ADAB

ADAB
___________________________
Oleh :  DR. Hamid Fahmi Zarkasyi, MA.

Belalang menjadi burung elang.
Kutu menjadi kura-kura, dan
Ulat berubah menjadi naga.

Itulah syair pujangga Abdullah Abdul Qadir al-Munsyi, ditulis pertengahan abad 19. Sekilas ia seperti sedang bicara evolusi Darwin, atau cerita bim salabim ala Herry Porter. Tapi sejatinya ia sedang bicara tentang perubahan yang aneh. Perubahan tentang bangsanya yang kehilangan adab.

Metafora ini mudah diterima oleh bangsa Melayu, tapi tidak bagi orang Jawa. Orang Jawa lebih mudah faham dengan dagelan Petruk jadi ratu. Ya dagelan, sebab ada perubahan status secara tidak alami atau tidak syar’ie. Bukan gambaran diskriminatif, bukan pula rasial, tapi loncatan status yang abnormal.

Munsyi tentu faham belalang mustahil jadi burung elang, kutu jadi kura-kura. Ia juga faham mengapa Tuhan mengizinkan kepompong bisa jadi kupu-kupu yang cantik. Tapi, yang ia gelisahkan mengapa ini bisa terjadi di dunia manusia. Semua orang berhak mencapai sukses, tapi mengapa sukses dicapai dengan mengorbankan moral. Kita menjadi lebih faham setelah membaca bait berikutnya:

Bahkan seorang yang hina dan bodoh dapat pandai dan terhormat,
jika memiliki harta. Sedangkan orang miskin
tidak dipandang walaupun pandai dan terhormat.

Munsyi seperti sedang memberi tugas kita untuk menjawab. Dimana letak kesalahannya. Yang dengan cerdas menjawab adalah SM Naquib al-Attas, ulama yang juga pakar sejarah Melayu. Letak kesalahannya, katanya, ada pada lembaga pendidikan kita. Pendidikan kita tidak menanamkan adab. Adab adalah ilmu yang berdimensi iman, ilmu yang mendorong amal dan yang bermuatan moral.

Sumbernya ada dua: faktor eksternal dan internal. Yang pertama, karena besarnya pengaruh pemikiran sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan Barat. Yang kedua, karena lemahnya daya tahan tubuh umat Islam. Pendidikan kita tidak menanamkan adab. Ritual pendidikan memang terus berjalan, tapi maqasid-ya tidak tercapai. Lembaga pendidikan umat Islam bisa menghasilkan SDM bidang tehnik, ekonomi, kedokteran, manajemen, tapi tidak menghasilkan peradaban Islam.

Tanda-tanda alpanya adab sekurangnya ada 3: kezaliman, kebodohan dan kegilaan. Zalim kebalikan adil artinya tidak dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dalam adab kesopanan orang Jawa disebut tidak empan papan. Jelasnya tidak bisa memahami dan menerapkan konsep secara proporsional. Artinya mencampur dua atau tiga konsep yang saling bertentangan. Seperti mencapur keimanan dengan kemusyirikan. Mewarnai amal dengan kemaksiatan dan kesombongan. Tauhid dengan faham dikotomis-dualistis , dsb.

Bodoh atau dalam bahasa al-Ghazzali hamaqah bukan jahil dan buta aksara. Bodoh tentang cara mencapai tujuan. Karena tidak tahu apa tujuan hidupnya, seseorang jadi bodoh tentang cara mencapainya.Anda harus bisa kaya dengan segala cara adalah bisikan Machiaveli yang diterima dengan sukarela. Korupsi, menipu, manipulasi, dan sebagainya pun bisa menjadi cara meniti karir. Anda bisa jual diri asal bisa jadi selebriti. Anda bisa jadi pejabat asal mahir menjilat dan berkhianat. Itulah mengapa Islam datang menawarkan jalan dan cara mencapai tujuan yang disebut syariah.

Gila artinya salah tujuan, salah menentukan arah dan tujuan hidup, salah arah perjuangan. Akarnya tentunya adalah hamaqah atau kebodohan; yang bodoh akan negeri impian akan bingung kemana akan mendayung sampan; yang bodoh akan arti hidup tidak akan tahu apa tujuan hidup; yang jahil tentang arti ibadah tidak akan pernah tahu apa gunanya ibadah dalam kehidupan ini. Akibatnya, aktivitas demi kepentingan pribadi (linnafsi), kehormatan diri (lil jah), harta (lil mal) tiba-tiba diklaim menjadi Demi Allah, (Lillah).

Jika pendidikan kita benar-benar menanamkan adab, mengapa peradaban Islam tidak kokoh berdiri. Mengapa kita begitu gengsi pada hutang luar negeri, tapi bangga memungut konsep-konsep pinjaman dari luar Islam. Mengapa kita hanya mampu menjustifikasi konsep-konsep asing dan tidak mampu membangun konsep sendiri?

Orang Barat begitu percaya diri dengan konsep ciptaannya, tapi mengapa kita tidak. Cardinal John Newman, misalnya, begitu yakin tentang gambaran universitas humanisme Kristen dalam The Idea of University, Defined and Illustrated. Karl Jasper dalam The Idea of University tegas menggambarkan konsep universitas humanis-eksistensialis. J Douglas Brown dalam The Liberal University-nya bisa menggambarkan dengan jelas pelbagai peran universitas dalam mencetak manusia sempurna ala Barat. Tapi mengapa identitas Islam pada universitas Muslim tidak nampak jelas. Mengapa Muslim malu-malu memerankan universitas Islam dalam membangun peradaban Islam.

