Cara-Cara Mendapatkan Iman

CARA-CARA MENDAPATKAN IMAN

.

SETELAH kita tahu tentang iman dan peringkat-peringkatnya, tentu timbul di hati keinginan untuk menambah dan meningkatkan iman yang telah ada. Harus disadari bahwa kita dan mayoritas umat Islam bukalah orang soleh, jauh sekali dari taraf muqarrobin. Paling tinggi kita baru berada di peringkat iman ilmu. Kita baru sebatas tahu tentang Allah, belum lagi kenal dengan Allah. Kita sadar Allah itu ada tetapi belum cinta pada-Nya. Akibatnya kita masih durhaka, banyak lagi suruhan-Nya yang kita ingkari dan larangan-Nya yang kita langgar. Maka jadilah kita orang-orang yang berdosa. Dan kalau kita mati dalam keadaan seperti itu, ada kemungkinan Allah masukkan dulu ke Neraka.

Mendengar Neraka, semestinya timbul ketakutan di hati kita. Apakah kita mau dan sanggup diazab sedemikian pedih dan hina. Tentu tidak. Jadi sesuai bila kita berazam kuat dari sekarang untuk sama-sama menyelamatkan diri dan keluarga kita dari api Neraka. Allah pun telah menyarankan hal itu dengan firman-Nya:

Terjemahan: Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api Neraka.
(At Tahrim: 6)

Faktor utama dan penting yang perlu disediakan adalah kesadaran, kemauan dan kesungguhan kita untuk mencapainya. Tanpa faktor-faktor itu, ceramah dan ilmu sebanyak apa pun tidak akan mampu mengubah kita.

Allah memberi peringatan tentang itu dengan firman-Nya:

Terjemahan: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada sesuatu kaum sehinggalah mereka sendiri yang mengubah apa yang ada dalam diri (hati) mereka.
(Ar Ra’du: 11)

Sikap kita hari ini kalau tidak diubah akan membahayakan. Kita hanya bersungguh-sungguh untuk mendapatkan uang, harta, pangkat dan sejenisnya, yang belum tentu kita peroleh, dan kalaupun dapat belum tentu akan membahagiakan kita. Dan bila dalam kesibukan itu, kita sampai terlupa untuk mencari iman, sesuatu yang sudah pasti akan menyelamatkan kita di dunia dan di Akhirat.

Kenapa kita tidak bersungguh-sungguh berusaha untuk mendapatkan iman? Apakah yang menghalang kita dari berbuat begitu? Apakah karena kita kurang yakin bahwa dengan iman saja kita dapat melepaskan diri dari kebencian Allah dan siksaan-Nya di Akhirat nanti? Ataukah karena kita tidak begitu yakin tentang adanya Hari Pengadilan di Padang Mahsyar nanti? Kalau begitu, iman kita lebih buruk. Bukan lagi iman ilmu, tetapi iman orang kafir.

Firman Allah SWT:


Terjemahan: Dan sesungguhnya, jika kamu (Muhammad) tanyakan kepada mereka (orang kafir), siapakah yang mencipta langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(Luqman: 25)

Firman Allah lagi:

Terjemahan: Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka akan menjawab, “Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
(Az Zukhruf: 9)

Terjemahan: Katakanlah (kepada orang kafir), “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi. Tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari azab-Nya jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab “Allah.” Katakanlah, “(kalau demikian) maka dari jalan manakah kamu ditipu?’
(Al Mukminun: 88 – 89)

Janganlah hendaknya kita biarkan pikiran kita ditipu selama-lamanya. Sadar dan yakinlah bahwa kian hari kita kian dekat pada Hari Kiamat sebagaimana kian hari kita kian jauh dari dunia ini. Dan bagi siapa saja yang cerdik dan waras, dia akan senantiasa takut dan berdebar-debar menanti tibanya hari yang sangat dahsyat itu. Rasulullah telah memberitahu kita dalam sabda baginda:

Terjemahan: Orang yang paling cerdik adalah orang yang banyak mengingati mati dan terlalu membuat persiapan untuknya.
Orang yang paling cerdik adalah orang yang tidak akan melepaskan peluang untuk merebut sebanyak-banyaknya kebaikan yang mampu dibuat, selama ia masih diizinkan untuk terus hidup di atas dunia ini. Kelapangannya, kesehatannya, waktunya, kekayaan dan hidupnya dijadikan modal yang sebaik-baiknya untuk berusaha keras, membina keuntungan hidup di Akhirat. Kalau begitu barulah sesuai dengan kehendak Rasulullah sebagaimana sabda baginda:

Terjemahan: Rebutlah lima perkara sebelum datang lima perkara, hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, muda sebelum tua dan kaya sebelum papa.
(Al Baihaqi)

Demi kebahagiaan hidup di dunia dan di Akhirat, marilah kita korbankan segala nikmat yang Allah berikan untuk berbakti kepada-Nya, supaya nanti Allah ganti dengan nikmat yang berlipat-ganda lezatnya.

Dengan saran itu, baru sekarang akan saya uraikan bagaimana caranya menambah dan meningkatkan keimanan kita. Sebenarnya, jalan untuk mendapatkan iman sangat banyak, yaitu setiap sesuatu yang diperintahkan oleh syariat. Ada yang berbentuk fardhu ain, fardhu kifayah, sunat muakkad, sunat ghairi-muakkad dan semua perkara-perkara yang mubah kalau dilakukan dengan memenuhi lima syarat yang telah saya sebutkan sebelumnya. Rasulullah SAW meringkaskan uraian tentang bagaimana mendapatkan iman dengan sabda baginda:

Terjemahan: Iman itu lebih tujuh puluh cabangnya. Yang setinggi-tingginya adalah mengucapkan “Lailahaillallah” dan yang serendah-rendahnya adalah membuang duri di jalan.
(Muslim.)

Maknanya, apa saja yang Allah perintahkan, tujuannya semata-mata untuk mendapatkan iman. Supaya dipahami, akan saya berikan beberapa contoh secara terperinci bagaimana iman itu dapat kita peroleh. Di bawah ini akan saya bentangkan jalan-jalan yang dapat kita lalui.

1. MELAWAN HAWA NAFSU

Allah SWT telah berfirman:

Terjemahan: Orang-orang yang bermujahadah pada jalan Kami, Kami tunjukkan jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang baik.
(Al Ankabut: 69)

Dan dalam ayat yang lain:

Terjemahan: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan kefasikan dan ketakwaan). Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwa (nafsu) nya itu. Dan sesungguhnya merugi (celaka) lah orang yang mengotorinya.
(Asy Syams: 8 – 10)

Untuk mendapatkan iman, Allah memerintahkan kita melawan nafsu. Karena nafsu yang bersarang di hati itu senantiasa mengajak kita supaya mendurhakai Allah.

Firman-Nya:

Terjemahan: Sesungguhnya nafsu (amarah) itu sangat menyuruh pada yang jahat.
(Yusuf: 53)

Dalam usaha melawan nafsu itu kita dikehendaki untuk menempuh tiga peringkat:

  1. Takhalli (mengosongkan, membuang ataupun menyucikan)
  2. Tahalli (mengisi atau menghias)
  3. Tajalli (terasa kebesaran dan kehebatan Allah).

i. Takhalli

Di peringkat takhalli kita mesti melawan dan membuang semua kehendak-kehendak nafsu yang rendah dan dilarang Allah. Selagi kita tidak mau membenci, memusuhi dan membuangnya jauh-jauh dari diri kita, maka nafsu itu akan senantiasa menguasai dan menghambakan kita, bersabda Rasulullah SAW:

Terjemahan: Sejahat-jahat musuh engkau adalah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambung engkau.
(Al Baihaql)

Karena kejahatannya itu, telah banyak manusia yang ditipu dan diperdayakan untuk tunduk, bertuhankan hawa nafsu. Hal Itu ada diceritakan oleh Allah dengan firman-Nya:

Terjemahan: Apakah tidak engkau perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsu menjadi Tuhan, lalu dia disesatkan Allah.
(Al Jaasiyah: 23)

Apabila nafsu dibiarkan menguasai hati, iman tidak akan ada tempatnya. Bila iman tidak ada, manusia bukan lagi menyembah Allah, Tuhan yang sebenar-benarnya, tetapi menyembah hawa nafsu. Oleh itu usaha melawan hawa nafsu janganlah dianggap ringan. Itu adalah satu jihad yang besar.

