AGAMA

Agama

Penulis : Hamid Fahmy Zarkasyi

Di pinggir jalan kota Manchester Inggeris terdapat papan iklan besar bertuliskan kata-kata singkat “It’s like Religion”. Iklan itu tidak ada hubungannya dengan agama atau kepercayaan apapun. Disitu terpampang gambar seorang pemain bola dengan latar belakang ribuan supporternya yang fanatik. Saya baru tahu kalau itu iklan klub sepakbola setelah membaca tulisan dibawahnya Manchester United.

Sepakbola dengan supporter fanatik itu biasa, tapi tulisan it’s like religion itu cukup mengusik pikiran saya. Kalau iklan itu di pasang di Jalan Thamrin Jakarta ummat beragama pasti akan geger. Ini pelecehan terhadap agama. Tapi di Barat agama bisa difahami seperti itu. Agama adalah fanatisme, kata para sosiolog. Bahkan ketika seorang selebritinya mengatakan My religion is song, sex, sand and champagne juga masih dianggap waras. Mungkin ini yang disinyalir al-Qur’an ara’ayta man ittakhadha ilahahu hawahu (QS.25:43).

Pada dataran diskursus akademik, makna religion di Barat memang problematik. Bertahun-tahun mereka mencoba mendefinisikan religion tapi gagal. Mereka tetap tidak mampu menjangkau hal-hal yang khusus. Jikapun mampu, mereka terpaksa menafikan agama lain. Ketika agama didefinisikan sebagai kepercayaan, atau kepercayaan kepada yang Maha Kuasa (Supreme Being), kepercayaan primitif di Asia menjadi bukan agama. Sebab agama primitif tidak punya kepercayaan formal, apalagi doktrin.

F. Schleiermacher kemudian mendefinisikan agama dengan tidak terlalu doktriner, agama adalah “rasa ketergantungan yang absolut” (feeling of absolute dependence). Demikian pula Whithehead, agama adalah “apa yang kita lakukan dalam kesendirian”. Disini faktor-faktor terpentingnya adalah emosi, pengalaman, intuisi dan etika. Tapi definisi ini hanya sesuai untuk agama primitif yang punya tradisi penuh dengan ritus-ritus, dan tidak cocok untuk agama yang punya struktur keimanan, ide-ide dan doktrin-dokrin.

Tapi bagi sosilog dan antropolog memang begitu. Bagi mereka religion sama sekali bukan seperangkat ide-ide, nilai atau pengalaman yang terpisah dari matriks kultural. Bahkan, kata mereka, beberapa kepercayaan, adat istiadat atau ritus-ritus keagamaan tidak bisa difahami kecuali dengan matriks kultural tersebut. Emile Durkheim malah yakin bahwa masyarakat itu sendiri sudah cukup sebagai faktor penting bagi lahirnya rasa berketuhanan dalam jiwa. (Lihat The Elementary Forms of the Religious Life, New York, 1926, 207). Tapi bagi pakar psikologi agama justru harus diartikan dari faktor kekuatan kejiwaan manusia ketimbang faktor sosial dan intelektual. Para sosiolog Barat nampaknya trauma dengan makna agama yang doktriner, sehingga tidak peduli dengan aspek ekstra-sosial, ekstra-sosiologis ataupun ekstra-psikologis. Aspek immanensi lebih dipentingkan daripada aspek transendensi.

Sejatinya, akar kebingungan Barat mendefinisikan religion karena konsep Tuhan yang bermasalah. Agama Barat – Kristen – kata Amstrong dalam History of God justru banyak bicara Yesus Kristus ketimbang Tuhan. Padahal, Yesus sendiri tidak pernah mengklaim dirinya suci, apalagi Tuhan. Dalam hal ini kesimpulan Professor al-Attas sangat jitu ‘Islam, sebagai agama, telah sempurna sejak diturunkan’. Konsep Tuhan, agama, ibadah, Manusia dan lain-lain dalam Islam telah jelas sejak awal. Para ulama kemudian hanya menjelaskan konsep-konsep itu tanpa merubah konsep asalnya. Sedang di Barat konsep Tuhan mereka sejak awal bermasalah sehingga perlu direkayasa agar bisa diterima akal manusia.