Universitas Islam harus berani membangun konsep ekonomi Islam, politik Islam, sosiologi Islam, sains Islam, budaya Islam dan sebagainya. Universitas Islam harus bisa mencerminkan bangunan pandangan hidup Islam. Universitas Islam tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu, tapi juga merupakan sumber gerakan moral dan sosial serta agen perubahan. Universitas harus menjadi pelopor dalam menciptakan manusia-manusia yang adil dan beradab agar dapat membangun peradaban yang bermartabat.
Dari berbagai sumber.

__________

DR. Hamid Fahmi Zarkasyi, MA.                http://www.insistnet.com/

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

15 Balasan ke ADAB

  1. sumirin berkata:

    Pertanyaan :
    1. Jelaskan lebih lanjut apa maksud : ‘Tanda-tanda alpanya adab sekurangnya ada 3: kezaliman, kebodohan dan kegilaan.’
    2. Ritual pendidikan memang terus berjalan, tapi maqasid-ya tidak tercapai.

  2. Sangga Pramana Wicaksana berkata:

    Assalamualaikum

    Bahwa Islam dan Barat memiliki persepsi berbeda tentang ilmu dan agama. Sementara tradisi intelektual Islam berkembang karena dan sejalan dengan agama, tradisi intelektual Barat berkembang secara terpisah dari agama dan bahkan menentang tradisi keagamaan mereka sendiri. Akhirnya mereka menghasilkan cara berpikir yang dikotomis antara agama dan sekuler, sakral dan profan dimana yang kedua cenderung mendominasi yang pertama.

    Watak peradaban Barat diidentifikasi dengan baik oleh al-Attas kedalam lima karakteristik yang saling berhubungan. Kelima karakteristik tersebut adalah:
    1)Mengandalkan akal semata-mata untuk membimbing manusia mengarungi kehidupan.
    2)Mengikuti dengan setia validitas pandangan dualistis tentang realitas dan kebenaran.
    3)Membenarkan aspek being yang bersifat temporal yang memproyeksikan suatu pandangan hidup sekuler.
    4)Pembelaan terhadap doktrin Humanisme.
    5)Peniruan terhadap drama dan tragedi yang dianggap sebagai realiitas universal dalam kehidupan spiritual, atau transendental, atau kehidupan batin manusia, yaitu dengan menjadikan drama dan tragedi sebagai elemen yang riil dan dominan dalam jati diri dan eksistensi manusia.

    SOAL 1

    Sebenarnya kita dapat menghindari kezaliman,kebodohan dan kegilaan.Dengan meletakkan Al-Quran dan Hadis sebagai pedoman hidup kita,dengan pedoman tersebut dalam memecahkan suatu masalah, kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan syari’at dalam menjalani kehidupan fana ini.

    KEZALIMAN
    Jawab : Kata zalim berasal dari bahasa Arab, dengan huruf “dho la ma” (ظ ل م ) yang bermaksud gelap. Di dalam al-Qur’an menggunakan kata zhulm selain itu juga digunakan kata baghy, yang artinya juga sama dengan zalim yaitu melanggar haq orang lain. Namun demikian pengertian zalim lebih luas maknanya ketimbang baghyu, tergantung kalimat yang disandarkannya. Kezaliman itu memiliki berbagai bentuk di antaranya adalah syirik.
    Kalimat zalim bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidak adilan dan banyak lagi pengertian yang dapat diambil dari sifat zalim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.

  3. Sangga Pramana Wicaksana berkata:

    KEBODOHAN

    Jawab : Kebodohan adalah kesalahan (kerancuan) dalam memilih cara atau jalan untuk mencapai tujuan tertentu, walaupun tujuannya benar. Untuk menghindari sikap-sikap yang tidak dimuliakan Allah dalam mencapai tujuan hidup kita yaitu dengan meletakkan dasar prinsip Al-Quran dan Al-Hadis kita dapt menghindari sikap-sikap korupsi,nepotisme,manipulasi dll.Dengan berdasarkan syari’ah Allah diharapkan kita dapat membedakan ilmu yang benar dan yang salah, dengan tidak melakukan kebodohan-kebodohan yang dapat menyesatkan kita baik di dunia dan akhirat.

    KEGILAAN

    Jawab : Kegilaan adalah kesalahan dalam menetapkan tujuan, (tujuan aja udah gag bener apalagi caranya).Sebenarnya kegilaan ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengenal Allah..Dan mereka yang mengalami kegilaan dan kebodohan, mereka dalam menetapkan tujuan dan cara-cara pencapaiannya melanggar ketetapan Allah.Apakah orang beriman menentang Allah ???
    Kegilaan ini dapat disebabkan harta,wanita, dan keinginan berbuat maksiat.

    SOAL 2

    2. Ritual pendidikan memang terus berjalan, tapi maqasid-ya tidak tercapai.?

    Maqasid dalam bahasa Arab yang berarti tujuan atau keperluan.Dalam konteks islam, dapat merujuk pada tujuan umat Islam seperti zakat, shalat, baik dari Al-Qur’an atau Al-hadis

    Jawab :

    sesuai dengan penjelasan di atas ,kurangnya pendidikan moral dan agama pada sistem pendidikan saat ini mengakibatkan lulusan sekolah-sekolah dan universitas kurang memiliki akhlak mulia dalam mengamalkan ilmunya.Pada pola pendidikan barat yang hanya mementingkan intelektualitas yang tidak diberangi dengan pendidikan moral tidak seharusnya diterapkan di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim.Memang sekarang banyak lulusan Universitas di Indonesia yang tidak menerapkan Akhlakul karimah(budi pekerti yang baik) yang hanya melihat dari sisi duniawi ( finansial) dan mengabaikan moral dan akhlak demi mencapai tujuan mereka.Sebagai murid Universitas Islam Sultan Agung, yang memberikan pendidikan sains dan juga agama maka dalam menghadapi dunia kerja kita harus menerapkan ilmu sesuai dengan Al-Quran dan Al-Hadis agar tidak tersesat dalam perilaku yang tidak dibenarkan oleh Allah S.W.T dan menjadi pribadi yang berilmu baik ilmu pengetahuan dan agama.

