melupakan Islam. Akhirnya mereka terjebak dalam kancah kesesatan dan kedurhakaan pada Tuhan.

  3. Golongan ahli agama, yang telah sampai ke taraf  BA., MA., dan Ph.D. karena cukup mengetahui seluk-beluk agama, tetapi telah ikut serta dalam kegiatan membuka aurat dan pergaulan bebas yang meraja lela dewasa ini. Mereka membaca ayat  Al Quran dan Hadits yang memerintahkan tutup aurat. Mereka menceramahkan, aurat lelaki antara pusat dan lutut dan aurat wanita seluruh tubuh. Tetapi anak dan isteri, mereka biarkan ikut perkembangan mode. Mereka menerima falsafah jahiliah yang memandang cantik pakaian yang tidak menutup aurat, bahkan sebagiannya separuh bugil. Mereka ikut serta kegiatan ‘anti tutup aurat’ yang dicanangkan oleh golongan anti agama, yang ingin melihat wanita selalu terbuka auratnya. Kenapa? Karena nafsu mengajak ke arah itu dan syaitan pun mendorong ke situ. Kekuatan iman yang ada tidak mampu melawan kekuatan bisikan serta hasutan syaitan dan nafsu. Hasilnya mereka durhaka pada Tuhan. Berdosalah. Maka Nerakalah pembalasan dari Allah.

Sebagai bukti yang lebih jelas akan saya jelaskan satu cerita nyata yang sedang dan telah terjadi sekarang ini. Ketika berkesempatan melawat ke salah satu negara Islam di Timur Tengah, saya ditemui oleh mahasiswa Malaysia di sana. Salah seorang dari mereka, yaitu mahasiswa jurusan syariat telah memberitahu saya bahwa salah seorang dari dosen yang mengajar ilmu fiqih dan bergelar profesor adalah seorang yang tidak shalat!

Satu lagi sifat yang ada pada golongan iman ilmu adalah tidak sabar ketika berhadapan dengan ujian. Tidak redha dengan ketentuan, ketika Allah uji dengan kesusahan dan kepahitan hidup, mereka cemas, gelisah, hilang pertimbangan dan bertindak di luar syariat. Sebaliknya ketika Allah uji dengan kesenangan dan kemewahan hidup, mereka lupa daratan, hilang pertimbangan serta mudah terjebak dalam tipuan nafsu dan syaitan.

Satu jalan yang dapat menyelamatkan orang-orang beriman ilmu dari siksa api neraka adalah dengan memperbanyak taubat, menyesal atas kelemahan serta memohon keampunan dan belas kasihan dari Allah SWT. Kalau Allah maafkan sebelum meninggal, insya Allah ia selamat dari api Neraka. Jika tidak, pasti terjadi janji Allah yaitu golongan iman ilmu dimasukkan dulu ke dalam Neraka  sebelum ke Syurga.

Cukuplah tiga contoh tersebut untuk panduan kita mengenal sifat iman ilmu. Dengan contoh itu saya bukan menuduh ahli-ahli agama kita semua beriman ilmu. Saya dan siapa saja tidak bisa mengetahui taraf iman apa yang ada di hati orang lain. Cuma, contoh-contoh tadi menerangkan bahwa apabila seseorang yang memiliki pengetahuan agama, tetapi masih sengaja melanggar perintah Allah maka dia berada pada taraf iman ilmu. Dan karena kebetulan keadaan itu merupakan pengalaman pribadi dan ada di depan mata kita, tentu tidak salah bila saya menyebutkannya di sini. Kalau tidak akan menjadi kesalahan dan kelalaian saya jika perkara sepenting itu tidak disebutkan di sini. Rasulullah SAW mengingatkan hal itu dengan sabda baginda:

Terjemahannya: Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah mencegahnya dengan tangannya. Sekiranya tidak berkuasa maka cegahlah dengan lidahnya. Jika kamu tidak juga berkuasa hendaklah mencegah dengan hati. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.
(Riwayat: Muslim)

Orang-orang yang mengetahui tentang agama, tahu tanggung jawabnya sebagai seorang Muslim, sadar pula tentang akibat yang akan menimpa kalau tanggung jawab itu diabaikan tetapi  berdiam diri, tidak bertindak melaksanakan tugas itu, akan senantiasa mendapat kemurkaan dari Allah.

Firman Allah:

Terjemahan: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan. Amat besar kebencian di sisi Allah bila kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.
(As Saf: 2-3)

Penyakit sosial yang dahsyat menimpa umat Islam sekarang ini sebagian besar akibat kelalaian pendukung-pendukung agama menunaikan amanah yang dipikulkan padanya. Karena golongan yang diharapkan mewarisi perjuangan Rasulullah tidak memperjuangkan apa yang diwarisinya itu, maka terjadilah apa yang Allah janjikan dan itu pernah disabdakan oleh Rasulullah untuk menjawab pertanyaan Zainab:

Terjemahan: Wahai Rasulullah, apakah kami akan dimusnahkan juga sedangkan bersama kami masih ada orang soleh (ulama)? Sabda Rasulullah: Ya jika maksiat merajalela.
(Riwayat Muslim)

Orang-orang yang beriman ilmu belum bisa diharapkan peranannya dalam menegakkan agama. Imannya belum cukup kuat untuk betul-betul berani dan mampu menentang berbagai paham dan amalan anti Tuhan yang telah berakar dalam masyarakat kita.