Kita mungkin akan tersenyum membaca judul buku yang baru terbit di Barat, Tomorrow’s God, (Tuhan Masa Depan), karya Neale Donald Walsch. Tuhan agama-agama yang ada tidak lagi cocok untuk masa kini. Tuhan haruslah seperti apa yang digambarkan oleh akal modern. Manusia makhluk berakal (rational animal) harus lebih dominan daripada manusia makhluk Tuhan. Pada puncaknya nanti manusialah yang menciptakan Tuhan dengan akalnya.

Socrates pun pernah berkata:”Wahai warga Athena! aku percaya pada Tuhan, tapi tidak akan berhenti berfilsafat”. Artinya “Saya beriman tapi saya akan tetap menggambarkan Tuhan dengan akal saya sendiri”. Wilfred Cantwell Smith nampaknya setuju. Dalam makalahnya berjudul Philosophia as One of the Religious Tradition of Mankind, ia mengkategorikan tradisi intelektual Yunani sebagai agama. Apa arti agama baginya tidak penting, malah kalau perlu istilah ini dibuang. Akhirnya, sama juga mengamini Nietzche bahwa tuhan hanyalah realitas subyektif dalam fikiran manusia, alias khayalan manusia yang tidak ada dalam realitas obyektif. Konsep tuhan rasional inilah yang justru menjadi lahan subur bagi atheisme. Sebab tuhan bisa dibunuh.

Jika Imam al-Ghazzali dikaruniai umur hingga abad ini mungkin ia pasti sudah menulis berjilid-jilid Tahafut. Sekurang-kurangnya ia akan menolak jika Islam dimasukkan kedalam definisi religion versi Barat dan Allah disamakan dengan Tuhan spekulatif. Jika konsep Unmoved Mover Aristotle saja ditolak, kita bisa bayangkan apa reaksi al-Ghazali ketika mengetahui tuhan di Barat kini is no longer Supreme Being (Tidak lagi Maha Kuasa).

Konsep Tuhan di Barat kini sudah hampir sepenuhnya rekayasa akal manusia. Buktinya tuhan ‘harus’ mengikuti peraturan akal manusia. Ia “tidak boleh” menjadi tiran, “tidak boleh” ikut campur dalam kebebasan dan kreativitas manusia. Tuhan yang ikut mengatur alam semesta dianggap absurd. Tuhan yang personal dan tiranik itulah yang pada abad ke 19 “dibunuh” Nietzche dari pikiran manusia. Tuhan Pencipta tidak wujud pada nalar manusia produk kebudayaan Barat. Agama disana akhirnya tanpa tuhan atau bahkan tuhan tanpa Tuhan. Disini kita baru faham mengapa Manchester United dengan penyokongnya itu like religion. Mungkin mereka hanya malu mengatakan it’s really religion but without god.

Kini di Indonesia dan di negeri-negeri Muslim lainnya cendekiawan Muslim mulai ikut-ikutan risih dengan konsep Allah Maha Kuasa (Supreme Being). Tuhan tidak lagi mengatur segala aspek kehidupan manusia. Bahkan kekuasaan Tuhan harus dibatasi. Benteng pemisah antara agama dan politik dibangun kokoh. Para kyai dan cendekiawan Muslim seperti berteriak “politik Islam no” tapi lalu berbisik “berpolitik yes”….”money politik la siyyama”.