    Daftar Pustaka : sinthionk.multiply.com/journal/item/419

  4. Yunika Adi Setianto berkata:

    Assalamualaikum. Wr. Wb.

    A. Komentar
    Sesungguhnya kita sebagai generasi islam memang harus berani menunjukkan kebenaran dari semua ajaran islam.

    B. Soal 1
    Tidak adanya adab pada manusia saat in adalah dikarenakan kurangnya pengetahuan manusia tentang ilmu agama, terutama yang terpenting adalah ilmu akhlak. karena dengan ilmu akhlak kita dapat menjalani hidup ini dengan dua kemungkinan, yaitu akhlak mulia dan akhlak tercela. apabila kita sudah bisa memahami betul makna atau hakikat dari akhlak maka kemungkinan besar kita akan menjadi manusia yang beradap.

    Kebodohan : keadaan dan situasi di saat kurangnya pengetahuan terhadap sesuatu informasi bersifat subjektif. Hal ini tidak sama dengan tingkat kecerdasan yang rendah (kedunguan), seperti kualitas intelektual dan tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang. Kata “bodoh” adalah kata sifat yang menggambarkan keadaan di saat seseorang tidak menyadari sesuatu hal, tapi masih memiliki kemampuan untuk memahaminya. Istilah bodoh dapat ditempatkan seperti dalam kalimat “Seseorang memiliki kemahiran dalam matematika, tapi sama sekali bodoh dalam ilmu bahasa.” Namun secara umum, kata bodoh sering ditempatkan seperti dalam kalimat “Orang itu bodoh karena membiarkan hal itu terjadi.” Penggunaan istilah bodoh pada contoh kalimat yang kedua tersebut bermakna sebuah ucapan penghinaan yang merendahkan kualitas kecerdasan seseorang, tapi sebenarnya itu tidak tepat dalam hal makna sebenarnya.

    zalim : Secara etimologis, kata zalim (lalim) dalam bahasa Indonesia sering disepadankan dengan kata aniaya, sewenang-wenang, despotis.1 Dalam bahasa Arab sendiri, kata zalim merupakan padanan dari ism mashdar (akar kata) zhulm. Azh-Zhulm sendiri berasal dari kata kerja zhalama-yazhlimu-zhulman-mazhlimatan, yang makna dasarnya adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya (lawan kata dari adil [al-‘adl]). Dalam sebuah perumpamaan Arab dikatakan, “Man asybaha abâhu fa mâ zhalam (Siapa saja yang menyerupai bapaknya, ia tidaklah berlaku ‘zalim’).” Berkaitan dengan perumpamaan ini, al-Ashma’i mengatakan bahwa frasa mâ zhalama (tidak berlaku ‘zalim’) artinya mâ wadha‘a asy-sibha fî ghayri mawdhî‘ihi (tidak membuat penyerupaan dengan sesuatu yang tidak pada tempatnya). Dikatakan pula, misalnya, “Man istara’a adz-dzi’ba, faqad zalama (Siapa saja yang memelihara srigala, ia telah berlaku ‘zalim’).” Berlaku ‘zalim’ di sini artinya melakukan tindakan yang tidak tepat.2

    Kata kegilaan sering pula digunakan untuk menyatakan tidak waras, atau perilaku sangat aneh. Dalam pengertian tersebut berarti ketidaknormalan dalam cara berpikir dan berperilaku kurang wajar.

    C. soal 2
    Persoalan tentang Ritual pendidikan memang terus berjalan, tapi maqasid-ya tidak tercapai.
    ini adalah kurangnya pemahaman dari pencari ilmu tentang hakikat dari ilmu itu sendiri. artinya dalam mencari ilmu belum mempunyai tujuan yang jelas dan terarah, kalaupun sudah terarah belum bisa mencapai hakikat mencari ilmu yaitu untuk mencari Ridlho Allah SWT.
    apabila hakikat mencari ilmu itu sudah dipahami, maka Insya Allah tujuannya(maqasid-ya) akan tercapai

  5. Pralambang Galih Wicaksono berkata:

    Assalamualiakum Wr. Wb.

    Komentar :
    Mengapa kita sebagai agama islam tidak berani menunjukkan keislaman kita? itu merupakan titik lemah kita sebagai manusia. Bila dibandingkan orang barat, mereka berani menunjukkan kebesaran agama mereka. Hal itu dikarenakan keberanian dan keyakinan bangsa barat bahwa agama mereka adalah yang terbaik.
    Keberanian dan kurang peracayanya kita sebagai orang islam itulah yang menyebabkan tidak ada keberanian menunjukkan keislaman kita. Padahal Allah telah menjelaskan di dalam Al Quran, agama yang dirihoi oleh-Nya adalah agama Islam.
    Maka mulai saat ini, kita sebagai umat muslim harus lebih yakin bahwa agam islam adalah yang terbaik.Jangan malu dan takut untuk menunjukkan keislaman kita.

    Soal 1 :

    Zalim
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Zalim (Arab: ظلم, Dholim) adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin. Lawan kata zalim adalah adil.