Sangat sesuai kita mengingat apa yang diingatkan oleh pengarang Matan Zubad dalam nazamnya yang artinya:

Terjemahannya: “Orang yang alim tetapi tidak beramal dengan ilmunya akan diazab lebih dahulu dari penyembah berhala”.
Rasulullah SAW telah bersabda:

Terjemahan: Akan berlaku di atas kamu di akhir zaman ahli-ahli ibadahnya jahil dan alim ulamanya fasik.
Sabda Rasulullah lagi:

Terjemahan: Apabila tergelincir orang alim, tergelincirlah alam.

3. IMAN ‘AYAN

Peringkat iman yang ketiga adalah iman ayan. Tarafnya lebih tinggi dari taraf iman ilmu. Maknanya orang yang beriman ilmu, kemudian rajin mengerjakan ibadah-ibadah yang dapat menambahkan iman, akan meningkatkan taraf imannya menjadi iman ayan.

Perlu diingat bahwa seseorang yang beriman taqlid akan meningkat ke taraf iman ilmu dengan cara belajar, menambah ilmu. Tetapi seseorang yang beriman ilmu akan meningkat ke taraf iman ayan dengan cara mengamalkan ilmu-ilmu yang telah diketahuinya dengan paham dan khusyuk.

Kalau iman ilmu, keyakinan hanya ada di pikiran, maka iman ayan keyakinannya bertempat di hati. Melalui belajar, iman akan meresap ke pikiran, sedangkan melalui ibadah yang khusyuk serta memikirkan kebesaran Allah, iman akan meresap ke hati.

Seseorang yang mencapai taraf iman ayan, keyakinannya pada Allah, malaikat dan rukun iman yang lain telah memenuhi ruang pikiran dan hatinya. Dia bukan sekedar tahu tetapi betul-betul kenal dengan Allah, malaikat dan lain-lain.

Dia bukan sekedar menyadari dengan akal adanya  Allah tetapi merasakan dengan hati wujudnya Allah. Karena itu dia mempunyai hubungan hati dengan Allah dan senantiasa mengingat Allah.

Orang seperti itulah yang Allah maksudkan dalam Firman-Nya:

Terjemahan: Mereka yang senantiasa mengingat Allah dalam waktu berdiri, waktu duduk dan waktu berbaring dan mereka senantiasa memikirkan tentang kejadian langit dan bumi, seraya mereka berkata,”Wahai Tuhan kami, tidak Engkau jadikan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, jauhilah kami dari azab Neraka”.
(Ali Imran: 191)

Setiap kali mereka merenung melihat alam yang luas, dengan segala bentuk dan rupa, mereka berpikir tentang Allah, pencipta yang menjadikan semua itu. Lalu terasalah oleh hati mereka betapa Maha Bijaksana, Maha Kuasa dan Maha Gagahnya Allah. Terasa juga kejahilan dan kelemahan diri di bawah penglihatan Allah. Karena itu hati membisikkan, mengajak diri menyembah, menyerah dan mengabdikan diri pada Allah tanpa syak dan ragu lagi. Sebagian dari sifat itu Allah ceritakan dalam Al Quranul Karim:

Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan diri mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.
(Al Hujurat:15)

Selanjutnya Allah menerangkan sifat orang-orang mukmin itu dalam Surah Al Anfal:

Terjemahan: Bahwasanya orang mukmin yang sebenarnya itu, apabila disebut saja nama Allah, gemetarlah hati-hati mereka dan apabila dibaca ayat-ayat Al Quran, bertambahlah keimanan mereka dan hanya kepada Tuhan mereka (Allah) sajalah mereka menyerah diri.
(Al Anfal: 2)

Sikap tawakal atau penyerahan pada Allah hanya mungkin lahir di hati orang-orang yang betul-betul kenal, takut dan harap pada Allah. Perasaan itulah yang mendorongnya agar benar-benar menjadi hamba dan rela dihambakan oleh Allah. Semua perintah Allah, kecil atau besar dilaksanakan dengan penuh ketaatan. Dan semua larangan Allah sesuai atau tidak dengan nafsunya ditinggalkan dengan penuh kerelaan. Hal itu juga ada tercantum dalam Al Quran:

Terjemahan: Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar menghukum dengan adil di antara mereka adalah: “Kami dengar dan patuh.” Mereka itulah orang-orang yang beruntung”
(An Nur: 51)

Rasa taat tanpa syarat yang seperti itu tidak mungkin ada kalau orang itu belum sampai ke peringkat iman ayan. Hal itu tidak bisa dibuat-buat atau dipaksakan karena merupakan  pemberian Allah sebagai hasil dari ikhlas dan istiqamahnya ibadah seseorang.

Di peringkat iman ayan, 24 jam digunakan sepenuhnya untuk mengingat Allah. Sewaktu-waktu mereka lalai dan berbuat dosa kecil tanpa sengaja. Tetapi, setiap kali terjadi demikian, mereka sangat menyesal. Timbul rasa malu dan takut diazab oleh Allah. Hal itu memaksa mereka bertaubat dengan sebenarnya, di samping berjanji sungguh-sungguh untuk tidak mengulang perbuatan terkutuk itu.