Ingatlah sabda Rasulullah SAW pada Sahabat-Sahabat ketika baginda berangkat pulang dari satu medan peperangan.

Terjemahan: Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang besar. Bila Sahabat-Sahabat bertanya, “Peperangan apakah itu?” Baginda berkata, Peperangan melawan hawa nafsu.”
(Al Baihaqi)

Melawan hawa nafsu sangat susah. Barangkali kalau nafsu itu ada di luar jasad kita dan dapat pula dipegang mudahlah kita pijit dan membunuhnya sampai mati. Tetapi nafsu kita itu ada dalam diri kita, mengalir bersama aliran darah, menguasai seluruh tubuh kita. Karena itu tanpa kesadaran dan kemauan yang sungguh-sungguh, kita pasti dikalahkan untuk diperalat sekehendaknya.

Untuk lebih jelas, akan saya sebutkan peringkat-peringkat nafsu manusia, sebagaimana iman itu sendiri berperingkat-peringkat. Seseorang yang dapat mengalahkan nafsunya akan meningkat ke taraf nafsu yang lebih baik. Begitulah seterusnya, hingga nafsu manusia itu benar-benar dapat  ditundukkan pada perintah Allah.

Berikut adalah peringkat-peringkat nafsu itu, saya urutkan dari peringkat yang serendah-rendahnya yaitu:

  1. Nafsu Amarah
  2. Nafsu Lawwamah
  3. Nafsu Mulhamah
  4. Nafsu Muthmainnah
  5. Nafsu Radhiah
  6. Nafsu Mardhiah
  7. Nafsu Kamilah

Kita yang beriman ilmu ini baru berada di taraf nafsu yang kedua yaitu nafsu lawwamah. Kita mesti berjuang melawan nafsu itu hingga dia mau tunduk sepenuhnya pada perintah Allah, yaitu paling minimal nafsu mutmainnah yang ada pada seseorang yang memiliki iman ayan. Di peringkat itu sajalah kita akan dapat menyelamatkan diri dari siksa Neraka. Itu dinyatakan sendiri oleh Allah SWT dengan firman-Nya:

Terjemahan: Hai jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah), kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Syurga-Ku.
(Al Fajr: 27 – 30 )

Nafsu jahat dapat dikenali melalui sifat keji dan kotor yang ada pada manusia. Dalam ilmu tasawuf, nafsu jahat dan liar itu dikatakan sifat mazmumah.

Di antara sifat-sifat mazmumah adalah:

  1. Suma’ah
  2. Bakhil (kikir)
  3. Riya’
  4. Penakut
  5. Ujub
  6. Cinta dunia
  7. Takabur
  8. Gila pangkat
  9. Sombong.

10.  Gila harta

11.  Hasad dengki

12.  Banyak bicara

13.  Marah

14.  Banyak makan

15.  Dendam

16.  Mengumpat

Sifat-sifat itu melekat di hati seperti daki melekat di badan. Kalau kita malas menggosok, akan bertambah tebal dan melekat kuat. Sebaliknya kalau kita rajin meneliti dan menggosoknya maka akan bersihlah hati dan sucilah jiwa.

Bagaimanapun membuang sifat mazmumah dari hati, tidak semudah membuang daki di badan. Hal itu memerlukan latihan jiwa yang sungguh-sungguh, didikan yang terus menerus dan petunjuk yang berkesan dari guru yang mursyid yakni guru yang dapat membaca dan menyelami hati muridnya hingga ia mengetahui apakah kekurangan dan kelebihan murid itu. Malangnya di akhir zaman ini, kita tidak memiliki guru yang mursyid. Hal itu dinyatakan sendiri oleh baginda Rasulullah, di akhir zaman hanya ada mubaligh tetapi tidak ada guru yang mursyid.

Nasib kita hari ini laksana anak ayam yang kehilangan induk. Tidak ada yang akan membimbing kita melalui jalan kebaikan yang ingin kita tempuh. Meraba-rabalah kita. Tetapi bagi orang yang mempunyai keinginan (azam) yang kuat, untuk membersihkan jiwanya, ia tidak akan kecewa hanya karena tidak ada orang yang dapat mendidik dan memimpinnya. Ia akan sanggup berusaha sendiri demi kesempurnaan diri dan hidupnya sendiri. Misalnya ia sadar bahwa ia memiliki sifat bakhil. Dan dia pun tahu bahwa Allah tidak suka pada seorang yang bakhil. Karena itu ia berazam untuk mengikis sifat yang terkutuk itu. Caranya ia akan coba membiasakan dan memperbanyak derma, sedekah, hadiah dan amalan lain yang berupa pemberian haknya kepada orang lain.

Saya petik beberapa ayat Al Quran dan Hadits untuk menunjukkan Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan sifat pemurah itu.

Terjemahan: Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkan sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebahagian) dari hartamu memperolehi pahala yang besar.
(AI Hadid: 7)

Terjemahan: Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperolehi pahala yang banyak.
(Al Hadid: 11)

Bersabda Rasulullah dengan maksudnya:

Membantu wanita janda dan orang miskin, sama seperti berjihad di jalan Allah dan seperti berpuasa siang hari dan beribadah di malam hari.
Sebenarnya sifat bakhil bukan saja ada pada orang kaya dan berharta, tetapi orang miskin pun tidak mustahil mempunyai penyakit bakhil ini. Karena itu dalam Islam bukan saja sedekah itu dapat dilakukan dengan harta benda tetapi bisa juga dilakukan dengan cara lain.

Cara-cara itu di samping mendidik akhlak mulia untuk semua orang, juga memberi peluang pada orang miskin mengikis sifat bakhil di samping ikut mendapat pahala sedekah. Allah SWT berfirman:

Terjemahan: Perkataan yang baik dan pemberian maaf, lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.
(Al Baqarah: 263)

Rasulullah SAW pernah memberikan garis-garis berikut dalam satu riwayat Hadisnya yang bermaksud:

1.     Segala perbuatan yang baik itu sedekah.
2.     Senyuman kepada saudaramu itu sedekah.

Aku kabarkan kepadamu, yang lebih tinggi dari derajat puasa, shalat dan sedekah.
“Kabarkanlah,” kata Sahabat-Sahabat. “Mendamaikan dua golongan yang berselisih, itu sedekah.”

Dengan menggunakan panduan-panduan di atas, orang-orang yang menyadari bahwa ia memiliki sifat bakhil, bisa mencoba melatih diri untuk mengobatinya. Bila ada peluang untuk bersedekah dan sebagainya, jangan dibiarkan begitu saja. Paksalah hati untuk mengeluarkan harta atau bertindak memberi kebaikan kepada orang lain.

Pada waktu rasa bakhil itu terasa kuat bergantung di hati, waktu itulah perlawanan mesti dikuatkan. Keluarkan apa yang disayangi itu banyak-banyak dan segera. Latihan itu akan menjadi lebih berkesan kalau kita sanggup mengeluarkan harta itu pada saat kita sendiri kekurangan.

Misalnya kita didatangi oleh peminta sumbangan, di waktu kita hanya memiliki Rp 5000,- di kantong. Waktu itu, paksalah hati supaya mengeluarkan separuh dari jumlah yang ada. Tentulah berat, tetapi keluarkan juga. Insya Allah, kalau hal itu mau dan sanggup kita lakukan selalu, kita akan menjadi seorang yang pemurah dan rasa bakhil akan lenyap sama sekali dari hati kita.

Sifat takabur, sombong dan bermewahan adalah mazmumah yang perlu sekali dikikis segera. Kalau tidak ia akan menutup semua jalan kebaikan yang mungkin bagi manusia. Hampir semua dari kita memiliki sifat sombong atau ego itu. Dan untuk membuangnya susah sekali. Imam Ghazali pernah berkata bahwa sifat ego itu hampir mustahil dapat dibuang seluruhnya dari jiwa manusia.

Bagaimanapun kita perlu berusaha untuk menguranginya. Kita mesti coba merendah diri dan memaksa hati untuk merasa dan mengakui kelemahan dan kekurangan kita sebagai manusia biasa. Misalnya dalam perselisihan pendapat atau pertengkaran kita dengan orang lain coba rasakan kesalahan itu di pihak kita. Atau paling tidak akuilah bahwa kita juga turut bersalah. Bukankah ada pepatah kita menyatakan, “Bertepuk sebelah tangan masak akan berbunyi.”