Tapi ketika benteng pemisah agama dan politik dibangun, tiba-tiba tembok pemisah antar agama-agama dihancurkan. “Ini proyek besar bung”! kata fulan berbisik. “Ini zaman globalisasi dan kita harus akur” kata professor pakar studi Islam. Santri-santri diajari berani bilang “Ya akhi tuhan semua agama itu sama, yang beda hanya namaNya”; “Gus! maulud Nabi sama saja dengan maulud Isa atau Natalan”. Mahasiswa Muslim pun diajari logika relativis “anda jangan menganggap agama anda paling benar”. Tak ketinggalan para ulama diperingati “jangan mengatasnamakan Tuhan”. Kini semua orang “harus” membiarka pembongkaran batas antar agama, menerima pluralitas dan pluralisme sekaligus. Sebab, kata mereka, pluralisme seperti juga sekularisme, adalah hukum alam. Samar-samar seperti ada suara besar mengingatkan “kalau anda tidak pluralis anda pasti teroris”

Anehnya, untuk menjadi seorang pluralis kita tidak perlu meyakini kebenaran agama kita. Kata-kata Hamka “yang bilang semua agama sama berarti ia tidak beragama” mungkin dianggap kuno. Kini yang laris manis adalah konsep global theology-nya John Hick, atau kalau kurang kental pakai Transcendent Unity of Religions-nya F.Schuon. Semua agama sama pada level esoteris. Di negeri Muslim terbesar di dunia ini, lagu-lagu lama Nietzche tentang relativisme dan nihilsme dinyanyikan mahasiswa Muslim dengan penuh emosi dan semangat. “Tidak ada yang absolut selain Allah” artinya ‘tidak ada yang tahu kebenaran selain Allah’. Shari’ah, fiqih, tafsir wahyu, ijtihad para ulama adalah hasil pemahaman manusia, maka semua relatif. Walhal, Tuhan tidak pernah meminta kita memahami yang absolut apalagi menjadi absolut. Dalam Islam Yang relatif pun bisa mengandung yang absolut. Secara kelakar seorang kawan membayangkan di Jakarta nanti ada papan iklan besar bergambar seorang kyai dengan latar belakang ribuan santri dengan tulisan singkat “Yesus Tuhan kita juga”. [www.hidayatullah.com]

Penulis : Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil.
Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS)

Pos ini dipublikasikan di Motivasi. Tandai permalink.

18 Balasan ke AGAMA

  1. TRI WAHYU KUNINGSIH berkata:

    Assalamualaikum Wr Wb.

    Belajar Agama adalah menyangkut keyakinan dan kepercayaan seseorang. Sebetulnya sangat sensitif juga karena ini urusan pribadi seseorang. Di Indonesia hak beragama tidak dapat di ganggu gugat. Tapi menurut saya jika kita sudah memilih ISlam ya inilah agama yang PALING BENAR. Agama yang sudah sangat masuk akal, sangat logis dan sangat damai.
    Bagi saya agama yang lain salah.

    Kalau masalah pengertian agama bagi orang2 barat emang susah karena mereka kebanyakan tidak menerima agama kristen sebagai agama yang dapat mendamaikan hati mereka tetapi mereka banyak yang benci dengan ISLAM jadi otomatis mereka menjadikan apapun sebagai agama. Bahkan Tom Cruise ( aktor hollywood ) menuhankan Teknologi ( Sceintology ) sebagai kepercayaannya. Hemmmzzzz….

  2. JOHAN ABDULLAH berkata:

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Saya memilih ISLAM karena inilah agama yang terbaik dan dapat mendamaikan saya. dan menurut saya ini yang paling masuk akal.

  3. SLAMET ROZIKIN berkata:

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Saya yakin ISLAM adalah agama yang paling benar.

  4. Novi Effiana Putri berkata:

    Assalamu ‘alaikum wr.wb

    Berbicara tentang Agama itu tergantung dari pribadi dan kebudayaan orang yang akam menilainya…
    Berbagai macam definisi agama yang dikemukakan… BAgi saya agama adalah apa yang saya yakini sebagai pedoman saya menjalankan hidup didunia yang penuh dengan kemaksiatan sehingga saya bisa berjalan dengan lurus……….