    Kata zalim berasal dari bahasa Arab, dengan huruf “dho la ma” (ظ ل م ) yang bermaksud gelap. Di dalam al-Qur’an menggunakan kata zhulm selain itu juga digunakan kata baghy, yang artinya juga sama dengan zalim yaitu melanggar haq orang lain. Namun demikian pengertian zalim lebih luas maknanya ketimbang baghyu, tergantung kalimat yang disandarkannya. Kezaliman itu memiliki berbagai bentuk di antaranya adalah syirik.

    Kalimat zalim bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidak adilan dan banyak lagi pengertian yang dapat diambil dari sifat zalim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.

    Menurut syariat Islam, orang yang tidak berbuat zalim bisa saja terkena siksaan, keyakinan ini berdasarkan dalam salah satu ayat. Allah berfirman:
    “ “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfaal 8:25). ”

    Ayat tersebut berisi peringatan untuk berhati-hati (hadzr) akan azab yang tidak hanya menimpa yang zalim saja, tetapi menimpa secara umum baik yang zalim maupun yang tidak zalim. Karena itu secara syar’i, wajib hukumnya bagi orang yang melihat kezaliman/kemunkaran dan mempunyai kesanggupan, untuk menghilangkan kemunkaran itu.

    Didalam Al-Qur’an zalim memiliki beberapa makna, diantaranya dalam beberapa surah sebagai berikut:

    * Al Baqarah 165 dan Huud 101, orang-orang yang menyembah selain Allah.
    * Al Maa-idah 47, karena menuruti hawa nafsu dan merugikan orang lain.
    * Al Kahfi 35, zalim pada ayat ini sebuah sifat keangkuhan dan perbuatan kekafirannya.
    * Al-Anbiyaa’ 13, Orang yang zalim itu di waktu merasakan azab Allah melarikan diri, lalu orang-orang yang beriman mengatakan kepada mereka dengan secara cemooh agar mereka tetap ditempat semula dengan menikmati kelezatan-kelezatan hidup sebagaimana biasa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan dihadapkan kepada mereka.
    * Al ‘Ankabuut 46, Yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim pada ayat ini adalah orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan.

    Hadits

    Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Sirin, Muhammad pernah mengatakan bahwa, “Diantara bentuk kezaliman seseorang terhadap saudaranya adalah apabila ia menyebutkan keburukan yang ia ketahui dari saudaranya dan menyembunyikan kebaikan-kebaikannya.”[1]

    Dari kisah Abu Dzar Al-Ghifari dari Rasulullah sebagaimana ia mendapat wahyu dari Allah bahwa Allah berfirman: “Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim.”[2]

    Dalam hadits lain Muhammad bersabda, “Takutlah kalian akan kezhaliman karena kezhaliman adalah kegelapan pada hari Kiamat” [3]

    Kategori

    Kezaliman dibagi menjadi 2 kategori, menzalimi diri sendiri (dosa dan maksiat) dan orang lain (menyia-siakan atau tidak menunaikan hak orang lain yang wajib ditunaikan). Kezaliman itu ada tiga macamnya diantaranya adalah:

    * Kezaliman yang tidak diampunkan Allah, yaitu syirik.
    * Kezaliman yang dapat diampunkan Allah, perbuatan seseorang hamba terhadap dirinya sendiri di dalam hubungan dia terhadap Allah.
    * Kezaliman yang tidak dibiarkan oleh Allah, perbuatan hamba-hamba-Nya di antara sesama mereka, karena pasti ditun­tut pada Hari Akhir oleh mereka yang dizalimi.

    Kebodohan
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Kebodohan adalah keadaan dan situasi di saat kurangnya pengetahuan terhadap sesuatu informasi bersifat subjektif. Hal ini tidak sama dengan tingkat kecerdasan yang rendah (kedunguan), seperti kualitas intelektual dan tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang. Kata “bodoh” adalah kata sifat yang menggambarkan keadaan di saat seseorang tidak menyadari sesuatu hal, tapi masih memiliki kemampuan untuk memahaminya. Istilah bodoh dapat ditempatkan seperti dalam kalimat “Seseorang memiliki kemahiran dalam matematika, tapi sama sekali bodoh dalam ilmu bahasa.” Namun secara umum, kata bodoh sering ditempatkan seperti dalam kalimat “Orang itu bodoh karena membiarkan hal itu terjadi.” Penggunaan istilah bodoh pada contoh kalimat yang kedua tersebut bermakna sebuah ucapan penghinaan yang merendahkan kualitas kecerdasan seseorang, tapi sebenarnya itu tidak tepat dalam hal makna sebenarnya.

    Gila
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Gila (Inggris: insanity atau madness), adalah istilah umum tentang gangguan jiwa yang parah. Secara historis, konsep ini telah digunakan dalam berbagai cara. Di lingkungan dunia medis lebih sering digunakan istilah gangguan jiwa.

    Arti lain
    Kata kegilaan sering pula digunakan untuk menyatakan tidak waras, atau perilaku sangat aneh. Dalam pengertian tersebut berarti ketidaknormalan dalam cara berpikir dan berperilaku kurang wajar.