Kalau kita mampu dan berani mengakui kesalahan, kita akan mampu juga meminta maaf. Dan hanya dengan minta maaf saja, dosa kita sesama manusia akan terhapus. Oleh itu sangatlah perlu kita melatih diri untuk melawan sifat sombong takabur itu. Latihan yang lebih berkesan dari yang disebut di atas adalah kita biasakan diri tinggal bersama dengan orang-orang yang dipandang rendah oleh masyarakat. Kita berdampingan dan bergaul dengan orang-orang susah, peminta sedekah, orang cacat dan siapa saja yang setaraf. Duduk, bercakap-cakap, makan, minum dan tidur bersama mereka, hingga kita merasa sama seperti mereka. Waktu itu jiwa ego kita akan memberontak dan tersiksa sekali. Timbul rasa malu, kesal, terhina dan tersiksa sekali. Maklumlah kita merasakan orang lain semuanya mengejek dan merendah-rendahkan kita. Biarkan. Bisikkan di hati, “Memang aku ini asalnya miskin dan hina. Berasal dari tanah dan akan menjadi tanah. Datang ke dunia dulu tanpa seutas benang dan sepeser uang.”

Kalau amalan itu dibiasakan, insya Allah sifat ego itu sedikit demi sedikit akan dapat kita buang dari hati kita. ‘Alah bisa karena biasa’ dan yakinlah ‘ular menyusur akar tidak akan hilang bisanya’. Dan ingatlah selalu firman Allah SWT:

Terjemahan: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak suka seseorang yang sombong lagi membanggakan diri.
(Luqman: 18)

Allah berfirman lagi:

Terjemahan: Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu golongan menghina golongan yang lain (karena) boleh jadi mereka yang dihina lebih baik dari mereka yang menghina. Dan jangan pula wanita (menghina) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita yang (dihina) lebih baik dari wanita (yang menghina).
(Al Hujurat: 11)

Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong karena kekuatan kamu tentu tidak dapat membelah bumi dan ketinggian kamu tentu tidak dapat menandingi bukit.

Satu lagi penyakit hati yang ingin saya uraikan adalah takut. Takut adalah penyakit jiwa yang perlu diberantas. Kalau tidak penyakit itu akan senantiasa mengancam manusia, menyempitkan ruang hidup manusia, melemahkan dan terus membatasi kebebasan dan kemerdekaan manusia.

Rasa takut yang menguasai hati akan bertindak dalam berbagai bentuk, menurut suasana yang dihadapi. Takut hantu, takut jadi-jadian, takut harimau, takut ular, takut penjahat, takut miskin, takut dicerca orang, takut menegakkan kebenaran, takut maksiat dan takut pada Allah.

Di antara rasa takut yang disebutkan di atas ada rasa takut yang dilarang syariat, ada pula rasa takut yang disuruh syariat. Perlu diketahui bahwa kedua jenis takut itu tidak mungkin mengisi hati manusia dalam satu waktu. Kalau rasa takut yang dilarang syariat ada dalam hati, maka rasa takut yang disuruh syariat pasti tidak ada. Sebaliknya kalau takut yang disuruh syariat mengisi ruang hati maka takut yang dilarang kehilangan tempatnya.

Tujuan melawan hawa nafsu yang dianjurkan syariat adalah untuk membuang segala rasa takut yang dilarang untuk diganti dengan rasa takut yang disuruh. Puncak rasa takut yang dikehendaki syariat adalah rasa takut pada Allah, yang  artinya takut akan segala azab yang dijanjikan di dunia apalagi di Akhirat.

Untuk itu kita mesti melawan nafsu kita yang takut pada hantu atau jadi-jadian misalnya. Setiap kali kita terjumpa dengan suasana itu, jangan kita mengalah dengan nafsu. Kuatkan hati dan tanamkan keyakinan bahwa Allah saja yang layak kita takuti, yang lain hanyalah makhluk seperti kita dan tidak memiliki kuasa apa-apa.

Untuk lebih berkesan, coba di tengah malam kita pergi sendirian ke tanah pekuburan atau tempat-tempat yang seram. Masya Allah! Tentulah takut. Takut itulah yang mesti kita lawan. Lawan dengan iman dan ilmu yang ada bahwa tidak ada suatu kuasa pun yang bisa memberi kesan melainkan kuasa dan izin Allah. Waktu itu isi hati dengan zikrullah. Sadar dan yakin bahwa Allah senantiasa bersama kita dan Allah itu dekat dengan kita. Allah melihat dan sedang melihat apa yang kita lakukan, Allah Maha Mendengar dan mendengar apa yang kita katakan. Allah Maha Mengetahui segala masalah yang sedang melanda hati kita sekarang. Allah Penolong, Pembantu, Penyelamat dan  Belas Kasihan pada hamba-Nya yang mau mengikuti jalan-Nya.

Terjemahan: Orang yang bermujahadah (berjihad untuk mencari keredhaan Allah) pada jalan Kami, akan Kami tunjukkan jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang yang berbuat baik.
(Al Ankabut: 69)

Lakukan latihan itu dengan tawakal dan doa yang sungguh-sungguh, agar Allah merestui dan memudahkan perjalanan kita serta membuang rasa takut itu, untuk digantikan dengan ingatan dan keyakinan pada-Nya.

Bagi orang yang ingin menegakkan kebenaran, tetapi takut dicerca orang, takut dihina, takut dibenci dan dikesampingkan, juga wajib bemujahadah. Lawanlah rasa takut yang begitu dengan bertindak melakukan amalan yang telah disebutkan di atas. Misalnya kita takut hendak menyekolahkan anak ke sekolah agama dengan alasan takut tidak dapat kerja, sehingga gelaplah masa depan dan sikap hidup yang katanya ketinggalan zaman.

Cara melawannya adalah sekolahkan saja anak ke sekolah agama yang ditakuti itu. Kuatkan hati, pejamkan mata, tulikan telinga dan lepaskan si anak pergi. Apa saja yang dibisikkan nafsu dan syaitan kita lawan, jangan dilayani. Tawakal dan berdoa pada Allah semoga usaha itu direstui dan semoga Allah membuka jalan kemenangan pada kita di dunia dan Akhirat.

Bagi orang-orang yang tidak melawan nafsu, imannya tidak mungkin dapat bertambah, malah makin berkurang. Apakah mereka sadar atau tidak mereka telah diperbudak oleh nafsu, menempuh kecelakaan dan kutukan Allah di dunia dan akhirat.

Sebenarnya apa yang ditakuti, baik hantu maupun kemiskinan atau penghinaan orang tersebut pada hakikatnya tidak ada. Adakah hantu yang bertugas mencekik dan membunuh orang? Benarkah orang yang bersekolah agama miskin dan hina? Renungilah dan hayatilah hakikat itu. Kemudian sesuaikan pula dengan firman Allah:

Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong Allah, Allah akan menolong kamu dan Dia akan menetapkan kedudukanmu.
(Muhammad; 7 )

Demi Allah yang tidak akan mungkir janji, yakinlah bahwa setiap usaha yang bertujuan mencari keredhaan-Nya pasti mendapat jaminan dan dimuliakan.

Satu hal yang harus kita sadari bahwa Allah yang Maha Pemurah dan Pengasih itu, senantiasa bersedia untuk menolong siapa saja dari hamba-Nya. Allah juga telah menetapkan bahwa untuk mendidik hati dan menambah iman, perlu memperbanyak latihan melawan hawa nafsu, maka Allah akan selalu memberi peluang pada kita untuk berbuat begitu.

Ujian dari Allah yang selalu menimpa kita seperti miskin, sakit, kematian, kesedihan, kecacatan anggota badan, kekurangan paras wajah, lemah dan bodoh, nistaan dan hasad dengki orang, bencana alam serta kesusahan dan penderitaan yang lain, adalah peluang yang Allah berikan untuk kita bermujahadah. Makin tinggi taraf iman seseorang, makin banyak ujian yang Allah datangkan. Demikian maksud sabda Rasulullah SAW:

Terjemahan: Bala yang paling berat akan ditimpa pada nabi-nabi, kemudian orang yang paling mulia (setelah nabi) kemudian yang paling mulia setelah itu. Seseorang itu diuji mengikut pegangan agamanya. Jika kuat agamanya beratlah ujiannya. Jika lemah agamanya maka diuji mengikut agamanya.