Rasulullah SAW menggambarkan sikap itu dengan sabdanya:

Terjemahan: Orang mukmin itu menganggap dosa yang dilakukannya bagaikan gunung yang besar hendak menimpa mereka.
Di dalam Al Quran, Allah banyak menceritakan tentang sifat orang-orang yang beriman ayan itu. Saya sebutkan sebagian secara ringkas agar mudah dipahami:

  1. Khusyuk dalam shalat.
  2. Berpuasa.
  3. Menunaikan zakat.
  4. Menunaikan fardhu haji bila mampu.
  5. Redha menerima ketentuan dari Allah.
  6. Sabar menanggung ujian dari Allah.
  7. Bersyukur ke atas nikmat Allah.
  8. Menjauhkan diri dari maksiat seperti zina, minum arak, berjudi, membunuh, bicara kotor, mengumpat, mengeji, memfitnah, mengadu-domba, dan lain-lain.
  9. Senantiasa bermujahadah, melawan nafsu dan membuang sifat-sifat mazmumah seperti ujub, riya’, sombong, hasad dengki, dendam dan lain-lain.

10.  Berakhlak mulia seperti pemurah, rendah diri, tenggang rasa, lapang dada, pemaaf, sabar dan lain-lain.

11.  Tidak mau bermewah-mewah, cukup dengan apa yang ada dan sederhana dalam hidup.

12.  Berkasih sayang sesama mukmin, tegas dan keras dengan orang kafir.

13.  Tidak pernah berputus asa dalam menghadapi persoalan hidup.

14.  Senantiasa memperbaiki diri dan nasehat-menasehati dengan penuh bijaksana, musyahadah dan muraqabah.

15.  Suka membuat kebajikan dan tolong-menolong sesama manusia terutama sanak-saudara, kaum kerabat dan sahabat-sahabat.

16.  Bersungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah, sekalipun menyusahkan diri sendiri.

17.  Bersungguh-sungguh meninggalkan larangan Allah, sekalipun sangat bertentangan dengan nafsu.

18.  Menjadikan perjuangan dan berjihad sebagai kerja tetap dalam sepanjang hayat.

Semua sifat-sifat di atas, didorong oleh adanya hubungan hati dengan Allah. Hati yang senantiasa mengenang Allah dengan rasa takut dan harap. Orang-orang yang mempunyai hati seperti itu, makin hari makin bertambah kesadarannya tentang kehebatan, keagungan, kemurahan dan kasih sayang Allah. Sebab waktu yang Allah anugerahkan padanya digunakan untuk berpikir, mencari dan mengenal Allah. Matanya digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah. Mulutnya digunakan untuk menyebut Allah. Telinganya digunakan untuk mendengar tentang Allah. Kaki dan tangan digunakan untuk berbakti kepada Allah. Pendek kata semua kuasa yang Allah berikan padanya digunakan hanya untuk dan karena Allah.

Orang-orang yang beriman ayan sangat membenarkan janji  Allah bahwa Hari Kiamat pasti tiba. Mereka menanti tibanya hari yang sungguh berarti itu dengan berdebar dan bimbang, seperti seorang calon peserta ujian menanti keluarnya nilai ujian yang diambilnya. Mereka cemas memikirkan nasib diri, apakah Allah terima semua amalannya dengan baik atau sebaliknya. Seakan-akan tidak sabar mereka menunggu keputusan Allah untuk menempatkan mereka di Syurga atau Neraka. Mereka sangat takut pada Neraka, sebab itu setiap kali memandang alam ciptaan Allah, terus ingat pada Neraka lantas berdoa, “Lindungilah kami, Ya Allah, dari siksa api Neraka.”

Selanjutnya orang-orang yang beriman ayan senantiasa merasa diawasi. Penglihatan Allah yang tajam terasa menembus hati menyebabkan mereka cukup berhati-hati dalam setiap pekerjaan. Ketika bersuara baik di hati atau di mulut mereka sadar bahwa Allah turut mendengar suara itu. Karena itu percakapan dan pikiran mereka cukup dikawal supaya selamat dari kemurkaan Allah.

Ketika melihat, mereka sadar bahwa Allah mengawasi gerak mata mereka. Karena itulah mereka mengawal mata agar dipelihara dari memandang hal-hal yang dilarang Allah. Ketika mendengar mereka juga yakin bahwa Allah menyaksikan apa yang mereka dengar. Karena itu mereka senantiasa mengelak dari mendengar hal-hal yang dibenci Allah. Begitu juga kalau berhadapan dengan ujian-ujian hidup, mereka sangat tenang dan mampu merasakan pemberian Allah itu sebagai tanda penghapusan dosa atau sebagai tanda kasih sayang Allah pada mereka. Karena itu mereka redha.

Gambaran hati orang-orang yang beriman ayan itu kalau mau dimisalkan, saya contohkan begini:

Seorang murid sekolah diundang makan bersama dengan kepala sekolahnya. Biasanya seorang murid sangat sayang, hormat, malu, patuh dan takut pada kepala sekolah. Dengan perasaan-perasaan yang seperti itu, murid tadi akan menjadi tidak menentu sepanjang majelis makan itu. Gerak-geriknya sungguh dijaga. Matanya pun dijaga. Suaranya tidak terdengar. Makannya sedikit. Pikirannya hanya tertuju pada kepala sekolah tersebut. Rasanya kepala sekolah itu melihatnya, mengawasinya, dan mengetahui lahir batinnya. Dalam keadaan seperti itu, dapatkah murid itu membuat perkara-perkara yang tidak disenangi oleh gurunya itu?

Orang-orang yang beriman ayan, karena perasaan yang seperti itu maka dia tidak terlibat dalam dosa terus-menerus. Kalaupun ada karena dosa kecil yang terlalu terbatas, karena tidak sengaja atau di luar sadar.