    Gila yaitu hilangnya suatau pikiran dikarenakan penyebabnya oleh setres atau ada masalah pribadi yg di alami oleh seseorang yg tidak waras tersebut. Yang mengakibatkan pikiran yg tidak terkendali dan akhirnya menjaddi berpikiran tidak waras, berperilaku aneh (tak wajar layaknya manusia biasa)

  6. Eris Yoga Permana berkata:

    Assalamu’alaikum…

    baiklah saya akan menjawab 2 pertanyaan di atas secara singkat saja…
    yang pertama zalim, yaitu menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. makna ini memiliki arti yang luas, seperti seorang pemimpin yang bertindak semena-mena dan kejam, melakukan penganiayaan, bertindak tidak adil dan lain sebagainya. Kalau ada seorang pemimpin yang melakukan aniaya dan bersikap tidak adil, itu berarti dia telah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya dalam artian dia telah menempatkan dirinya yang seharusnya bersikap adil dan bijaksana menjadi tidak adil dan menimbulkan aniaya.

    yang kedua kebodohan, mungkin yang dimaksud di sini adalah bukan kemampuan IQ yang di bawah rata-rata akan tetapi kebodohan dalam melakukan suatu tindakan. menurut Syekh Sihabuddin al-Qalyubi, dalam kitab Al-Nawadir, mengemukakan enam ciri kebodohan. Yaitu :
    1. marah tanpa alasan yang tepat,
    2. berbicara tanpa manfaat,
    3. memberi tidak pada tempatnya,
    4. membukakan rahasia kepada sembarang orang,
    5. terlalu percaya kepada setiap orang dan
    6. tidak mengenal siapa kawan siapa lawan.
    Dari keenam ciri kebodohan, menjelaskan bahwa kita harus lebih pintar dalam berbicara dan berbuat.

    yang ketiga kegilaan, yaitu sikap di luar logika manusia yang membuat seseorang terjerumus ke dalam suatu tindakan tanpa arah dan tujuan. tindakannya tidak masuk akal dan semua dianggap perjuangan di jalan Allah.

    soal yang kedua ritual terus berjalan tapi maqasid(tujuan)nya tidak pernah tercapai disebabkan karena dalam proses pembelajaran, pembekalan materi yang diberikan tidak dibarengi dengan penerapan adab (adab / tata cara menuntut ilmu). Sehingga tujuan dari pembelajaran itu hanya untuk mendapatkan nilai yang memuaskan misalnya.

    Wassalamualaikum…

  7. syamsul ma'arif berkata:

    Nomor 1 :
    Kezaliman adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya
    contoh : pada zaman sekarang ini banyak sekali para penjabat negara yang menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan golongan mereka.

    kebodohan adalah sifat yang timbul karena ketidak tahuan pada ilmu
    contoh : sekarang ini pergaulan bebas semakin marak, tindak kejahatan semaki nair ratingnya, para elit politik kita saling memperebutkan kekuasaan dan harta. ini semua terjadi karena kurangnya ilmu agama dalam diri mereka. bisa dikatakan pada zaman ini kita kembali lagi ke zaman jahiliah (zaman kebodohan) dikarnakan akhlak kita dan pendidikan agama kita memang kurang

    kegilaan adalah suatu perbuatan yang dilakukan akibat dari kebodohan yang dimiliki oleh seseorang
    contoh : disekitar kita sekarang ini banyak terjadi tindakan kriminal, marangknya orang yang bunuh diri akibat tekanan hidup. itu semua adalah suatu kegilaan yang mereka lakukan akibat dari kebodohan

    Nomor 2 :
    maqsid tidak tercapai dikarnakan ritual pendidikan yang ada di negara kita berjalan tidak istiqomah, masih terjadi penyelewengan anggaran, tidak sependapatnya beberapa golongan tentang ujian nasional, lemehnya standar dan pengawasan dalam proses belajar-mengajar
    jika ingin pendidikan di negara kita sukses maka :
    1. selaraskan tujuan
    2. awasi penyelenggaraan
    3. naikkan standar dengan berkesinambungan
    4. lakukan dengan istiqomah

  8. Alif Lutfiyana berkata:

    Assalamu’alaikum

    Soal 1:
    Hilangnya unggah – ungguh pada orang yang lebih tua, terlena kehidupan duniawi

    Soal 2 :
    kenama tidak tercapai, karena belom ada kesadaran dalam diri manusia itu sendiri untuk menggamalkan untuk bertujuan baik dan hanya karna Allah

    Komentatar:
    perbedan kasta di masyarakan itu pasti ada, karena orang berbeda – beda, dan masih banyak orang yang belum menyadari hanya amallah yang dapat membedakan merekan.

    Wassalam

  9. Novi Permatasari berkata:

    Assalamualaikum

    Soal 1
    Hilangnya adab yakni, dimana manusia tak bisa menempatakan hal pada tempatnya atau berbuat ingkar dalam barperilaku ( kezaliman)

    Manusia tak lagi mau berpikir tentang adab dan perilakunya. Berbuat hal2 buruk yang mereka tak mau memikirkan akibatnya dan benar salahnya.(kebodohan)

    Manusia tak berpunya akal dalam segala hal didunia ini, meeka melakukan segalanya dilandasi nafsu semata. (kegilaan)

    Soal 2

    Manusia mencari ilmu tapi tak tercapai maqasid-nya.
    hal itu dikarenakan saat ini manusia mencari ilmu tanpa dilandasi dasar yang sesungguhnya, yakni mencari ridho Allah dan mencari hal yang akan menjadi manfaat bagi oramg banyak, Kita dalm mencari ilmu hanya serkedar berangkat untuk memenuhi hal hal yang sudah biasa terjadi dalam kehidupan kita. atau malah hanya untuk memenuhi gengsi kita semata.