Apabila jiwa di timpa kesusahan, artinya nafsu tergugat. Nafsu bakhil, sombong, penakut dan mazmumah yang lain menjadi sakit dan tersiksa setiap kali ditimpa ujian. Siapa saja, Islam atau kafir, selagi hamba Allah, pasti merasakan hal itu. Bagi orang-orang yang beriman yang sadar dengan maksud Allah berbuat begitu, setiap kali ditimpa ujian ia cepat-cepat memberitahu hatinya bahwa kalau ia sabar dan redha dengan ujian itu ia pasti akan mendapat satu dari dua hal berikut:

  1. Penghapusan dosa atau
  2. Kasih sayang Allah dan pangkat (derajat) di Syurga.

Apabila  hal itu diyakini sungguh-sungguh, bagi kita yang bertaraf iman ilmu tentu akan sanggup bermujahadah, memaksa nafsu untuk tenang dan merasa tidak ada apa-apa dengan penderitaan itu. Misalnya kita miskin, maka bujuklah hati untuk tidak merasa apa-apa dengan kemiskinan. Kajilah kebaikan yang didapat oleh orang miskin, di dunia maupun di Akhirat. Misalnya di dunia kita beruntung, tidak tamak, tidak susah bertanggung jawab membantu orang lain. Di Akhirat hisab akan dikurangi dan Syurga akan dipercepat.

Kemudian ajaklah hati untuk menerima pemberian Allah itu dengan redha, tanpa kesal dan buruk sangka dengan Allah. Yakinlah bahwa Allah cukup tahu kenapa kita perlu miskin, sebab itu Dia berbuat demikian. Dan kita pula cukup lemah untuk mengetahui hakikatnya apalagi untuk menangkisnya.

Laksana baju kita yang tidak pernah tahu kenapa kadang- kadang dibasuh, kadang-kadang digosok, kadang-kadang dijahit, kadang-kadang dipakai dan kadang-kadang dibuang. Maka begitulah kita, karena jahilnya kita tentang rahasia diri dan hati sendiri, sangat sesuai untuk kita redha dan sabar dengan ketentuan Allah kepada kita. Memang di peringkat mujahadah, hati masih sakit dan tidak puas. Hanya jagalah supaya kita tidak gelisah, tidak mengungkit-ungkit, tidak mengadu serta tidak buruk sangka dengan Allah. Kalau sifat itu dapat dikekalkan, insya Allah peluang untuk meningkatkan iman akan besar. Sebaliknya kalau setiap ujian dihadapi dengan keluh-kesah, kebimbangan, tidak sabar dan buruk sangka dengan Allah, bersedialah untuk menanggung kegelisahan jiwa yang perih dan penderitaan di Akhirat yang sangat berat.

Untuk kita ketahui, perlu dinyatakan bahwa bagi orang-orang muqarrobin dan nabi-nabi, iman yang tinggi menjadikan mereka lebih senang hidup dalam kesusahan daripada kesenangan. Mereka lebih menginginkan kekurangan daripada kecukupan. Sebagai bukti coba kita lihat doa Rasulullah SAW:

Terjemahan: Wahai Tuhan, hidupkan aku dalam kemiskinan, matikan aku dalam kemiskinan dan kumpulkan aku dalam Syurga bersama orang-orang miskin.
(Riwayat At Tarmizi)

Sayidina Ali dalam sejarahnya pernah ketika ia hanya memiliki sebiji kurma untuk berbuka puasa, tiba-tiba datang peminta sedekah meminta makanan, langsung diberikannya sebiji kurma itu.

Seorang wanita di zaman Rasulullah, yang memiliki tiga anak lelaki, sanggup melepaskan semua anaknya ke medan perang. Dia tersenyum ketika anak sulung dan anak keduanya mati syahid di medan perang. Tetapi menangis bila diberitahu anak bungsunya juga syahid. Bila ditanya kenapa dahulu tersenyum, sekarang menangis? Beliau menjawab, “Aku sedih karena tidak ada lagi anak yang dapat kukorbankan untuk jihad fisabilillah.”

Coba bandingkan kemampuan manusia-manusia dalam contoh di atas dengan kemampuan kita. Kemudian carilah faktor penting yang menjadikan perbedaan itu. Apabila menyadari bahwa iman lah penyebabnya maka tidak ada jalan lain bagi kita untuk sampai setinggi mereka selain memperbanyak latihan mujahadah dalam segala peluang yang Allah sediakan. Mujahadah melenyapkan berbagai mazmumah.

ii. Tahalli

Tahalli berarti menghias. Yakni lawan kata bagi takhalli. Sesudah kita mujahadah yaitu mengosongkan hati dari sifat terkeji atau mazmumah, segera kita menghias hati dengan sifat-sifat terpuji atau mahmudah. Supaya mudah dipahami, coba gambarkan hati kita sebagai sebuah mangkuk. Selama ini mangkuk itu berisi sifat-sifat mazmumah, setelah kita mujahadah maka sifat itu keluar meninggalkan mangkuk kosong. Waktu itulah kita masukkan ke dalam mangkuk itu sifat mahmudah. Di antara sifat mahmudah yang perlu menghias hati kita adalah :

  1. Jujur
  2. Ikhlas
  3. Tawadhu’
  4. Amanah
  5. Taubat
  6. Sangka baik
  7. Takut pada Allah
  8. Pemaaf
  9. Pemurah

10.  Syukur

11.  Zuhud

12.  Tenggang rasa

13.  Redha

14.  Sabar

15.  Rajin

16.  Berani

17.  Lapang dada

18.  Lemah lembut

19.  Kasih sesama mukmin

20.  Selalu ingat mati

21.  Tawakal

Untuk mengisi hati dengan sifat mahmudah sekali lagi kita perlu  mujahadah. Saya tegaskan sekali lagi bahwa dalam peringkat mujahadah kita, masih terasa berat dan susah. Maknanya belum ada ketenangan dan kelezatan yang sebenarnya. Insya Allah, kalau kita bersungguh-sungguh, lama-kelamaan bila sifat itu melekat di hati, akan terasalah lezatnya.

Cara-cara mujahadah dalam tahalli sama seperti kita mujahadah untuk takhalli. Misalnya kita mau menghias hati dengan sifat pemurah. Maka kita mujahadah dengan mengeluarkan harta atau barang kita, terutama yang kita suka dan sayang, untuk diberi pada yang memerlukannya. Mulanya tentu terasa berat dan susah. Tetapi jangan menyerah. Kita lawan. Ingatkan hati bagaimana orang-orang muqarrobin berebut untuk mendapatkan pahala sedekah. Sayidatina Aisyah r.h. di waktu tidak memiliki apa-apa untuk dimakan,  beliau mencoba juga mendapatkan sebelah kurma untuk disedekahkan. Begitu besar keinginan mereka pada pahala dan rindunya pada Syurga. Mereka berlomba-lomba menyahut pertanyaan Allah SWT:

Terjemahan: Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yag baik, maka Allah akan melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.
(Al Hadid: 11)

Setiap kali kita merasa sayang pada harta kita, setiap kali itu pula kita keluarkan. Insya Allah lama-kelamaan kita akan memiliki sifat pemurah.

Begitu juga dengan sifat-sifat lain seperti kasih sayang, berani, tawadhuk dan semua sifat mahmudah yang lain juga perlu kita miliki. Untuk itu mesti bermujahadah. Jika tidak, iman juga ikut hilang, sebab iman itu berdiri di atas sifat-sifat mahmudah.

iii. Tajalli

Sebagai hasil mujahadah dalam takhalli dan tahalli, kita  memperoleh tajalli. Yaitu sejenis perasaan yang datang sendiri tanpa memerlukan usaha lagi. Agak sukar untuk dituliskan apa itu tajalli yang sebenarnya. Hal itu karena tajalli adalah sejenis perasaan yang hanya mungkin dimengerti oleh orang-orang yang merasakannya. Seperti halnya gula, manisnya saja tidak akan dapat digambarkan secara tepat.

Tajalli secara ringkas adalah perasaan tentram, tenang dan bahagia. Hati seakan-akan terbuka, hidup, dan terasa kebesaran Allah. Ingatan dan rindu penuh tertuju pada Allah. Harapan dan pergantungan tidak pada yang lain, selain Allah. Seluruh amal bakti adalah karena dan untuk Allah semata-mata. Apa saja masalah hidup, dihadapi dengan tenang dan bahagia, juga tidak ada  kesusahan dalam hidupnya, sebab semua itu dirasakan sebagai pemberian dari kekasihnya, Allah SWT. Kalau begitu,bagi orang-orang yang beriman, dunia ini sudah terasa bagai Syurga. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan sejati dan abadi yaitu kebahagiaan hati.