    Saya percaya Islam, saya yakini bahwa islam yang akan menuntun saya menuju jalan yang lurus, berpaling dari kemaksiatan….

    Wassalamu ‘alaikum wr.wb

  5. Sangga Pramana Wicaksana berkata:

    Assalamualaikum, Wr.Wb

    Astagfirullah hal adzhim. .
    Sungguh isi artikel ini sungguh bodoh,( bukan Allah S.W.T,bukan penulisnya,dan bukan Imam al-Ghazzali ), tapi orang-orang kafir yang ada di dalamnya, mungkin mereka tidak akan berpikir kafir kalau ajal mereka sudah dekat, mungkin mereka akan sadar dan ingat akan Allah saat mereka sudah berada pada detik-detik kematian yang mana akal mereka sudah tidak dapat mendustakan Allah

    yang mana mereka adalah orang yang tidak bersyukur,mereka diberi akal tetapi menggunakannya untuk menentang Allah, merasa dirinya adalah makhluk berakal dan bukan makhluk Tuhan, sungguh pemikiran yang bodoh

    Saya yakin bahwa Makhluk Tuhan ( terutama Islam ) akan merubah perspektiv mereka( bangsa barat) dalam segala hal, mungkin saat ini bangsa barat lebih maju peradabannya dari kita kita lihat saja nanti. Apakah pikiran Tuhan menurut bangsa barat yang hanya Khayalan akal manusia dan Tuhan adalah bentuk dari akal manusia itu benar??
    Jawabannya ada dalam setiap jiwa seseorang itu sendiri

    Wassalamualaikum, Wr.Wb

  6. Ida Ayu T. berkata:

    Agama . . hal tersebut menjadi perbedaan yang sangat mencolok yang ada di kehidupan sekitar kita. Bahkan satu agama dengan agama yang lain berargumen bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang paling benar, dan mereka mempunyai pembenaran sendiri-sendiri tentang agama mereka. ISLAM , agama yang mungkin dimata org beragama non islam beranggapan bahwa islam adalah agama yang identik dengan kebodohan dan kemiskinan.
    Tapi ya boleh lah mereka berasumsi demikian toh sebenarnya Islam bukanlah agama yang demikian. islam adalah agama yang baik penuh dengan kebaikan .
    Mungkin di dalam kehidupan dunia mereka boleh mempunyai kedudukan. Tapi mungkin di akhirat mereka tak mempunyai tempat. Wallahu alam . . Hanya Allah yang paling tau ttg semua ini.

    wass.

  7. abinowo pl berkata:

    agama islam diciptakan untuk tidak bisa dinalar oleh akal manusia. Inilah yang membedakan Islam dengan agama lain yang bisa dan biasa dinalar dan disesuaikan dengan pikiran manusianya.Islam dengan segala kesempurnaannya tentunya menjadi pilihan terbaik sepanjang masa.

  8. Agustian Achmady berkata:

    Assalamualaikum, Wr.Wb

    Cinta yang sangat kepada Allah . Membersihkan hati nurani dari semua kekotoran dan kekumuhan , jangan gantungkan diri kecuali hanya kepada Allah SWT .

    Inilah inti dari ajaran Islam yang disebut keimanan atau percaya kepada Allah SWT atas segala galanya. Menyandarkan diri hanya kepada ALLAH SWT .

    KARENA AJARAN ISLAM ; ISLAM MERANGKUL, TIDAK MEMUKUL DAN JUGA TIDAK NGIBUL … BETULLL TIDAKKK !