Allah SWT karena memuji golongan orang yang beriman ayan itu telah menamakan mereka dengan berbagai nama yang baik:

  1. Orang-orang Soleh (orang-orang baik).
  2. Golongan Abrar (orang-orang berbakti).
  3. Orang-orang Muflihuun (orang-orang yang mendapat kemenangan).
  4. Golongan Al Faizuun (golongan yang mendapat kemenangan)
  5. Ashabul Yamiin (orang-orang yang akan menerima suratan amal dari sebelah kanan di Padang Mahsyar nanti).

Mereka yang beriman ayan tidak akan disentuh api Neraka. Mereka adalah ahli-ahli Syurga. Tetapi golongan itu tidak segera ke Syurga. Karena di dunia ini mereka banyak membuat perkara-perkara mubah, maka mereka terpaksa dihisab di Padang Mahsyar nanti. Oleh karena lamanya dihisab maka mereka lambat ke Syurga. Tetapi mereka tidak akan ke Neraka. Kalau kita bandingkan nasib orang-orang beriman ayan di Akhirat nanti akan sama dengan nasib orang-orang berjabatan kecil di dunia ini. Yakni orang-orang ‘golongan 3’ seperti pegawai rendahan, guru, dan lain-lain yang setaraf. Mereka itu selamat, terjamin tetapi tidaklah semewah orang-orang yang lebih atas.

Golongan beriman ayan adalah golongan yang sudah layak diberi mandat untuk membangun kehidupan beragama pada diri, keluarga dan masyarakat. Dengan keimanan, mereka menjadi berani, kuat dan adil. Mereka sanggup menjadi perintis jalan keagamaan dan mampu memecah tradisi jahiliah yang kuat mencengkeram manusia sekelilingnya.

Mereka tidak takut pada ejekan, cemoohan, fitnah dan penghinaan. Merekalah pejuang-pejuang dan penegak kebenaran yang ikhlas dan bersungguh-sungguh. Keimanan yang ada benar-benar menjadi benteng yang kuat dan kukuh, yang bersedia menyelamatkan mereka dari serangan musuh lahir dan batin.

Justru itu kalau kita mau menegakkan Islam dalam masyarakat, tegakkan dulu iman ayan dalam tiap-tiap individu masyarakat. Bila iman tertanam kuat di hati, apa saja perintah syariat yang datang, pasti diterima dan dilaksanakan. Tetapi sebelum iman itu masuk ke hati, jangan mimpi nafsu dan syaitan akan membiarkan manusia tunduk pada syariat dan kebaikan. Imam Bukhari pernah menyebutkan:

Surah yang pertama sekali diturunkan adalah Surah Mufassal, yang menceritakan Syurga dan Neraka. Kemudian ketika telah banyak orang memeluk Islam, barulah diturunkan ayat tentang halal dan haram. Kalau sekiranya sejak pertama kali diturunkan ayat “Jangan kamu minum arak!” tentu mereka akan mengatakan, “Kami tidak sekali-kali akan meninggalkan arak.” Dan kalau diturunkan ayat “Kamu jangan berzina” tentu mereka berkata, “Kami tidak akan meninggalkan perzinaan.”

Satu hakikat yang mesti kita akui, bahwa hari ini telah bangun orang-orang yang sadar betapa pentingnya Islam itu diamalkan dan diperjuangkan. Mereka itu mayoritasnya bukan terdidik dengan didikan dan ilmu agama. Keimanan mereka kalau kita kaji secara terperinci masih di peringkat iman taqlid. Tetapi kemauan mereka besar, semangat mereka berkobar-kobar. Karena itu suara mereka lantang dan gemanya tersebar luas. Kita bimbang kalau-kalau Islam yang ingin mereka tegakkan bukan dari dorongan iman. Dan kalau begitu, perjuangan itu tidak akan kemana.

Apa artinya rumah besar yang didirikan di atas lumpur? Bukankah lebih besar rumah, lebih cepat tumbangnya? Orang beriman ilmu pun belum bisa diharapkan. Mereka hanya pandai berbicara, berforum, berseminar dengan kertas kerja yang berbagai rupa, tetapi dalam praktek hidup mereka masih lalai dengan syariat, penuh dengan mazmumah dan penyakit lain  yang dibenci Allah. Karena itu menjadi tugas kita bersama untuk menyatukan tenaga-tenaga muda itu. Kita jalankan dengan sepatutnya. Kemudian kita arahkan ke satu arah yang menjadi impian kita bersama. Insya Allah.

4. IMAN  HAQ

Martabat iman yang akan dicapai oleh seseorang sesudah iman ayan adalah iman haq. Dengan istilah yang lain iman haq disebut iman yang sebenarnya. Seseorang yang mencapai iman haq adalah seseorang yang dapat melihat Allah dengan mata hatinya dalam melihat apapun. Artinya, iman haq menjadikan seseorang itu segera teringat kepada Allah setiap kali ia memandang atau terpandang apa saja ciptaan Allah. Ingatan itu bukan dibuat-buat atau dipaksa-paksa atau dipikir-pikirkan terlebih dahulu, melainkan datang secara spontan (otomatis) sekaligus bersama rasa takut, hebat, puji, sanjung dan kasih pada Allah.

Supaya mudah dipahami, coba gambarkan keadaan jika secara tiba-tiba kita berjumpa dengan seekor harimau yang garang dan bengis. Apakah kita jadi takut, gerun, menggigil, lemah lunglai dan melarikan diri? Hal itu terjadi secara otomatis. Ataukah perasaan-perasaan itu datang sesudah dipikirkan dan direnungkan tentang harimau tersebut? Bagi orang yang mengenal harimau, tentu tidak.