2. SHALAT SUNAT

Jalan yang kedua adalah dengan melakukan shalat sunat. Perkara penting yang perlu diambil perhatian sewaktu menunaikan shalat sunat adalah khusyuk. Hal itu berdasarkan apa yang diingatkan oleh baginda Rasulullah kepada Abu Zar:

Ya Abu Zar, dua rakaat shalat yang dikerjakan dengan khusyuk itu lebih baik dari shalat sepanjang malam tetapi dengan hati yang lalai.
Shalat yang khusyuk dapat diartikan shalat yang sempurna lahir dan batin. Ketika jasad menghadap Allah, hati juga menghadap Allah. Ketika jasad tunduk menyembah Allah, hati juga tunduk menyembah Allah. Ketika mulut menyebut ‘Allahu Akbar’, hati juga mengaku Allah Maha Besar. Ketika jasad sujud menghina diri, hati juga menyungkur menghina diri. Dan ketika mulut memuji, mengagungkan dan berdoa pada Allah, hati juga memuja, merintih dan tenggelam dalam penyerahan diri pada Allah. Telah bertanya Jibril kepada Nabi SAW:

Terjemahan: “Kabarkan kepadaku apa itu ihsan?” Dijawab baginda, “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika tidak, yakinlah bahwa Dia melihat engkau.”
(Riwayat Muslim)

Kalaulah shalat itu dapat dihayati, sebagaimana yang dianjurkan di atas, kesannya akan cukup besar pada jiwa manusia. Iman akan bertambah di samping bertambahnya rasa tawakal, syukur, redha, sabar, dan sifat mahmudah yang lain. Cukuplah sedikit raka’atnya asalkan khusyuk daripada banyak tetapi lalai. Sebab yang menjadi tujuan ibadah itu adalah lahirnya iman dan akhlak manusia. Kalau banyak rakaatnya tetapi dikerjakan dengan hati yang lalai, maka bukan saja iman dan akhlak tidak bertambah malah akan menjadi sia-sia. Mungkin Allah berikan juga pahalanya  tetapi banggakah kita kalau perniagaan yang kita buat hanya mengembalikan modal, tidak untung sama sekali? Shalat yang lalai tidak akan menambah iman dan menguatkan jiwa sebaliknya akan meletihkan badan saja. Di Padang Mahsyar nanti, Allah akan memanggil manusia yang shalat untuk diperiksa shalatnya. Waktu itu shalat akan dikategorikan pada lima peringkat:

  1. Shalat orang jahil
  2. Shalat orang lalai
  3. Shalat orang yang separuh lalai separuh khusyuk.
  4. Shalat orang khusyuk
  5. Shalat nabi-nabi dan rasul.

Shalat orang jahil adalah shalat yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki ilmu tentang shalat. Dia tidak tahu rukun dan sunat serta tanpa peraturan yang telah ditetapkan syariat. Karena itu sejak awal shalatnya ditolak bahkan ia berdosa karena tidak belajar.

Shalat orang lalai adalah shalat yang sempurna lahirnya tetapi hatinya sama sekali tidak hadir dalam shalat. Bermacam-macam perkara yang diingat sewaktu berdiri, rukuk, sujud dan duduk dalam shalatnya itu. Dari awal hingga akhir shalat tidak sedikit pun mengingat Allah. Shalat seperti itu akan diganjar dengan dosa, bukan pahala.
Allah berfirman:

Terjemahan: Neraka Wail bagi orang yang shalat. Yang mereka itu lalai dalam shalatnya.
(Al Maa’un: 4 & 5)

Shalat yang ketiga adalah di dalam shalatnya terjadi tarik-menarik dengan syaitan. Maknanya orang itu senantiasa berjaga, bila syaitan mulai melalaikannya dari Allah, cepat-cepat dikembalikan ingatannya pada Allah. Begitulah terjadi hingga akhir shalat. Ada waktu lalai, ada waktu khusyuk. Shalat seperti itu tidak berdosa tetapi tidak juga berpahala. Cuma dimaafkan oleh Allah.

Shalat orang yang khusyuk adalah shalat orang yang sepanjang shalatnya penuh ingatan pada Allah dan pada apa yang dibacanya dalam shalat. Orang itu dapat merasakan bahwa dia sedang menghadap Allah. Karena itu perhatiannya hanya pada Allah, memohon ampun pada Allah, berdoa pada Allah, menghina diri pada Allah dan mengagungkan Allah. Shalat seperti itulah yang akan menghapus dosa, memperbaharui ikrar, menguatkan iman, mendekatkan hati pada Allah, meningkatkan takwa dan mengelakkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Itulah keuntungan di dunia, dan di Akhirat Allah anugerahkan pahala dan Syurga yang penuh kenikmatan.

Shalat yang kelima adalah peringkat tertinggi yaitu shalat para nabi dan rasul. Mereka itu luar biasa khusyuknya. Mereka benar-benar melihat Allah dengan mata hati, sebab itu shalat mereka seakan-akan berbincang-bincang dengan Allah. Karena itu mereka tidak pernah jemu. Seperti indahnya perasaan hati orang yang bertemu kekasihnya, begitulah indahnya perasaan mereka dalam shalat. Salah satu hal yang disukai Rasulullah, sebagaimana sabda Baginda, “Shalat penyejuk mataku,”. Syurga yang akan Allah anugerahkan kepada mereka adalah Syurga tertinggi yang tidak tercapai oleh orang-orang awam seperti kita.

Jadi, tugas kita sekarang adalah memperbaiki shalat di samping memperbanyaknya. Untuk itu kita sekali lagi mesti bermujahadah. Dan hanya dengan mujahadah kita mungkin dapat meningkatkan iman dan memperbanyak amal soleh. Dan hanya dengan iman dan amal soleh saja kita dapat membangun dan mempercantik rumah kita di Akhirat nanti.

Amalan-amalan lain yang setaraf dengan shalat sunat adalah zikrullah, membaca Al Quran, berdoa, bermuzakarah, bertahlil dan sebagainya. Semua ibadah-ibadah itu kalau dikerjakan dengan betul akan meresap ke hati dan menghasilkan iman, ketenangan serta kebahagiaan di hati.

Firman Allah:

Terjemahan: Ketahuilah bahwa dengan mengingati Allah itu hati akan menjadi tenang.
(Ar Ra’d: 28)

Syaratnya ibadah itu mesti dilakukan dengan beradab, dipahami dan dihayati maksudnya. Misalnya kita menyebut ‘Subhanallah’, hati kita mesti diberitahu bahwa Maha Suci Allah dari kekurangan yang disifatkan pada-Nya. Bila menyebut ‘Alhamdulillah’, resapilah di hati bahwa segala puji bagi Allah. Segala kebaikan, segala nikmat dan rahmat yang memenuhi langit dan bumi adalah kepunyaan Allah. Kenanglah segala pemberian Allah pada kita sewaktu kita menyebut pujian itu, supaya terasa hubungan kita dengan Allah. Begitu juga ketika menyebut ‘Allahu Akbar’, sadarkan hati bahwa Allah Maha Besar, Maha Pencipta, Maha Perkasa, dan Maha Pengatur seluruh langit dan bumi. Rasakan betapa kerdilnya kita di bawah perhatian Allah yang hebat itu.

3. MEMBACA AL QURAN
Al Quran adalah Kitabullah. Diturunkan khusus untuk manusia. Membacanya adalah ibadah, memahaminya adalah obat, mengikutinya adalah petunjuk dan menghayatinya adalah iman dan takwa. Rugi besar bagi orang yang menganggap remeh dan ringan terhadap Al Quran. Bertanya Allah SWT dengan firman-Nya:

Terjemahan: Sesungguhnya Al Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia. (Yang terdapat) pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuz). Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Quran ini? Kamu (menggantikan) rezeki (Allah) dengan mendustakan Allah.
(Al Waqiah: 71-82)

Umat Islam kini memang begitu, menyamakan taraf kitab mulia itu dengan buku ciptaan manusia. Sewaktu-waktu Al Quran dipermainkan untuk kesenangan dengan tujuan duniawi semata-mata. Alangkah sedihnya. Kembalilah wahai manusia, sama-sama kita junjung pusaka mulia, warisan yang betul- betul ditujukan untuk kita. Kita agungkan seagung-agungnya, untuk kita perjuangkan sebenar-benarnya. Barulah sesuai dengan kemuliaan dan kehebatan yang ada padanya.