  9. Syamsul Ma'arif berkata:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb

    Semakin berkembangnya zaman semakin berkembang pula perubahan – perubahan kehidupan. Salah satunya adalah agama, membicarakan soal agama maka tak luput dengan siapa yang membawa agama tersebut tersiar di muka bumi ini.
    Pandangan agama itu tergantung pada pribadi masing – masing orang yang menilai. Karena dari agamalah yang membawa pribadi kita menuju jalan ketuhanan kita.
    Tetapi dari berbagai agama yang ada, hanya Islam lah yang mendapat ridho dari ALLAH. Islam adalah agama yang membawa kita pada keberkahan dan pertolongan ALLAH.
    Saya percaya Islam kerena dari sinilah pelajaran tentang kehidupan yang tepat dapat diambil dari Al-Qur’an dan hadis.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

  10. suhariawan 022082968 berkata:

    islam adalah agama yang masuk akal bila di terima oleh akal pikiran manusia dan islam mengajarkan tentang semua kehidupan di muka bumi ini..dan dikehidupan selanjutnya

  11. trisno wibowo 022082968 berkata:

    Assalamualaikum wr.wb.

    islam adalah agama yang benar dan pasti karena islam memiliki tuntunan kita untuk melakukan perbuatan yang baik dan terpuji..islam tidak menyulitkan kita tetapi memudahkan kita dalam mengarungi khidupan ini untuk menyembah allah swt..

    wassalamualaikum wr.wb

  12. yunika adi setianto berkata:

    assalamualaikum.wr.wb

    sebenarnya yang mengantar kita mnjalani dunia in adalah agama

    wassalamualaikum.wr.wb

  13. M ZAENAL MUTAKIN berkata:

    Asslamualaikm Wr Wb
    Agama dapat diibaratkan sebagai pondasi dari sebuah kehidupan.,diumpamakan sebuah bangunan apabila tidak memiliki pondasi maka bangunan itu akan roboh. Begitu juga manusia apabila tidak berpedoman pada agama maka manusia itu akan dihancurkan oleh hawa nafsu.
    dan islam adalah agama yang Rahmatan Lil Alamin.,
    Wassalamualaikm Wr Wb

  14. M LUTHFIL KARIM berkata:

    assalmualaikum………….

    agama islam bukanlah agama yang paling benar
    melainkan islam adalah agama yang benar yang haq..
    jika islam agama yg paling benar pasti ada agama lain yang benar..
    maka dari itu islam adalah adalah agama yang benar baik secara logika maupun ilmiah yang sudah terbukti di abad 20

    islam adalah agama yang satu tauhid mengakui bahwa tuhan itu satu,
    jika tuhan tidak satu maka akan terjadi tasalsul (mata rantai) yang tak terputus

    maka dari itu islam lah yang benar dan yang haq……….
    amiin ya robbal alamin…..

    wassalmkm……….

  15. misrandi berkata:

    assalamu’alaikum wr.wb

    agama merupakan suatu pondasi kehidupan bagi manusia untuk menuju ke arah yang benar dan lebih baik menuju kehidupan yang sebenarnaya

    wassalmkm……….

  16. syafiq syaifuddin berkata:

    assalamu’alaikum wr.wb

    agama merupakan tuntunan hidup bagi umat manusia menuju ke arah yang benar dan manusia dapat menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi ini sebagai bekal menuju kehidupan di akherat…

    wassalamu’alaikum wr.wb

  17. muh.taufik ramadhani berkata:

    agama adalh keyakinan dan tidak dapat ditolerir….
    alhamdulillah kita dapat terlahir dalam lingkungan yang beragama…
    dan tidak hanya d akal sj….

  18. uut agung s berkata:

    Assalmu’alaikum Wr. Wb.
    TUJUH KEBENARAN ISLAM YANG MUTLAK.