Maka begitulah orang-orang yang beriman haq berhadapan dengan alam. Bila terlihat sa ja keindahan alam, hatinya terus terbang ke alam gaib, terpaut dengan Allah dan tenggelam dalam pikiran itu hingga lupa pada apa yang di depan matanya.

Orang beriman haq tidak langsung terpesona pada keindahan dan kesenangan duniawi. Cintanya penuh pada Allah dan pada kehidupan Akhirat. Rabiatul Adawiyah menuangkan rasa hatinya ke dalam sebuah sajak berikut :

Dua cinta dalam cintaku pada-Mu
cinta rasa dan cinta kepunyaan-Mu
adapun cinta rasa itu
tiada diingatanku selain dari-Mu
adapun cinta kepunyaan-Mu
tabir-Mu yang tersingkap menampakkan wajah-Mu
jadi bukanlah bagiku pujian itu
tapi segalanya adalah untuk-Mu.
Di satu ketika yang lain, wanita wali Allah ini berbisik lagi pada Allah, kekasih-Nya dengan maksud:
Aku menyembah bukan karena takut Neraka-Mu
tidak juga karena harapkan Syurga-Mu
tapi karena kemuliaan-Mu dan cintaku pada-Mu.

Dengan taraf yang begitu orang-orang yang beriman haq  tidak sedikitpun dapat dilalaikan oleh nafsu dan syaitan. Bila dia terlihat wanita cantik, dia segera teringat pada Allah. Dia memuji Allah atas kebijaksanaan-Nya dan kekuasaan-Nya menciptakan sesuatu yang indah dan cantik. Dia merasa hina dan lemah diri sebagai hamba yang diciptakan Allah. Terasa takut dan ngeri dengan Neraka Allah dan seluruh perasaannya tertuju pada Allah. Wanita yang dipandangnya tadi tidak juga mengganggu hatinya, malah sudah tidak ada dalam penglihatannya.

Bagi orang-orang golongan itu nafsu mereka sudah benar-benar ditundukkan dan syaitan tidak berani lagi menghampiri. Diriwayatkan bahwa apabila Sayidina Umar r.a. melintasi suatu jalan maka syaitan tidak akan melintasi lagi jalan itu karena takutnya pada Sayidina Umar. Karena itu, orang-orang yang beriman haq tidak akan berbuat dosa sedikitpun. Tidak juga mengambil hal-hal yang diperbolehkan (mubah), yang memungkinkan banyaknya hisab di Akhirat kelak. Bagi mereka, orang-orang soleh yaitu mereka yang beriman ayan masih dianggap sebagai orang-orang jahat. Itu dapat kita pahami dari kata-kata mereka yang menganggap bahwa kebaikan orang-orang soleh sebagai kejahatan bagi orang-orang muqarrobin.

Dan bagi mereka, menjadi orang soleh itu adalah satu siksa. Kenapa tidak? Orang soleh akan menghadapi banyak hisab, karena itu lambat ke Syurga. Lambat ke Syurga itu adalah satu siksa.

Di Akhirat nanti semua orang ingin sampai ke Syurga, kampung asal lahirnya ayah bunda kita Nabi Adam a.s. dan isterinya Siti Hawa. Rindu dan inginnya melihat dan merasa kehidupan Syurga meluap-luap dalam hati orang-orang yang mengetahui bahwa dia akan ke sana. Bagaimana rasanya kalau dalam perjalanan itu kita diganggu, diperiksa, digeledah dan dilambat-lambatkan? Tersiksanya jiwa! Sementara itu waktu di Akhirat pun sangat panjang. Satu hari di sana sama dengan seribu tahun di sini. Misalnya seseorang itu kena hisab selama satu hari, maknanya dia terpaksa menunggu 1000 tahun. Alangkah lamanya! Sedang dalam jangka waktu itu orang-orang yang sudah lepas dapat menikmati buah-buahan dan minuman Syurga. Sudah beristirahat dan tidur di sana. Sudah dapat bidadari dan sudah dapat melihat wajah Allah SWT. Mengingat hal itu semakin tersiksalah orang yang sedang dihisab tadi.

Orang-orang yang mencapai iman haq diberi gelar oleh Allah sebagai muqarrobin yaitu orang-orang yang dirinya dekat dengan Allah. Merekalah yang kita kenal sebagai wali Allah. Sifat istimewa yang ada pada mereka adalah seperti yang Allah firmankan:

Terjemahan: Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah merasa takut dan duka-cita.
(Yunus: 62)

Hasil dari sikap itu mereka akan bertindak sebagai seorang yang :

  • Zahid
  • Ikhlas
  • Warak
  • Menunaikan semua perintah Allah
  • Tidak takut dengan bala Allah dan tidak lalai dengan nikmat yang dianugerahkan Allah
  • Tidak senang dipuji dan tidak hina bila dicaci.