    Demikian komentar saya. Terimakasih

    Wassalamualaikum

  10. rezki nurhikmah berkata:

    1) Zalim => dikatakan demikian karena seorang yang kehilangan adab ia tidak bias meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya dan hal itu tentunya akan berakibat pada diri sendiri dan orang lain.Ia menyakiti,menyusahkan dirinya sendiri dan orang lain.
    Gila =>salah dalam menetukan arah tujuan hidup,dia kehilangan arah tak tahu akan di bawa kemana dan hal yang ia cari dalam hidupnya
    Bodoh =>tidak tahu arti hidup yang dijalaninya,tidak tahu tujuan dari ibadah.Apa yang dilakukannya hanyalah sesuatu yang tiada arah,tujuan,guna,manfaat

    2) Hal ini menggambarkan betapa kurang bermaknanya pendidikan yang selama ini berjalan.Pada dasarnya kita memerlukan pendidikan islam yang mengikutkan tentang islam karena dalam islam lengkap tentang petunjuk-petunjuk yang syar’i.

  11. TRI WAHYU KUNINGSIH berkata:

    SOAL 1

    a. Kezaliman artinya sifat yang bertentangan dengan ajaran2 Islam dan terkadang melakukan perbuatan2 yang hanya sesuai dengan keinginan dan nafsu diri sendiri saja tanpa mempedulikan orang lain.
    Misal : dengan uang dan jabatan mereka bisa menghalalkan apa saja yang mereka inginkan walau kadang mengganggu ketentraman orang lain.
    b. Kebodohan artinya tidak pintar. Lebih lengkapanya tidak tahu mana yang baik dan benar. Baik artinya sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu. Benar artinya sesuai dengan aturan2 atau kaidah2 yang berlaku. Kebodohan tidak mengerti apa itu baik dan benar.
    Contoh : pergaulan bebas, dll
    c. Kegilaan artinya tidak sadar jiwa dan raga. Apapun yang dilakukan hanya berdasarkan nafsu dan tidak berdasarkan pada akal dan hati nurani.

    SOAL 2.

    Ritual pendidikan terus berjalan namun maqasid-ya tidak tercapai.
    Menurut saya itu karena mereka menuntut ilmu bukan karena niat mencari ridlo AlLah SWT tapi untuk meningkatkan gengsi semata. Sehingga ilmu yang dicari tidak dipelajari dengan baik sehingga tidak bisa diamalkan. Jadi mereka terus belajar untuk meningkatkan gengsi dan bukan meningkatkan kualitas diri.

  12. Denii Tiawarman berkata:

    Assalammu’alaikum

    komentar :
    sebagai orang islam kita tidak seharusnya malu untuk mengakuinya.kita harusnya malah lebih berani untuk mensyiarkan agama kita.
    kita sebagai bagian dari pada UNISSULA yang telah berdiri dengan latar belakang islam dan menerapkan BudAi dalam metode pengajarannya.kita seharusnya adalah generasi yang harus memulai budaya islam ke dalam lingkungan masyarakat agar masyarakat sadar akan keislaman mereka.sehingga tidak ada lagi anggapan dalam masyarakat bahwa agama itu semu.
    negara barat adalah negara yang tidak mengharuskan rakyatnya untuk beragama.bahkan mereka memisahkan antara agama dengan politik.hal ini bukan merupakan kebudayaan bangsa kita apalagi agama kita islam.

    soal 1

    a. zalim yang berarti tidak adil, yaitu tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kalimat zalim bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidak adilan dan banyak lagi pengertian yang dapat diambil dari sifat zalim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.
    Kedzaliman ada beberapa macam yaitu
    1. Kezaliman yang tidak diampunkan Allah, yaitu syirik.
    2. Kezaliman yang dapat diampunkan Allah, perbuatan seseorang hamba terhadap dirinya sendiri di dalam hubungan dia terhadap Allah.
    3. Kezaliman yang tidak dibiarkan oleh Allah, perbuatan hamba-hamba-Nya di antara sesama mereka, karena pasti ditun tut pada Hari Akhiroleh mereka yang dizalimi.

    b. Kebodohan, yaitu tidak bisanya seseorang untuk mengetaui tujuan hidupnya. Dalam arti orang tersebut tidak tahu untuk apa dia hidup serta apa yang harus dilakukannya dalam kehidupan ini. Dalam hal ini kebodohan akan banyak menimbulkan kerugian bagi banyak pihak. Karena saat ada orang bodoh maka orang tersebut akan melakukan hal-hal yang tidak baik.

    c. Kegilaan, yaitu suatu hal yang dilakukan seseorang diluar logika dan tanpa arah tujuan yang rasional.
    Soal2
    Maqsid tidak tercapai dikarnakan ritual pendidikan yang ada di negara kita berjalan tidak istiqomah. Tujuan sebenarnya dari suatu pendidikan adalah mendidik para pelajarnya untuk berperilaku sopan serta mengetahui norma-norma yang ada. Tapi pendidikan sekarang ini telah melupakan tujuan itu dan hanya focus agar para pelajar menjadi pandai dibidangnya dan tidak mengajarkan sopan santun yang benar.

  13. Hazmi Amudy berkata:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    1. > Kata zalim berasal dari bahasa Arab, dengan huruf “dho la ma” (ظ ل م ) yang bermaksud gelap. Di dalam al-Qur’an menggunakan kata zhulm selain itu juga digunakan kata baghy, yang artinya juga sama dengan zalim yaitu melanggar haq orang lain. Namun demikian pengertian zalim lebih luas maknanya ketimbang baghyu, tergantung kalimat yang disandarkannya. Kezaliman itu memiliki berbagai bentuk di antaranya adalah syirik.

    Kalimat zalim bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidak adilan dan banyak lagi pengertian yang dapat diambil dari sifat zalim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.