    1. Qur’an dengan bahasanya yang tetap sepanjang masa dan
    sama dimana-mana telah sanggup menciptakan iklim keIslaman
    yang merata mutlak. Ia akan dimengerti di Amerika, demikian
    juga di Inggris. Bila ia dibacakan di Jepang, maka ia juga
    dipahami oleh orang-orang India dan Pakistan, dan bila ia
    dibaca di negeri Belanda, maka Mesir, Libya, Indonesia akan
    mengerti, setidak-tidaknya mengenali bahwa itulah ayat-ayat
    Al Qur’an. Qur’an tidak pernah dirubah bahasanya dan ini
    saja sudah dapat dijadikan pegangan, bahwa isinya authentik
    asli. Beda dengan Injil yang telah melalui sedemikian banyak
    terjemahan, sehingga keaslian kata-kata mungkin telah
    menyimpang dari maksud semula. Ia disalin dari bahasa Ibrani
    ke bahasa Gerika, lalu ke bahasa Latin, dari Latin oleh
    Marthen Luther pada tahun 1521 disalin ke bahasa Jerman.
    Dari Jerman disalin pula ke dalam bahasa Inggris, Belanda,
    Indonesia, Jawa, Minang, Timor dst. Sambil menyalin, maka
    atas pertimbangan politik(?) sipenyalin menterjemahkannya
    pula menurut “situasi dan kondisi” setempat. Kita lihat
    misalnya, kalau didalam Injil bahasa Belanda dan Inggris
    syarat masuk surga adalah Door bidden en fasten atau by
    praying and fasting, maka didalam Injil bahasa Indonesia
    mereka mencukupkan hanya dengan doa, sedangkan fasting atau
    fasten atau puasanya dihilangkan.

    2. Al-Qur’an tidak bertentangan dengan Ilmu pengetahuan.
    Bacalah theorie La Place & Chamberlin, bacalah theorie
    kejadian bumi, maka Chamberlin menyebutkan: Bahwa bumi kita
    ini ialah terjadi dari gumpalan-gumpalan kabut yang
    bergulung-gulung semakin lama semakin padat, sehingga
    berpijar, dan kemudian mati pijarnya, lalu tumbuhlah
    kehidupan. Lalu cobalah kita buka Al-Qur’an surat
    tertulislah disana theorie itu: “Dan ingatlah ketika Aku
    menciptakan bumi ini dari suatu hamparan yang lalu
    bergulung-gulung.” Qur’an surat Nuh 14 menulis tentang
    adanya tingkatan-tingkatan kejadian dari manusia, surat Al
    An’am 97 memuat theorie Astronomi. Dalam surat-surat yang
    lain dimuat pula theorie perkawinan tanam-tanaman (botani).
    Qur’an tidak serupa dengan Perjanjian Lama yang menolak
    theorie Galileo Galilei, Islam tidak seperti Kristen yang
    telah begitu banyaknya membunuhi kaum cerdik pandai seperti
    Galileo Galilei, Johannis Heuss dan sebagainya.

    3. Al-Qur’an tidak menentang fitrah manusia. Itulah sebabnya
    didalam Islam tidak diakuinya hukum Calibat atau
    pembujangan. Manusia dibuat laki-laki dan perempuan adalah
    untuk kawin, untuk mengembangkan keturunan. Maka itu ajaran
    Paulus yang mengatakan bahwa ada “lebih baik” laki-laki itu
    membujang seperti aku dan perempuan itu tidak kawin,
    ditentang oleh Islam. Bukankah monogami akhirnya melibatkan
    dunia Kristen dalam lembah pelacuran? Bukankah orang-orang
    Italia yang monogami itu akhirnya mempunyai juga istri-istri
    yang gelap? Dan bukankah Amerika, Swedia dll. akhirnya
    menjadi bejat akhlaknya sebab mempertahankan monogami? Maka
    dunia akhirnya menetapkan: Poligami adalah bijaksana.
    Poligami mencegah manusia daripada zinah dan pelacuran.
    Tidak heran bila surat An Nisa ayat 3 kemudian membolehkan
    orang untuk Poligami, yaitu poligami yang terbatas: 4.