Pendek kata segala masalah yang menimpa walau apapun bentuknya sama saja bagi mereka. Ujian-ujian yang biasanya tidak tertanggung oleh orang-orang awam pun tidak menggugat hati mereka. Karena itu segala kesedihan, kesempitan, kegelisahan dan kekecewaan yang sering dirasakan oleh manusia biasa tidak pernah sedikit pun menganggu jiwa mereka. Dalam suasana apa saja, mereka tenang, lapang, lega dan bahagia. Iman haq menjadikan mereka senantiasa berada dalam kebahagiaan. Kebahagiaan hati tentu jauh lebih baik daripada kesenangan uang dan pangkat derajat. Dengan kebahagiaan itu orang-orang muqarrobin sebenarnya telah memperoleh syurga di dunia. Karena itu bagi orang-orang tersebut, dunia hanyalah alat permainan yang menipu daya. Ini sesuai dengan firman Allah:

Terjemahan: Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah mata benda (kesenangan) yang menipu daya.
(Ali Imran: 185)

Sayidina Ali k.w. pernah ketika sendirian di masjid berbisik memberitahu hatinya dengan katanya, “Wahai dunia, kalau engkau hendak menipu, janganlah tipu aku. Tipulah orang lain.”

Hati orang-orang muqarrobin tidak terpaut pada dunia sama sekali. Bagi mereka dunia ini tidak mempunyai nilai apapun. Harta benda, uang, pangkat derajat, dan kesenangan lainnya bagi mereka seperti najis atau bangkai.

Oleh itu bukan saja mereka tidak perebutkan, menginginkan pun tidak. Janganlah salah paham dengan kenyataan itu. Saya tidak mengatakan orang yang benci pada najis atau bangkai itu tidak pernah menggunakannya. Najis atau bangkai itu tidak dibiarkan melekat atau mengotori diri mereka, sebab itu mereka buang, menjadi pupuk atau diberi pada orang-orang yang memerlukan atau disimpan saja di tempat yang bisa mengelakkan bahaya.

Sayidina Umar, Sayidina Usman dan Sayidina Abdul Rahman bin Auf adalah hartawan-hartawan Quraisy. Nabi Muhammad SAW pun asalnya juga berharta. Tetapi harta baginda itu habis dikorbankan untuk berdakwah. Sayidina Abu Bakar juga mengorbankan semua hartanya untuk jihad fisabilillah. Sayidina Umar juga menyerahkan separuh hartanya untuk peperangan menegakkan agama. Sayidina Usman pun turut mengorbankan beribu-ribu ekor untanya, untuk kepentingan agama.

Dapatkah pengorbanan-pengorbanan sebesar itu dilakukan oleh orang-orang yang lemah iman seperti kita? Untuk mengeluarkan 10% dari uang gaji bulanan pun sudah tersiksa apalagi untuk mengorbankan 50% dari harta benda yang ada. Kita mencintai dunia sama seperti orang muqarrobin mencintai Akhirat. Sebab itu kita telah berkorban untuk dunia seperti mereka berkorban untuk Akhirat. Tetapi yang anehnya, mereka yang membenci dunia telah dapat menawan tiga perempat kekuasaan dunia dengan segala isinya sedangkan kita yang begitu ingin memilikinya sering putih mata! Itulah Sunnatullah. Firman Allah :

Terjemahan: Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu miliki, perniagaan yang kamu takuti kerugiannya dan rumah-rumah yang kamu sayangi, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
(At Taubah: 24)

Kurang lebih 1400 tahun dulu umat Islam kebanyakan berada di peringkat iman haq dan disebut muqarrobin. Dalam sejarahnya, mereka telah menguasai, menawan dan memperalat segala isi dunia untuk berbakti kepada Allah. Dan mereka berjaya. Tiga perempat dunia tunduk menyerah.

Faktor terpenting mengapa kejayaan begitu besar telah mereka peroleh adalah karena kekuatan iman yang mereka miliki. Hati yang beriman, yang cinta pada Allah, rindu pada Syurga dan takut siksa Neraka itu telah mendorong mereka untuk melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Karena itu mereka telah dapat menegakkan sebuah sistem pemerintahan yang benar-benar aman, makmur lagi diredhai Allah.

Maka jika kita bercita-cita untuk mengulang sejarah seagung itu, langkah pertama yang perlu diambil adalah meningkatkan iman tiap-tiap individu masyarakat ke taraf yang setinggi mungkin. Apabila hati penuh oleh iman, jiwa akan merdeka, bebas dari kungkungan nafsu, hasutan syaitan, dan tarikan dunia dan Allah juga akan kasih pada kita, maka tidak akan ada suatu kekuasaan lagi yang dapat menggagalkan kita. Baru waktu itu kita dapat merancang dan mengatur masyarakat sesuai seperti yang dikehendaki Allah. Dan dari situlah Islam akan dapat kita tegakkan secara syumul dan sempurna.

5. IMAN  HAKIKAT

Peringkat iman yang tertinggi, yang paling mungkin dicapai oleh manusia adalah iman hakikat. Untuk mencapai peringkat ini manusia tentulah telah melalui taraf iman ilmu, iman ayan dan iman haq, dan akhir sekali barulah mencapai iman hakikat. Itulah iman yang paling puncak, taraf iman yang paling tinggi dan paling sempurna. Itulah taraf iman yang dimiliki oleh rasul-rasul, nabi-nabi, khulafaur Rasyidin dan wali-wali besar, yakni para kekasih Allah. Dengan iman itu mereka akan Allah tempatkan di Syurga yang tertinggi tanpa melalui hisab atau perkiraan apapun.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka yang beriman hakikat tenggelam dalam kerinduan, asyik dan mabuk dengan Allah. Dua puluh empat jam mereka isi sepenuhnya dengan kerinduan dan kecintaan pada Allah. Hati mereka kekal dengan Allah dalam tidur atau jaga. Gerak-gerik, tutur kata, makan minum, senyum tawa dan seluruh perbuatan mereka semuanya dalam ibadah dan bakti kepada Allah.