    > Kebodohan di mata saya, bukan ketidak tahuan. Bodoh adalah ignorance. Sementara ketidak tahuan justru tidak apa-apa, selama memang setelah itu belajar hingga menjadi tahu (tapi kalau ketidak tahuan menjadi perulangan kesalahan yang sama, maka kemudian ketidak tahuan berubah menjadi ‘kebodohan’. Do you get my point?). Bodoh adalah kata negatif yang digunakan atas sesuatu yang semena-mena/ ignorant , takabur, result dari sebuah aksi yang menggampangkan sebuah konteks. Bodoh itu bukan khilaf. Khilaf itu tidak sengaja (tapi kalau khilaf melulu ya itu jadi sengaja) . Bodoh itu sengaja. Namun kalau sesuatu yang terlihat bodoh itu ternyata tidak sengaja atau menjadi nasib hidup , maka saya akan menyebutnya ‘tertinggal’, ‘terbelakang’..atau ‘memiliki sebuah standard yang dibawah rata-rata”, (tapi bukan bodoh) , ini sebuah pengertian yang objective tanpa penekanan negatif. Sementara bodoh konotasinya negatif. Dan jika kita sadar, memang selalu dipakai dalam konteks negatif, tidak jarang di lengkapi dengan intonasi pengucapan yang tidak menyenangkan. Bedakanlah antara ‘suatu kondisi dimana sesuatu itu memiliki standard yang dibawah rata-rata dari sebuah konteks’, dengan kondisi ‘bodoh’.

    Stupidity alias kebodohan, implies that the attributed party is not mentally retarded but rather is willfully ignorant and/or unintelligent and displays poor of judgement and insensitivity to nuances.

    Kesimpulannya: Bodoh adalah sesuatu yang dilakukan karena pembodohan.

    > Kata kegilaan sering pula digunakan untuk menyatakan tidak waras, atau perilaku sangat aneh. Dalam pengertian tersebut berarti ketidaknormalan dalam cara berpikir dan berperilaku kurang wajar.

    2. proesnya tetap berjalan tapi tujuannya tdak tercapai

  14. uut agung s berkata:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Soal 1
    Adab adalah satu istilah bahasa Arab yang berarti adat kebiasaan. Kata ini
    menunjuk pada suatu kebiasaan, etiket, pola tingkah laku yang dianggap sebagai
    model.

    Selama dua abad petama setelah kemunculan Islam, istilah adab membawa implikasi
    makna etika dan sosial. Kata dasar Ad mempunyai arti sesuatu yang mentakjubkan,
    atau persiapan atau pesta. Adab dalam pengertian ini sama dengan kata latin
    urbanitas, kesopanan, keramahan, kehalusan budi pekerti masyarakat kota sebagai
    kebalikan dari sikap kasar orang badui.

    Dengan demikian adab sesuatu berarti sikap yang baik dari sesuatu tersebut.
    Bentuk jamaknya adalah Âdâb al-Islam, dengan begitu, berarti pola perilaku yang
    baik yang ditetapkan oleh Islam berdasarkan pada ajaran-ajarannya. Dalam
    pengertian seperti inilah kata adab.

    Jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Karena itu, adab mesti ditanamkan pada seluruh manusia dalam berbagai lapisan, pada murid, guru, pemimpin rumah tangga, pemimpin bisnis, pemimpin masyarakat dan lainnya. Bagi orang-orang yang memegang institusi, bila tidak terdapat adab, maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah. Kata Prof Wan Mohd. Nor: ”Gejala penyalahgunaan kuasa, penipuan, pelbagai jenis rasuah, politik uang, pemubaziran, kehilangan keberanian dan keadilan, sikap malas dan ’sambil lewa’, kegagalan pemimpin rumah tangga dan sebagainya mencerminkan masalah pokok ini.”

    Sikap boros dalam menggunakan kekayaan negara adalah sifat yang buruk bagi pemimpin dan dapat berakibat pada pencopotan dari jabatannya. Dalam teks Hikayat Aceh menurut Prof. Wan Mohd Nor (2007), terdapat dua kasus, dimana Sultan Seri Alam yang sangat boros dan Sultan Zainal Abidin yang zalim dimakzulkan dari kursi pemerintahan

    Soal 2

    Jika ditelusuri dengan seksama tujuan dari pendidikan nasional seperti yang termaktub dalam Undang-undang Sisdiknas, begitu sempurna potensi yang ingin ditanamkan dalam diri anak untuk menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya.
    Tapi kenyataan yang masih terlihat di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat dapat disaksikan begitu banyak generasi-generasi muda yang perilakunya menyimpang dari harapan yang ingin dicapai.
    Zaman yang memutar kehidupan memang selalu membawa perubahan dalam kehidupan manusia, namun perubahan itu juga membutuhkan respon dan daya tangkap dari kita semua, dan itu semua harus disikapi dengan bijaksana dan jiwa yang lurus, salah satu yang saat ini perlu dilakukan adalah bagaimana agar perilaku menyimpang yang banyak dilakukan generasi muda saat ini dapat ditekan atau dapat diminimalisasi.
    Salah satunya adalah dengan pendidikan karakter. Ini sangat penting dalam rangka terbentuknya karakter peserta didik yang kuat dan menciptakan generasi yang berilmu, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
    Apabila pembangunan karakter ini dibangun dengan baik, maka peserta didik dapat memiliki berbagai kecerdasan, baik kecerdasan spritual, emosional dan sosial