    4. Qur’an udak bertentangan dengan aqal dan fikiran manusia.
    Itulah sebabnya Islam sangat menghargai akal dan fikiran
    yang sehat. Kaidah Islam tidak dapat menerima doktrin “Tiga
    tetapi satu,” sebab tiga tetapi satu bertentangan dengan
    ratio. Ummat Islam sama sekali tidak dapat memahami
    bagaimana Paus, seorang manusia, dapat menjabat Wakil
    Tuhan(Ficarius Filii Dei). Paus mewakili urusan Allah untuk
    dunia ini, memberikan amnesti, abolisi dan grasi atas ummat
    manusia yang berdosa dengan mandaat sepenuhnya dari Allah.
    Demikian pula, kalau kami yang tidak tahu menahu akan
    perbuatan Adam harus memikul dosa Adam. Dan akal lebih tidak
    bisa menerima lagi, kalau Allah yang pengasih penyayang itu
    akhirnya lalu menghukum mati anaknya sendiri demi menebus
    dosa Adam dan anak cucu Adam. Maka itulah Islam tidak
    mengakui dosa keturunan, juga tidak mengakui adanya
    “Sakramen pengakuan dosa” yang memanjakan manusia dan
    mengajar manusia untuk tidak bertanggung jawab itu.

    5. Islam tidak bertentangan dengan sejarah. Islampun dengan
    sendirinya tidak mendustai sejarah. Putih hitamnya sejarah
    Islam, diakuinya dengan jujur. Ia, misalkan mengalami
    tragedi pahit seperti “Night of St. Bartolomeus” pastilah ia
    mengakui, dan ummatnya mengetahui. Islam selalu sesuai
    dengan situasi d.an kondisi, ia bukannya menyesuaikan diri,
    tetapi diri (dunia maksudnya) yang harus menyesuaikan
    dengannya.

    6. Oleh sebab itulah maka Islam tetap bertahan. Ia selalu
    maju seirama dengan kemajuannya zaman. Empat belas abad
    sudah lamanya Islam tetap dalam suatu kesatuan syareat dan
    hakekat. Seribu empat ratus tahun lamanya hukum-hukumnya,
    undang-undangnya, shalat dan kiblatnya, puasa dan hajinya
    tetap berjalan. Ia tidak ambruk setelah ilmu pengetahuan
    lebih maju, ia juga tidak colaps menghadapi kebangkitan
    humanisme dan sosialisme. Adapun atau kalaupun dikatakan
    mundur, sebenarnya ialah ummat artinya orang-orangnya apakah
    itu person atau kelompok. Mengapakah ummatnya mundur? Sebab
    ia telah meninggalkan Qur’annya. Ia berbeda dengan ajaran
    atau hukum gereja Katolik yang selalu berubah-ubah boleh –
    tidak boleh dan sekarang boleh lagi kawin. Padahal soal
    kawin adalah soal keputusan Tuhan. Adalah keputusan Tuhan
    selalu berubah-ubah dan dapat ditentang oleh manusia?

    7. Qur’an tak dapat disangkal ]agi, adalah pegangan hidup
    dan mati, dunia dan akhirat. Qur’an ternyata merupakan
    landasan idiil dan spirituil, landasan hidup di dunia dan
    di akhirat. Qur’an, tidak hanya memuat perkara akhirat saja,
    tetapi juga perkara dunia. Itulah sebabnya bila kita membaca
    Al-Qur’an kita akan menemui bermacam-macam hukum, apakah itu
    hukum pidana, perdata, atau hukum antar manusia dan
    kemasyarakatan. Demikian pula ia memuat hukum dengan
    lengkapnya hukum perkawinan dan sopan santun perang.

    Hai ini menunjukkan bahwasanya, Islam adalah Penyempurnaan agama sebelumnya, dan Islam Adalah Agama yang diridhoi Allah SWT.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s