Budi dan akhlak mereka terbaik dan termulia. Bacalah sejarah hidup mereka itu dan kajilah budi pekerti dan pergaulan mereka dengan orang banyak. Apabila nabi kita Muhammad SAW menderma, habis licin harta baginda diberikan. Apabila bergaul dengan manusia, kaya atau miskin dilayaninya dengan penuh mesra. Jika orang kasar dengan baginda, dibalasnya dengan baik. Apabila berperang, bagindalah  yang di barisan depan, mengepalai angkatan perang, hingga pernah baginda patah giginya dan luka parah dihantam musuh. Bila beribadah menyembah Allah, sampai bengkak-bengkak kaki baginda karena lamanya berdiri. Dengan isteri-isteri baginda cukup bertimbang rasa dan menolong  dengan penuh mesra. Hidupnya dalam rumah yang sederhana, tidurnya beralas tikar atau kain biasa saja dan makannya sedikit dengan sehari makan sehari berpuasa.

Para Rasul dan Nabi a.s. didatangkan ke dunia untuk mengajar, mendidik dan memimpin orang banyak dan umat ke arah Islam. Karena itu, Allah anugerahkan satu keistimewaan pada mereka yakni iman yang tinggi dan hati yang kekal merindukan Allah. Karena itu badan dan anggota lahir mereka bisa keluar ke tengah masyarakat, menyampaikan, mengajar, mendidik dan memimpin manusia kepada kehidupan yang diredhai Allah.

Begitu juga dengan empat khulafaur Rasyidin, empat imam-imam mazhab, termasuk wali-wali Allah yang besar-besar seperti Imam Ghazali, Hassan Al Basri, Junaid Al Baghdadi, Syeikh Abdul Kadir Jailani dan lain-lainnya yang setaraf dengan mereka, telah tampil ke tengah masyarakat, berjuang dan berjihad membawa hati yang sangat cinta pada Allah.
Selain dari mereka itu, karena tidak mempunyai bakat mendidik dan memimpin, iman hakikat membuat mereka betul-betul mabuk dengan Allah. Hati yang penuh rindu dan cinta Allah membuat mereka lupa pada diri yang lahir, lupa makan minum dan tidak memperdulikan orang lain selain Allah. Kadang-kadang mereka sampai mati, karena tidak tahan menanggung rindu itu, maka bertemulah dengan Allah, kekasih yang dirindukannya itu.

Di Akhirat, Allah tempatkan mereka di Syurga tertinggi. Merekalah golongan super-scale Akhirat. Hidup dalam Syurga yang maha indah dan maha lezat. Allah karuniakan untuk membalas cinta dan pengorbanan mereka yang sungguh besar.

Sumber :  Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad Attamimi, “Iman dan Persoalannya”

Pos ini dipublikasikan di Motivasi. Tandai permalink.

20 Balasan ke Peringkat Iman

  1. TRI WAHYU KUNINGSIH berkata:

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Ehm…terima kasih Pak…saya jadi mengetahui peringkat iman. Karen sebelumnya saya memang kurang tahu…heehee…
    Saya akan berusaha meningkatkan keimanan saya…
    Terima kasih pak…

  2. JOHAN ABDULLAH berkata:

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Insya AlLah saya akan meningkatkan Iman saya…
    Saya akan berusaha menjadi insan yang lebih baik.

  3. SLAMET ROZIKIN berkata:

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Semoga hari ini dan seterusnya, saya dapat menambah kualitas iman saya. Insya AlLah.

  4. Novi Effiana Putri berkata:

    Assalamu ‘alaikum wr.wb

    menurut saya, yang membedakan manusia dihadapan Allah.SWT bukan harta kekayaan serta kedudukan, tapi peringkat keimanan manusia….

    Iman secara bahasa percaya dan yakin, secara istilah ditanamkan dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dilakukan dengan perbuatan…..
    Percaya dan yakin… mungkin untuk saya, terkadang saya percaya tetapi tidak yakin… seperti saya percaya bahwa si ‘A’ adalah penembak jitu (sniper), tapi saya tidak yakin ketika si ‘A’ mau menembak Apel yang diletakan diatas kepala saya….

    Dan sebagai seorang muslimah, saya akan berusaha terus meningkatkan keimanan saya….karena saya telah bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW adalah Utusan Allah SWT…

    Wassalamu ‘alaikum wr.wb

  5. Ida Ayu T. berkata:

    ass.wr.wb.

    dituliskan hal seperti di atas kita jadi tau bagaimana kita bisa meningkatkan keimanan kita dan berusaha menghilangkan sifat buruk yang ada pada diri kita . Semoga kita senantiasa selalu dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT.

    wass.

  6. Agustian Achmady berkata:

    Assalamu ‘alaikum wr.wb

    Kesucian / keberhasilan lahir dan batin , sebagai pengamalan dari ucapan subhanallah .

    mungkin saya akn mencoba untuk menata diri saya lebih baik

    DAN berusaha menjadi insan yang lebih baik.