Adab-adab yang perlu dilakukan ketika kita membaca kitab mulia itu diantaranya adalah:

  1. Wudhuk
  2. Tempat duduk mesti bersih dan suci seperti masjid, mushola dan lain-lain
  3. Menghadap kiblat
  4. Membaca taawudz (A’udzubillaahi minasyaithaan nirrajim) sebelum memulakan bacaan.
  5. Bacaan dilakukan dengan tertib yakni dengan terang dan perlahan.
  6. Memahami dan menghayati bacaan dengan melakukan apa yang dikehendaki oleh ayat yang dibaca. Misalnya kita baca ayat tasbih, maka kita pun bertasbih dan bertahmid. Bila kita baca ayat doa dan istighfar kita pun berdoa dan meminta ampun. Bila membaca ayat yang menceritakan azab Neraka kita pun meminta perlindungan dari azab Neraka. Bila membaca ayat menceritakan nikmat Syurga kita pun berdoa agar diberi rezki tersebut. Bila membaca tentang ayat orang kafir yang  mensyirikkan Allah, kita segera menyangkal dengan ucapan Subhanarabbika rabbil ‘izzati amma yasifuun.
    Begitulah seterusnya. Ucapan-ucapan itu boleh diucapkan di mulut atau  di hati. Yang penting kesungguhan dan keikhlasan kita mengucapkannya.
  7. Bacaan dibuat dengan suara dan nada yang merdu dan enak didengar.
  8. Jangan putuskan bacaan hanya karena hendak makan atau berbincang-bincang. Hentikan di tempat-tempat yang telah ditentukan. Elok diakhiri dengan doa.

Sesungguhnya kalau kandungan Al Quran itu selalu diperhatikan dengan kepahaman dan keimanan Insya Allah hati akan terdidik untuk tambah beriman dan bertakwa.

Berdoa juga merupakan ibadah serta sumber iman dan pergantungan kita kepada Allah. Orang-orang yang tidak mau berdoa sebenarnya sombong dengan Allah. Bukankah terlalu banyak hajat, keinginan dan harapan kita yang hanya mungkin tercapai dengan pertolongan Allah? Kalau begitu berdoalah!

Ceritakan semua masalah pada Allah dan gantungkan harapan sepenuhnya pada Allah. Berdoalah di waktu-waktu dan di tempat yang afdol dengan hati penuh khusyuk dan mengharap dengan yakin dan sabar, insya Allah akan do’a akan menjadi  sumber ketenangan dan kebahagiaan. Sebab sudah fitrah manusia apabila dalam kesusahan ia akan mengalami ketegangan pikiran dan perasaan.

Satu-satunya cara mengobati penyakit itu adalah dengan mengadu, mengharap dan menyandarkan diri pada satu kuasa yang bisa menolongnya menyelesaikan masalah itu. Karena itu Islam mengajar berdoa, sebab hanya Allah kuasa mutlak yang layak dan mampu berbuat segala sesuatu. Faedah doa adalah jiwa yang lemah akan menjadi kuat, hati yang susah akan jadi senang dan perasaan yang gelisah akan menjadi tenang.

4. TAFAKUR
Kemudian kita lewati jalan tafakur. Bersabda Rasulullah SAW:

Terjemahan: Berpikir satu saat itu lebih baik dari ibadah setahun.
Anjuran berpikir bertujuan menyadarkan manusia tentang sifat wujud dan Maha Kuasanya Allah. Perkara-perkara yang bisa dipikirkan adalah tentang diri sendiri. Allah mulakan kejadian kita hanya dari setitik mani. Harga setitik mani lebih rendah dari harga sebiji padi, kalau saja Allah tidak menanamkannya ke dalam rahim wanita. Tidak juga akan berharga kalau Allah tidak memelihara, menghidupkan dengan memberi segala keperluan untuk tinggal di dalam rahim. Belum juga akan berharga sekiranya Allah tidak memudahkan jalan keluar baginya ke atas bumi, dan belum juga akan berharga kalau  tidak dibesarkan Allah serta diberi akal pikiran.

Dengan akal yang Allah karuniakan, manusia menjadi raja, menteri, ahli pikir, profesor, insinyur, dokter, hakim, pensyarah, guru dan lain-lain yang menjadikan manusia itu pandai, kuat, kaya dan hidup lepas bebas. Dengan akal pikiran, manusia telah dapat meratakan gunung, membelah angkasa, menyelami lautan dan memperkosa bumi semau-maunya. Tetapi tidak selamanya begitu. Kita tidak akan bisa semau-maunya dan tidak selamanya memperoleh apa yang kita kehendaki.

Kita pasti mati. Bagaimana mati itu dapat dihalangi? Tidak mungkin. Seperti tidak mungkinnya kita mendatangkan diri kita ke dunia pada awal kejadian kita dulu.

Firman Allah di dalam Al Quran:

Terjemahan: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah lemah ita menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban, Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Perkasa.
(Ar Rum: 54)

Sesudah mati, Allah berjanji untuk menghidupkan dan membangkitkan kita kembali di Hari Kiamat. Apakah alasan untuk kita percaya akan janji Allah itu? Siapakah kita untuk menolak kedatangannya? Firman Allah:

Terjemahan: Tidaklah mencipta dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (mencipta dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(Luqman: 28)

Pikirkan pula nikmat-nikmat Allah yang kita gunakan saat ini. Mata, telinga, kaki, tangan dan semuanya sangat penting untuk keperluan hidup. Allah karuniakan tanpa menagih bayaran sepeser pun dari kita. Padahal harga sepasang kaki palsu saja berjuta-juta rupiah. Gigi palsu juga mahal. Apa lagi harga mata, telinga, lidah, hati dan akal yang Allah karuniakan, sesungguhnya tidak ternilai. Dengan apa akan dibalas pemberian yang begitu besar? Pikirkan pula apakah kita sudah berterima kasih kepada Allah? Sudahkah kita tunaikan suruhan-Nya? Sudah berhentikah kita dari membuat perkara-perkara yang dilarang-Nya? Cukupkah sudah bakti kita sebagai hamba, untuk membalas pemurah dan kasih sayang Allah pemelihara kita itu?

Diceritakan bahwa telah meninggal seorang abid. Allah memanggil untuk diberitahu bahwa dia akan dimasukkan ke dalam Syurga, sebagai satu rahmat dan pemurah Allah untuknya. Mendengar itu si abid merasa tidak puas hati karena mendapat Syurga melalui belas kasihan Allah, sedangkan di dunia dia begitu kuat beribadah. Si abid lalu memohon agar dimasukkan ke Syurga yang setimpal dengan amal ibadahnya yang banyak.

Maka Allah SWTmemerintahkan malaikat menghitung dan menilai ibadah si abid. Setelah selesai, Allah mengumumkan bahwa ibadah-ibadah yang dibuat oleh si abid tidakpun cukup untuk membayar harga sebelah matanya, apalagi untuk mendapat Syurga. Si abid pun tersipu-sipu, lalu memohon agar berpeluang masuk ke Syurga.

Demikian satu contoh bagaimana nilai bakti kita itu masih belum sesuai dengan harga pemberian Allah pada kita. Bahkan bila setiap saat dari umur kita digunakan untuk menghambakan diri pada Allah, belumlah sesuai. Apa lagi kalau seseorang yang sombong, ingkar dan durhaka pada Allah. Sangat sesuai bila Allah lemparkan dalam api neraka, tersiksa selama-lamanya.

Lihat pula padi yang kita jadikan nasi untuk makanan harian kita. Dapatkah pohon itu tumbuh sendiri kalau Tuhan tidak menurunkan hujan, dan kalau tanah tidak digemburkan untuk mendapat air dan tidak digemburkan supaya biji di dalam tanah itu dapat menembus naik untuk mendapatkan cahaya matahari? Dapatkah manusia membuat air? Dapatkah manusia melubangi tanah dengan sehalus-halusnya hingga akar pohon itu dapat menjalar mencari makan dan minumnya? Manusia menanam, tetapi siapa yang menumbuhkannya?

Sesudah berpikir dan membuat kesimpulan, hati terus terbuka, terasa kewujudan, kepemurahan dan kekuasaan Allah SWT. Selanjutnya hati akan menyadarkan akal tentang perlunya Allah itu disembah. Hati selanjutnya akan mengarahkan kaki, tangan dan seluruh anggota lahir menunaikan perintah Allah dan berhenti dari mengerjakan larangan-larangan-Nya. Kalau tidak begitu, sangat sesuailah ditangiskan, karena butanya hati sebenarnya lebih parah dari butanya mata.