  15. Totok Prastyo berkata:

    1. Kezaliman Kebodohan dan Kegilaan
    1.1 Zalim kebalikan adil artinya
    Zalim (Arab: ظلم, Dholim) adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin. Lawan kata zalim adalah adil.
    Kata zalim berasal dari bahasa Arab, dengan huruf “dho la ma” (ظ ل م ) yang bermaksud gelap. Di dalam al-Qur’an menggunakan kata zhulm selain itu juga digunakan kata baghy, yang artinya juga sama dengan zalim yaitu melanggar haq orang lain. Namun demikian pengertian zalim lebih luas maknanya ketimbang baghyu, tergantung kalimat yang disandarkannya. Kezaliman itu memiliki berbagai bentuk di antaranya adalah syirik.
    Dalam Alqur-an Surat Al-Anbiya’ ayat 13 menjelaskan bahwa :

    Kezaliman dibagi menjadi 2 kategori,
    menzalimi diri sendiri (dosa dan maksiat) dan orang lain (menyia-siakan atau tidak menunaikan hak orang lain yang wajib ditunaikan). Kezaliman itu ada tiga macamnya diantaranya adalah:
     Kezaliman yang tidak diampunkan Allah, yaitu syirik.
     Kezaliman yang dapat diampunkan Allah, perbuatan seseorang hamba terhadap dirinya sendiri di dalam hubungan dia terhadap Allah.
     Kezaliman yang tidak dibiarkan oleh Allah, perbuatan hamba-hamba-Nya di antara sesama mereka, karena pasti ditun¬tut pada Hari Akhir oleh mereka yang dizalimi.
    Dalam sebuah perumpamaan Arab dikatakan, “Man asybaha abâhu fa mâ zhalam (Siapa saja yang menyerupai bapaknya, ia tidaklah berlaku ‘zalim’).” Berkaitan dengan perumpamaan ini, al-Ashma’i mengatakan bahwa frasa mâ zhalama (tidak berlaku ‘zalim’) artinya mâ wadha‘a asy-sibha fî ghayri mawdhî‘ihi (tidak membuat penyerupaan dengan sesuatu yang tidak pada tempatnya). Dikatakan pula, misalnya, “Man istara’a adz-dzi’ba, faqad zalama (Siapa saja yang memelihara srigala, ia telah berlaku ‘zalim’).” Berlaku ‘zalim’ di sini artinya melakukan tindakan yang tidak tepat.
    1.2. kebodohan

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Kebodohan adalah keadaan dan situasi di saat kurangnya pengetahuan terhadap sesuatu informasi bersifat subjektif. Hal ini tidak sama dengan tingkat kecerdasan yang rendah (kedunguan), seperti kualitas intelektual dan tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang. Kata “bodoh” adalah kata sifat yang menggambarkan keadaan di saat seseorang tidak menyadari sesuatu hal, tapi masih memiliki kemampuan untuk memahaminya.
    Istilah bodoh dapat ditempatkan seperti dalam kalimat “Seseorang memiliki kemahiran dalam matematika, tapi sama sekali bodoh dalam ilmu bahasa.” Namun secara umum, kata bodoh sering ditempatkan seperti dalam kalimat “Orang itu bodoh karena membiarkan hal itu terjadi.” Penggunaan istilah bodoh pada contoh kalimat yang kedua tersebut bermakna sebuah ucapan penghinaan yang merendahkan kualitas kecerdasan seseorang, tapi sebenarnya itu tidak tepat dalam hal makna sebenarnya.
    Setiap ketaatan yang di lakukan oleh manusia, sedikitpun tidak akan memberikan manfaat kepada ALLAH, Tetapi kemanfaatan itu akakn kembali kepada dirinya sendiri.
    Begitu juga jika manusia melakukan perbuatan kemkasiatan. Sedikitpun tidak akan memberikan Madhorot kepada ALLAH, Tetapi kemadhorotannyaakan kembali kepada dirinya sendiri.
    1.3. Kegilaan
    Gila yaitu hilangnya suatau pikiran dikarenakan penyebabnya oleh setres atau ada masalah pribadi yg di alami oleh seseorang yg sedang memiliki masalah.
    Yang mengakibatkan pikiran yg tidak terkendali dan akhirnya menjaddi berpikiran tidak waras, berperilaku aneh (tak wajar layaknya manusia biasa)

    2. Ritual pendidikan memang terus berjalan, tapi maqasid-ya tidak tercapai.
    Belalang menjadi burung elang.
    Kutu menjadi kura-kura, dan
    Ulat berubah menjadi naga.
    Dari pernyataan di atas, Itulah syair
    pujangga Abdullah Abdul Qadir al-Munsyi yng menandakan bahwa perubahan yang begitu pesat pada pendidikan pada umumnya.
    Misal universitas di eropa sangat menyanjungkan ilmunya dan agamanya, karena mereka yakin dengan apa yang dimiliki oleh agama dan pengetahuannya, dan seiring berjalannya waktu orang orang eropa bergegas mengalahkan agama islam lewat ilmu, sehingga mata dunia bias yakin dengan apa yang di miliki, dan di pelajari…
    Pembahasan akhlak yang di miliki oleh universitas universitas islam masih sangatlah jauh dengan apa yana telah di jabarkan dalam al-qur’an,
    Dalam al-qur an surat Al baqarah:146 telah menyatakan tentang pengetahuan yang harus di ungkapakan akan kebenarannya, sehingga kebenaran itu akan terwujud sesuai dengan apa yang telah di garis besarkan.

    Jika orang islam itu mendapatkan ilmu dan di amalkan sesuai dengan apa yang di haraokan oleh ilmu tersebut sungguh mulia pendidikan islam di dunia, namun
    Pada umumnya penyelewangan tentang ilmu itu masih saja menyelimuti pelajar pelajar islam pada kususnya…

    Terimakasih atas yang di berikan oleh bapak,
    Wassalamualaikum, Wr wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s