  7. Sangga Pramana Wicaksana berkata:

    Assalamualaikum, Wr.Wb

    Menurut Islam, mulia atau hinanya manusia itu dikategorikan menurut taraf iman masing-masing. Siapa yang tinggi imannya dialah yang paling mulia dalam pandangan Islam. Siapa yang rendah imannya maka rendah kedudukannya dalam pandangan Islam. Dan siapa yang tidak memiliki iman sama sekali maka dialah manusia yang paling hina menurut Islam

    macam-macam iman
    1.Iman Taqlid = iman yang hanya ikut-ikutan
    2.Iman ilmu = orang yang telah mempelajari secara resmi tentang Allah, malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, hari Kiamat dan lain-lain yang diwajibkan
    3.Iman ‘Ayan = orang yang beriman ilmu, kemudian rajin mengerjakan ibadah-ibadah yang dapat menambahkan iman, akan meningkatkan taraf imannya menjadi iman ayan
    4.Iman Hak = seseorang yang dapat melihat Allah dengan mata hatinya dalam melihat apapun
    5.Iman Hakikat = taraf iman yang dimiliki oleh rasul-rasul, nabi-nabi, khulafaur Rasyidin dan wali-wali besar, yakni para kekasih Allah

    Dari iman-iman di atas, semoga kita dapat meningkatkan iman kita, insyaAllah sampai iman hakikat, .AMIN

    Wassalamualaikum, Wr.Wb

  8. SUKMA JUNI LISTYATI berkata:

    Assalamu’alaikum wr. wb. ….

    Dari peggolongan tingkatan iman diatas, bahwa manusia perlu banyak berusaha dan lebih meningkatkan agar dapat mencapai tujuan yang baik di dunia maupun akhirat.

    Insya allah saya sebagai umat manusia akan meningkatkan iman dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT…
    Amin,,,

    Wassalamu’alaikum wr. wb. ….

  9. Alif Lutfiyana berkata:

    Assalamu’alaikum

    Sesungguhnya yang membedakan orang dimata Allah hayalah Iman dan Taqwa

    Wassalamu’alaikum

  10. trisno wibowo 022082973 berkata:

    assalamualaikum wr.wb.

    sengguhna manusia telah dibutakan oleh kenikmatan2 duniawi sehingga manusia lupa akan knikmatan yg telah di janjikan allah swt yaitu surga dmana disurga adalah kenikmatan yang abadi..jadi kita harus meningkatkan iman kita apabila kita ingin masuk surga

    Wassalamualaikum wr.wb.

  11. Syamsul Ma'arif berkata:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    ALLAH tidak memandang kaumnya dari segi kekayaan, kecantikan, ketampanan serta kelebihan – kelebihan yang dibangga-banggakan oleh kaumNya. ALLAH hanya menitikberatkan kaumNya pada kadar keimanan yang dimilikiNya. Apakah tingkat keimanan itu sudah sesuai dengan pencapaian atau tidak itu tergantung pada pribadi masing – masing dengan penilaian yang diberikan ALLAH.
    Mulai saat ini berpeganglah pada iman kita dengan sungguh – sungguh, serta bertaqwa kepadaNya seraya mengharap ridho ALLAH.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

  12. suhariawan 022082968 berkata:

    assalamualaikum wr.wb.

    allah tidak peduli manusia itu kaya ato miskin yang terpenting adalah iman dan ketakwaannya…manusia dibekali otak untuk berfikir mana yang baik dan mana yang buruk…juadi manusia harus menggunakan akalnya agar snantiasa menjauhi perbuatan2 yang dilarang oleh allah swt.

  13. yunika adi setianto berkata:

    assalamualaikum.wr.wb.

    didunia ini yang harus kita perhatikan adalah keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

    wassalamualaikum.wr.wb

  14. M ZAENAL MUTAKIN berkata:

    Asslamualaikm Wr Wb
    iman seseorang tidak dilihat dari kecantikan .,kekayaan.,ataupun jabatan tetapi keimanan seseorang dapat dilihat dari bentuk ketakwaannya kepada Allah.
    Wassalamualaikm Wr Wb

  15. M LUTHFIL KARIM berkata:

    assalamualaikum………….

    banyak orang berpandangan islam..mengekang kebebasan manusia,melanggar HAM,penuh dengan kekerasan,tetapi itu semua hanyalah pengatasnamaan KEBEBASAN BERPENDAT,padahal semua itu salah…..mereka belum mengetahui iman ,islam,ihsan

    PANDANGAN SAYA tentang iman adalah iman seseorang hanya bisa rasakan dengan hati,dan dilakukan dengan perbuatan berpedoman pada alqur”an dan alhadist,ijma’dan qiyas
    ketentraman hati dan fikir akan tercipta dengan adanya iman,,dan ikatan hati {ta’liful quluub)

  16. syafiq syaifuddin berkata:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    intinya manusia dimata ALLAH swt semuanya sama,yang membedakan hanyalah tingkat keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT…
    wassalamu’alaikum…

  17. misrandi berkata:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb

    AllahSWt menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi ini dan kelak pasti akn kembali kepadaNya…

  18. muh.taufik ramadhani berkata:

    di dunia hanya yg nampak adlah harta…..

    sehingga membuat orang hidup hnya harta….
    dan untuk harta agar mendapat pengakuan…

    tetapi alhamdulillah harta dan gelar yg diberikan oleh manusia tidak dilihat oleh allah swt…
    sungguh adil……..

  19. supriyono berkata:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb

    Adakah alat untuk mengukut tingkat keimanan seseorang atau parameter yg dipakai supaya tau dimana posisi keimanan kita saat ini, Mengapa iman kita mudah sekali melorot namun untuk meninggkatkan kembali terasa sulit?
    Trimakasih
    Assalamu’alaikum Wr.Wb

  20. Wikarso berkata:

    Terima kasih nasehatnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s