Kemudian dongakkan muka ke langit! Lihat matahari yang naik dan turun, memberi panas dan menjadikan waktu bermusim-musim, bulan yang mengecil dan membesar, menjadikan malam kadang-kadang gelap, kadang-kadang terang, menjadikan air laut pasang dan surut. Lihat bintang-bintang yang berkerdipan, menghias langit indah berseri-seri. Lihatlah semua itu. Sebutlah Allah! Resapkan di hati betapa kuasanya DIA. Pemurahnya DIA. Dengan itu mudah-mudahan akan lembutlah hati untuk tunduk menyembah dan mengabdikan diri pada-Nya.

Bersabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

“Siapa yang mendongak ke langit, melihat bulan dan bintang, kemudian terasa di hatinya betapa kuasa-Nya Allah, maka sebanyak jumlah bintang-bintang itulah dosanya diampunkan.”
Seseorang yang melihat alam, kemudian berpikir tentang Allah lalu terasa olehnya kehebatan Allah, hingga lembut hatinya sehingga mau tunduk menyembah Allah dengan sadar dan khusyuk, itulah manusia yang sempurna. Dia sadar dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah dan mau menyerahkan kembali pemberian Allah itu kepada-Nya. Berjayalah dia di dunia dan di Akhirat.

Di dalam Al Quran, Allah telah berulang-ulang kali menyuruh manusia berpikir, menggunakan akal yang diberikan untuk menyaksikan wujud dan perkasanya Allah. Firman-Nya:

Terjemahan: Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya  Allah telah menundukkan (untuk kepentinganmu) apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan diantara manusia masih ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.
(Luqman: 20)

Terjemahan: Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya adalah menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak (menguasai bumi).
(Ar Rum: 20)

Terjemahan: Dan diantara kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.
(Ar Rum: 21)

Terjemahan: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah diciptakan langit dan bumi berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
(Ar Rum: 22)

Terjemahan: Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya adalah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengar.
(Ar Rum: 23)

Terjemahan:Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya Dia memperlihatkan padamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit; lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.
(Ar Rum: 24)

Terjemahan: Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya adalah berdirinya langit dan bumi dengan indah-Nya. Kemudian apabila Dia memanggilmu sekali panggil dari bumi, ketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).
(Ar Rum: 25)

Satu hal lagi yang patut dipikirkan adalah tentang dosa. Berapa banyak dosa kita pada Allah dan sesama manusia? Selamatkah kita dari siksaan dan kemurkaan Allah di dunia dan juga di Akhirat? Mampukah kita berhadapan dengan Mungkar dan Nakir di dalam kubur nanti? Tahankah kita dengan bakaran api Neraka?

Pikirkan itu selalu, insya-Allah hati akan lembut.

Kemudian terapkan keyakinan yang sungguh-sungguh bahwa mati itu adalah benar, memasuki liang kubur itu adalah benar. Pertanyaan Munkar dan Nakir itu adalah benar. Dihidupkannya manusia kembali untuk diperiksa amalannya adalah benar. Melalui Siratal Mustaqim adalah benar, pembalasan siksa Neraka dan nikmat Syurga adalah benar belaka. Pasti terjadi tanpa syak dan ragu.

Sekiranya penerangan itu diulang setiap hari insya Allah hati akan dimasuki iman yang membaja, yang tidak mudah digoyangkan walau oleh ‘badai topan’ yang dahsyat.
Perkara lain yang dibuat untuk mendapatkan iman adalah berpuasa sunat, berjuang dan berjihad, bersedekah, menziarahi orang sakit atau jenazah dan lain-lain. Kalau amalan-amalan itu dilakukan sesuai adab dan tujuan yang dianjurkan syariat, semuanya dapat menambah iman.

Perlu pula diingatkan bahwa setiap dosa baik kecil maupun besar adalah perusak dan peruntuh iman. Rasulullah SAW bersabda:

Terjemahan: Bukanlah orang yang berzina ketika berzina itu seorang mukmin.
Artinya seorang yang sedang berzina itu rusak dan hilanglah imannya. Maka bagi mereka yang betul-betul insaf memelihara dan meningkatkan imannya, janganlah melakukan dosa. Kalau tidak sengaja dibuat, cepat-cepat istighfar, menyesal dan bertaubat.

Iman juga dapat berkurang sesudah naik atau dapat naik sesudah turun. Itulah sifat iman yang dimiliki oleh kebanyakan dari kita yaitu peringkat iman ilmu. Sebab itu supaya tidak mengalami penurunan, iman mesti selalu dipupuk dengan berbagai cara yang telah banyak diuraikan sebelum ini. Siapa yang rajin selamatlah ia. Sebaliknya siapa yang lalai, akan menerima akibatnya.

Sumber :  Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad Attamimi, “Iman dan Persoalannya”

Pos ini dipublikasikan di Motivasi. Tandai permalink.

19 Balasan ke Cara-Cara Mendapatkan Iman

  1. TRI WAHYU KUNINGSIH berkata:

    Assalamualaikum WR. Wb.

    Yaw itulah manusia, sudah imannya gak kuat mudah dibujuk setan pula….
    Pada dasarnya iman kita itu FLuktuatif jadi mudah terjerumus kepada hal2 negatif….
    KALau kita diber nikmat berlebih bukannya bersyukur malah takabur…
    Kalau diberi musibah sedikit saja bukannya menerima dan menyadari kesalahan tapi malah menghujat….INILAH MANUSIA….maklumlah…heemmmmzzz

  2. JOHAN ABDULLAH berkata:

    Assalamualaikum Wr. WB.

    Insya AlLah…saya akan meningkatkan Iman saya….
    Saya akan berusaha menjadi insan yang lebih baik dari hari kemarin…

  3. SLAMET ROZIKIN berkata:

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Insya ALLah saya akan berusaha meningkatkan kualitas iman saya.

  4. Novi Effiana Putri berkata:

    Assalamu ‘alaikum wr.wb

    Alhamdulillah….

    Setelah membaca tulisan diatas, menambah pengetahuan saya bagaiman cara saya meningkatkan iman dari diri saya, dan membentengi dari saya dari maksiat dan godaan setan yang terkutuk,,… amien

    Wassalamu ‘alaikum wr.wb

  5. Sangga Pramana Wicaksana berkata:

    Assalamualaikum, Wr.Wb

    A.Berdasarkan ceriita di atas, untuk memperoleh iman pertama-tama kita harus melawan hawa nafsu kita,yang kedua dengan melaksanakan shalat sunat,yang ketiga dengan membaca Qur’an dan yang keempat adalah Tafakur.

    A.nafsu adalah musuh terbesar yang telah banyak menyesatkan umat manusia dan menuhankan nafsu mereka.

    Dalam melawan hawa nafsu ada 3 ,yaitu,
    1.Takhalli (mengosongkan, membuang ataupun menyucikan)
    2.Tahalli (mengisi atau menghias)
    3.Tajalli (terasa kebesaran dan kehebatan Allah).

    Sifat-sifat buruk seperti marah,suka makan,sombong,riya’ yang melekat di hati seperti daki melekat di badan. Kalau kita malas menggosok, akan bertambah tebal dan melekat kuat. Sebaliknya kalau kita rajin meneliti dan menggosoknya maka akan bersihlah hati dan sucilah jiwa.

    B.Perkara penting yang perlu diambil perhatian sewaktu menunaikan shalat sunat adalah khusyuk, yang mana adalah shalat yang sempurna lahir dan batin.

    C.Al Quran adalah Kitabullah. Diturunkan khusus untuk manusia. Membacanya adalah ibadah, memahaminya adalah obat, mengikutinya adalah petunjuk dan menghayatinya adalah iman dan takwa. Rugi besar bagi orang yang menganggap remeh dan ringan terhadap Al Quran

    D. Tafakur, Berpikir satu saat itu lebih baik dari ibadah setahun .Allah memberikan kita akal untuk berfikir sehingga kita dapat memikirkan tentang Allah, semua yang Allah berikan pada kita, agar kita bersyukur. subhanallah, . . .

    Wassalamualaikum, Wr.Wb

  6. Ida Ayu T. berkata:

    Ass . wr. wb.

    mungkin bisa di artikan manusia itu mewarisi lebih banyak mewarisi sifat setan daripada sifat malaikat. sebagai manusia kita harus bisa sedikit demi sedikit mengikis sifat buruk dan memupuk sifat baik.
    yang penting sebagai manusia meskipun banyak cobaan tetap berusaha untuk senantiasa bersyukur dan tidak banyak mengeluh. Semua itu ada masanya dan akan indah pada waktunya . Amin.

    wass.

  7. M. Facrurrokhman Dika (02.208.2948) berkata:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Al iman yazidu wa yanqush….”iman itu dapat bertambah dan berkurang”. yazidu bit taqwa wa yanqushu bil ma’shiyah…”bertambah dengan taqwa dan berkurang dengan maksiat”

    sesungguhnya mendapatkan/meningkatkan iman relatif lebih mudah dari pada Menjaganya. karena iman dapat berkurang dengan maksiat. sedangkan maksiat selalu dikelilingi dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi, sehingga mudah bagi kita untuk terjerumus ke dalamnya.

    berdo’alah selalu agar dapat terjaga keimanan kita…
    semoga Allah selalu menjaga keimanan kita, dan selalu terhindar dari maksiat…Amin.

    Wassalamu’alaikum…

  8. Agustian Achmady berkata:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Manusia memang makluk yang paling kompleks, baik secara fisik maupun secara kejiwaan . Manusia yang kompleks ini ,ternyata bukan hanya super ,tetapi juga lemah ,
    kejatuhan dari martabat yang tinggi menjadi rendah itu tak lain adalah karena hawa nafsu seseorang .
    setelah say membaca diatas insya Allah saya akn berusaha untuk memperbaiki iman , perilaku saya ,,,
    semoga Allah selalu memberikan kita petunjuk ke jalan yang mulia , Amien

  9. M. Facrurrokhman Dika (02.208.2948) berkata:

    Assalamu’alaikum…

    maaf, ralat…

    yang salah:
    Al iman yazidu wa yanqush….”iman itu dapat bertambah dan berkurang”. yazidu bit taqwa wa yanqushu bil ma’shiyah…”bertambah dengan taqwa dan berkurang dengan maksiat”

    yang benar:
    Al iman yazidu wa yanqush….”iman itu dapat bertambah dan berkurang”. Yazidu bil bitho’ah wa yanqushu bil ma’shiyah…”bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat”

    trims..
    Wassalamu’alaikum….

  10. SUKMA JUNI LISTYATI berkata:

    Assalamu’alaikum wr.wb. …

    Allah SWT selalu menunjukkan cara-cara agar manusia dapat menjadi beriman. Namun manusia terkadang tak mau berusaha agar mencapai tujuan tersebut.
    Karna semuanya itu harus dilakukan dengan penuh kesadaran, kemauan ataupun niat.

    Dan tak hanya itu, sebagai manusia haruslah menjadi orang yang jujur, sabar, penuh kasih sayang dan masih banyak lagi…
    Serta yang paling utama adalah takut kepada Allah SWT…
    Dalam hal ini haruslah lebih meningkatkan iman kita kepada Allah SWT,,,,

  11. trisno wibowo 022082973 berkata:

    Assalamualaikum wr.wb

    Allah selalu memperingatkan kita dalam melakukan suatu perbuatan.dan setelah kita melakukan perbuatan yang tak terpuji kita akan menyesal di belakangnya..tapi terkadang manusia tak menghiraukan itu smua..karna kekurangan iman manusia kepada ALLAH SWT.

    manusia harus selalu berpedoman kepada al qur’an dan al hadist agar manusia tidak terjerumus dalam kesesatan yg nyata…serta harus mempunyai rasa takut kepada ALLAH n hari akhir…jadi kita harus meningkatkan iman n takwa kita kepada allah swt..

  12. suhariawan 022082968 berkata:

    assalamualaikum wr.wb.

    beriman kepada allah swt adalah kewajiban umat muslim..banyak manusia melakukan kesalahan tetapi tidak di sadarinya karna manusia merasa angkuh..n sombong…karena kurangnya manusia kepada allah..

    manusia harus berpedoman kepada al qur’an n alhadis biar tidak terjerumus n banyak melakukan kesalahan…

  13. Syamsul Ma'arif berkata:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb

    Memperbaiki dan meningkatkan kadar keimanan kita merupakan suatu tujuan yang mulia. Tetapi kalau hanya ada kemauan tanpa ada usaha atau ikhtiar maka tak akan mendapatkan hasil.
    ALLAH tidak akan membatasi umatnya untuk merubah perbuatannya karena ALLAH telah berjanji bahwa Tidak akan merubah suatu kaum jika mereka tidak merubahnya. Dari sinilah kita berpacu untuk selalu meningkatkan, merubah kadar keimanan kita yang dulunya hanya pengakuan dari diri saja seiring dengan kesdaran, kemauan kita serta usaha yang maksimal maka pengakuan keimanan itu akan berubah dalam aplikasi yang sesungguhnya dalam perbuatan.
    Semoga kita senantiasa selalu mendapat bimbinganNya untuk menuju jalan yang lurus dengan mengharap ridho dariNya. Amin….
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

  14. yunika adi setianto berkata:

    assalamualaikum.wr.wb

    sekiranya kita sebagai manusia memang sulit untuk melawan yang namanya hawa nafsu. padahal sebenarnya awal dari kita berbuat tidak baik adalah dampak dari hawa nafsu yang tidak terkendali.

    wassalamualaikum.wr.wb

  15. M ZAENAL MUTAKIN berkata:

    Asslamualaikm Wr Wb
    Iman adalah bekal manusia untuk menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat kelak.,apabila selama di dunia manusia memiliki iman yang kuat maka di akhirat akan merasakan hasilnya.
    Wassalamualaikm Wr Wb

  16. syafiq syaifuddin berkata:

    Memperbaiki dan meningkatkan kadar keimanan kita merupakan suatu tujuan yang mulia. Tetapi kalau hanya ada kemauan tanpa ada usaha atau ikhtiar maka tak akan mendapatkan hasil.
    ALLAH tidak akan membatasi umatnya untuk merubah perbuatannya karena ALLAH telah berjanji bahwa Tidak akan merubah suatu kaum jika mereka tidak merubahnya. Dari sinilah kita berpacu untuk selalu meningkatkan, merubah kadar keimanan kita yang dulunya hanya pengakuan dari diri saja seiring dengan kesdaran, kemauan kita serta usaha yang maksimal maka pengakuan keimanan itu akan berubah dalam aplikasi yang sesungguhnya dalam perbuatan.
    semoga hari esok lebih baik daripada hari kemarin,tinggalkan masa lalu dan menatap masa depan.
    Semoga kita senantiasa selalu mendapat bimbinganNya untuk menuju jalan yang lurus dengan mengharap ridho dariNya. Amin….
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

  17. misrandi berkata:

    insya AlLah…saya akan meningkatkan Iman saya….
    Saya akan berusaha menjadi insan yang lebih baik dari hari kemarin…
    beriman kepada allah swt adalah kewajiban umat muslim..banyak manusia melakukan kesalahan tetapi tidak di sadarinya karna manusia merasa angkuh..n sombong…karena kurangnya manusia kepada allah..

    manusia harus berpedoman kepada al qur’an n alhadis biar tidak terjerumus n banyak melakukan kesalahan…

  18. muh.taufik ramadhani berkata:

    terimakasih banyak….

    banyak masukan yg dapat saya terima….
    terlalu banyak masalah kehidupan dan apabila tidak diimbangi dengan iman…
    hidup tak bermakna….
    dapat terbuai dengan yg sementara…
    hidup di dunia tnapa pegangan sama saja hanyut tanpa kepastian
    dan menjadi sia-sia

  19. sofisukur@yahoo.com berkata:

    Assalamualaikum, Wr.Wb :
    Ustadzi Abah sumirin, saya tertarik sekali dengan tulisan yg ustadzi sampaikan namun ada secercah guratan gundah gulana dalam jiwa ini ketika aku membaca orang yg berdosa akan masuk neraka, walau saya belum bisa membayangkan sakitnya azab neraka. namun dalam batin senantiasa teringat syair abu nawwas ketika membayangkan azab neraka. Ustadzi ;”kiranya apa yang harus senantiasa kita lakukan agar iman kita senantiasa tebal dan berhias ibadah kepada-Nya. Nafsu kita senantiasa meribet kita dalam setiap waktu.
    Ustadzi tulislah syair-syair penyejuk hati akan senantiasa kubuka dan kuhayati semoga dapat menjadi wahana taqorrup ilahi.amin
    Wassalamualaikum, Wr.Wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s